Kamis, 30 Oktober 2014

Blog Bara (3)

Jum'at sore, hari yang cukup menyebalkan sekaligus menyenangkan untuk Bara. Kuliah sore yang bahkan tidak jelas ada atau tidak. satu yang sedikit menghiburnya, bertemu dengan Lian. di mata kuliah itulah mereka bertemu, meski di mata kuliah lainnya mereka bisa bertemu namun tidak semenghibur hari Jum'at yang  penuh perjuangan (bagi Bara).

Jum'at ini Bara datang lebih awal dari biasanya. kelas masih sepi, hening. ia memutuskan untuk mempersiapkan perlengkapan kuliah, LCD dan spidol. cukup lama ia menunggu, sampai akhirnya ada kabar bahwa tidak adak kelas. beberapa saat Bara mengira ia telah mempersiapan hal yang sia-sia, tapi beberapa menit kemudian ia merasa beruntung, karena Lian bersedia membatu tanpa diminta.

Sentak Bara tersadar, mengapa ia harus senang? mengapa bertemu Lian menjadi hal yang membuatnya senang?

~!@#$%^&*()_+

hari pengumpulan buku sumbangan sudah ditutup, tumpukan buku di kolong Bara semakin tak terbendung. itu kesalahannya sendiri, sengaja mengumpulkan sekaligus di hari terakhir. Bara memegang buku sumbangan kelas 7, sedangkan Bastian kelas 9, untuk kelas 8 telah dikumpul ke perpustakaan langsung.

rasanya ia ingin mengeluh, mengapa bukunya begitu banyak. tapi ia tidak bisa berbuat demikian karena itu kesalahannya sendiri. dengan amat terpaksa ia menata buku dalam dua tumpukan, dan tinggi tumpukan itu mencapai lehernya. membuatnya berjalan perlahan untuk menuruni tangga. Hana, teman yang selalu memberi pinjaman catatan sejak ia duduk di pojok belakang menawarkan bantuan, tetapi Bara menolaknya karena bel masuk akan segera berbunyi, dan ia tidak ingin merepotkan Hana.

Sesampainya di depan perpustakaan Bara kaget, pepustakaan tutup karena ada study banding dengan sekolah lain. sebenarnya ia sudah diberitahu oleh ibu penjaga perpustakaan bahwa akan ada study banding, sialnya Bara tidak tahu kalau hal tersebut mengakibatkan perpustakaan tutup.

Alhasil dengan kesal ia duduk di samping rak sepatu, meregangkan otot tangan yang pegal karena tumpukan buku yang di bawanya tadi. soalah ingin mengalahkan bel yang tengah berbunyi, Bara berteriak sambil menempelkan pipi kirinya diatas sebagian buku di pangkuannya.

Bagaikan hantu yang tiba-tiba muncul, Bastian langsung mengangkat sebagian besar tumpukan buku di samping kiri Bara. membawanya tanpa mempedulikan Bara yang terdiam melihat sikapnya.

   "Mau dibawa kemana?", tanya Bara dengan heran.
   "ikut aku!", pintanya singkat

Bara yang bingung mengikuti Bastian dari belakang, membawa sebagian kecil tumpukan buku yang tadi dipangkuannya. Sesaat Bastian menengok ke belakang, seakan ingin memastikan apakah Bara mengikutinya atau tidak.

Langkah mereka terhenti di depan ruang OSIS yang tengah sepi. Bastian menoleh pada Bara dan meminta tolong pada Bara untuk membuka pintu sebab tanganya penuh dengan tumpukan buku, sedangkan Bara masih memiliki tangan yang bebas.

Bastian masuk, lalu menghilang dibalik lemari yang menjadi sekat di ruangan itu.

   "taruh bukunya di sana!", ujar Bastian dekat lemari.
   "di sana? di balik lemari itu?"

Seakan dapat membaca isi pikiran Bara, Bastian menjulurkan tanganya dengan senyum, meminta sisa tumpukan buku dari tangan Bara.
   
    "Untuk sementara bukunya dititip ke ruang OSIS, lusa nanti pas perpus buka kamu bisa ambil kemari"
    "oke", ujar Bara singkat di depan ruang OSIS yang tidak ia masuki. "kok sepi, bukannya akan ada 17 Agustusan?", lanjutnya sambil terus melihat-lihat isi ruangan yang penuh tumpukan dimana-mana.
    "Semua persiapan sudah hampir selesai, tinggal mencari beberapa alat saja", jelas Bastian yang kemudian tersenyum.

Senyum Bastian seakan membuat detik di kehidupan Bara menjadi terhenti sejenak, Bara bingung mengapa, tapi itulah yang terjadi, senyum Bastian begitu sulit untuk ditolak, terlebih hal tersebut jarang terjadi.  

Jumat, 03 Oktober 2014

Talkshow Creative Writing bersama Raditya Dika

     Sebelumnya sorry nih bang Dika, untuk tulisan kali ini gue ngomongin lu boleh yo? *Semoga bang Dika gak tau. :p

     So.......... Selasa kemarin ada talkshow Creative Writing bersama Raditya Dika di fakultas dimana gue diguyur ilmu (karena menimba ilmu udah mainstream), yang diadain BEM bersama Alumi. ini talkshow ke dua gue yang pembicaranya bang Dika, dan sumpah gue selalu ngakak selama acara, gak peduli yang pertama maupun yang ke dua.

     Ceritanya kali ini gue pengen bersuara, bertanya aja biar eksis (gaya dikit :p), tapi boong, karena gue seriusan nanya nih, ya meski pertanyaan gue gak seajaib nan semembahana Dila, anak Farmasi yang kece badai karena bikin seantero balsid ngakak guling-guling, apalagi pas ditanggepin sama bang Dika dan Lopez brother. oh ya, di talkshow kali ini ada Lopez brother juga, mereka jadi moderatornya. tau kan Lopez brother? Lopez brothet itu sebutan gue sih, soalnya gue gak hapal nama youtubenya (sorry mas bro). intinya yang bikin youtube 'Modus' itu loh, gak tau? cari tau gih, itung-itung jadi bahan modus sama kecengan. :p

     Pertanyaannya simple, how to make us stay on the line when we write a story? (sok bahasa Inggris, padahal masih salah). Bagaimana cara untuk tetep fokus dengan jalan cerita yang sesuai, itu lah intinya. sebenernya udah tau jawabannya di talkshow sebelumnya, tapi pengen tau gimana jawaban kali ini, sama atau beda. selain itu pengen banget nanya terkait komik selain komik Kambing Jantan yang udah lama hadir, apakah ada niatan buat bikin komik-komik lainnya? tapi gak jadi nanya hal itu, soalnya tangan udah gemeter diliatin banyak orang. (I hate this feeling, so much...... setidaknya udah nanya -_-). sebelum kepertanyaan di Dovi kepo banget, pengen tau aja status orang (dibaca: punya pacar atau belum). gue penanya ke tiga. penanya pertama jawab terkait status, "adalah.......", yang berlanjut dengan pertanyaan yang berhasil ngocok perut, seakan lagi nonton stand up comedy secara live gitu, itulah Dila Farmasi yang lucu banget dan jadi artis di hari itu. terus penanya ke dua jawabnya, "double", si Dovi asal celetuk alay pula yang bikin ketawa lagi. sumpah, momen talkshow hari Selasa itu full wiht laught.  dan tibalah giliran gue, gue jawabnya sejelas mungkin dan sesingkat mungkin, "udah punya pacar", biar gak lama-lama (gaya). beberapa temen sedepartemen yang hadir dan duduk deket gue langsung bilang cie atau sekedar senyum-senyum nakal. hahahaha....... :p (sesekali aja gak papa kan!?)

     Gak ada bahasan lebih tentang hal itu, tapi itu seakan hari proklamasi gue menyatakan ke seantero balsid, yang kebanyakan anak satu fakultas, bahwa gue sudah punya pacar. setelah dari talkshow dan stay di departemen banyak deh yang cie cie-in. (cie...........). Malu? gak sih, sebenernya lebih ke arah takut, takut sama tanggapan orang karena gue pernah bilang gak mau pacaran. tapi nyatanya pacaran. tapi tetep seneng, karena banyak yang ciein, artinya banyak yang peduli (ke-PD-an, tapi ya sudahlah).

     Jaman jomblo sudah lewat, jaman punya pasangan telah tiba. mungkin gitu kali yo yang bang Dika maksud ketika sang Kambing Jantan dateng talkhsow membawa sesosok gadis cantik bersamanya (inget, bukan Kambing perempuan). bang Dika kan identik dengan stand up comedy yang selalu menggelisahkan masalah pacaran zaman sekarang yang norak bin ajaib seakan dunia milik berdua yang lainnya ngontrak, atau seakan-akan yang pacaran itu lagi jadi bintang utama di suatu film box office yang diputer di bioskop dan yang lain jadi penonton antusian sampe ngantri panjang beli tikek. GOD, soal norak itu gue setuju, meski kesannya iri atau sinis but terkadang itu lucu, lucu pake banget malah spesial pake telor. gue kira dengan adanya gadis nan cantik itu bang Dika bakal berhenti mempermasalahkan status jomblo, taunya kagak, tapi jadi lebih lucu men, kesannya norak tapi gokil badai, gak bosen deh buat dateng ke talkshow sejenis gini, apalagi yang ada bang Dikanya.

     ceritanya kan bang Dika udah gak jomblo lagi nih, terus bawa pasangannya ke talkshow kali ini, terus terus itermezo di talkshow kali ini beda gitu dengan intermezo di talkshow sebelumnya, yang sebelumna berisi berbagai 'koreksi' bagi mereka yang pacaran dan yang kali ini 'tips dan saran' (yang bikin patah arang duluan kalo dengernya) bagi mereka yang lagi PDKTan (kelamaan). tapi over all semua masih terasa sama, taste, feel, atau atmosfernya masih berkesan bang Dika banget. jujur kacang ijo nih, gue lebih seneng dengerin bang Dika secara live, karena feelnya nyampe ke gue, itu bagi gue yo, makanya gak kapok buat dateng. :D

     sebelum lupa, kalo kata bang Dika selalu ada fase ketika seseorang minta "doain aja". jadi penanya ke empat itu anak Fisip, spesial case karena dia anak Fisip sendiri di sana jadi dipersilahkan nanya tanpa rebutan nanya. lanjut nih, kan tetep tuh si Dovi kepo badai membahana, pengen tau aja status orang, padahal sudah dialihkan pembicaraannya, tapi terus diingetin. nah, yang anak Fisip ini bilang "Doakan saja", eh bang Dika bilang "lagi di PHP-in ya.......", kapret emang tuh orang, bukannya didoain malah diledekin, ditakut-takutin malah. hahahahaha..........

     fasenya gini, 1. ada saat dimana lu mulai deket sama seseorang dan jadi terbiasa, 2. terus lanjut ke fase dimana lu mulai gak percaya ucapan orang di sekitar lu yang ngejelekin si doi, 3. lalu ada fase dimana lu digantungin a.k.a di PHP-in dan minta didoain, 4. yang terakhir akan ada fase kecewa karena lu akhirnya ditinggalin. parah tuh, kan gak selalu gitu yo?! tapi entah mengapa itu jadi berkesan lucu dan bikin penghuni balsid ketawa lagi, termasuk si korban. hahahaha........ gokil dah emang gokil.

     so, inti dari post kali ini adalah kalo talkhsow bareng bang Dika itu seru (gak boong, tapi ngibul, tapi serius lucu loh), itu bukan intinya sih, tapi mayoritas nyeritain itu. jadi inti yang sebenarnya adalah mau kita punya atau gak punya pacar, kesenangan itu bisa tetep didapet. bahkan hal yang menyedihkan akan menjadi hal yang menyenangkan ketika kita memandangnya dengan positif dan dengan cara yang juga positif. selain itu, punya pacar gak akan selalu merubah diri kok, yang lebih banyak terjadi adalah mereka yang punya pacar akan lebih menjaga perasaan pasangannya, kayak yang dilakuin bang Dika dengan menyesuaikan materi intermezo-nya dengan topik yang agak beda tapi gak jauh-jauh banget. (sebenernya gak tau sih sang gadis pacar atau bukan, intinnya ada di sana dan bareng bang Dika. *jir gue ngegosip). tapi untuk pasangan norak akut casenya beda, karena syarat gak punya kontrakan berupa bumi gak terpenuhi. satu lagi, kalau ada sesuatu yang ingin dilakukan, maka lakukan. keberanian itu didapat bukan hanya dari dorongan orang sekitar, tapi juga dari diri sendiri. secere apapun rasa takut itu kalau kita gak pernah coba untuk berani, pastinya kita akan terus-terusan takut. memang ketakutan tiap orang beda-beda, tapi bukan berarti kita harus mengandalkan kalimat itu untuk tetap stay di ketakutan yang sama (takut dengan aturan Tuhan itu spesial case, karena itu sifatnya harus jika ingin masuk surga. hehehe...)

Jumat, 05 September 2014

Post Lapuk


Holla……
Long time no post, hehehehe….
Kali ini gue bakal menulis sesuatu yang terinspirasi dari cerita ade gue, namanya Firli (panggil aja gitu), lagi pula cape rasanya dan butuh waktu cukup lama buat nginget masa lalu.

Jadi gini kan ade gue, Firli, dia sekolah di SMAN 5 Depok yang jauh dari rumah. (rumah kami di Depok 2 dalem). Jadilah dia nginep di rumah om, di sekitar Parung Bingung dan pulang cuma pas Sabtu – Minggu atau hari-hari libur aja.
Sekian banyak pertemuan gue sama Firli, sepertinya pas kelas 2 semester 2 inilah Firli paling banyak cerita tentang sekolahnya, apalagi kelasnya yang ajaib bin seru. Sebelum-sebelumnya Firli diem-diem aja dan ngerasa bosen sekolah di sana, maklumlah jauh dari rumah dan nginep di rumah om.
Ini tulisan berisi rangkuman keseruan dia di sana.

~!@#$%^&*()_+

            Seperti biasa Sabtu siang Firli pulang ke rumah dan balik Minggu sore, tak ada ekspresi lain kecuali mata ngantuk dan kepanasan. Firli selalu bilang kalo Depok itu lumayan panas dan macet, sampe-sampe butuh 2 jam dari Sawangan ke Depok dalem. Firli pun tepar di tempat tidur.

            Malemnya gue sama dia cerita-cerita, biasanya gue yang mulai. Kebetulan pas tadi di kampus gue ketemu sama cowo gwanteng yang nolongin gue buat beresin kertas-kertas yang berceceran di perpus pusat (FTV abis, tapi akhirnya gak jadian), ceritalah gue ke Firli.

            “Li, tadi mbok kayak lagi di FTV. Masa pas mbok lagi ke perpus pusat, kan mbok gak sengaja salah ambil bagian map jadi isinya jatoh semua. Eh taunya ada cowo gwanteng nolongin, mana dia senyum lagi. Aaaahh………. Lucu banget lah. Mbok gak tau namanya siapa tapi mbok inget bajunya warna apa, biru muda. So sweet lah”, buka gue dengan penuh ekspresi.

            “Terus gimana? Bakal ketemu lagi gak? Baju biru muda? Emang cuma dia yang bajunya biru muda?”, reaksinya penuh tanya.

            “Terus mbok masuk lift dan pas liftnya di lantai 2 kita ketemu lagi, eh dia senyum lagi. Hohohoho……………………….. tapi abis itu hilang begitu saja”, lanjut gue yang penuh semangat lalu mengendur.

            “Yah…… kirain abis itu kenalan. Ketemuan lagi, jadian deh. Abis itu move on dari si Perang”, komentarnya seperti kereta ekspres. “Mbok, masa aku dideketin sama anak kelas lain. ngeselin deh mbok. Jadi dia itu pemalu parah, masa tiap kali ketemu dianya kayak pengen ngilangin mukanya, sekalinya dipegangin temennya dia malah kayak patung gak bersuara.”, tambahnya membuka cerita baru.

            “Wah, yang nama tuh orangnya? Kasih tau dong kasih tau……. Akhirnya ditaksir orang, gak disangka anak kecil lagi. Uhuk…. Lanjut…..”, ujarku kembali bersemangat, karena tumbenan dia mau cerita panjang lebar tentang oarng-orang di sekolahnya.

            “Terus dia coba cari nomor hpku, awalnya dia nanya sama Linda, tapi Linda gak punya nomorku. Untungnya. Terus masa tiba-tiba ada DM dan ternyata dari dia, minta nomor aku”

            “Lah, kok tau dia minta nomor kau? Oh iya, siapa namanya? Ganteng gak? Pemalu? Ah…….. cie……”

            “Dia yang bilang ke aku pas di DM, kalo dia nanya Linda tapi Linda gak punya nomor aku. Kayaknya dia nyari tau aku ke Koi, si manusia setengah ikan, makanya anak-anak sekelas ngeledik aku Ubad… Ubad….”

            “Oh, namanya Ubad toh. Cie………………………………. Koi? Manusia setengah ikan?”

            “Namanya Oki, tapi anak-anak melesetin jadi Koi. Dia ketua kelas yang gaje banget tapi seru.”

            “Cie…………….. cakep gak? Si Ubad cakep gak?”, tanggapan gue yang gak berubah, cie terus-terusan.

            “Dua-duanya biasa aja. Yang satu pemalu, yang satu gitu. Parahnya si Ubad gini mbok, masa kan aku bilang kalo mau nanya ditweet aja, soalnya kalo DM jarang dibuka. Aku kira dia ngerti soalnya dibales oke. Baguslah. Abis itu beberapa hari kemudia di ngtweet aku, tau gak apa isinya?”

            “Aku sayang kamu……. Uhuk…… cie……… hahahaha……….”

            “Apakah, mending kalo gitu mbok. Ini isinya cuma dua kata yang ngeselin, ‘cek dm!’, tweet apaan tuh? Kan aku berharapnya dia tweet apa kek yang gak ada hubungannya sama DM. Ini malah cek dm lagi.”, Ujarnya penuh ekspresi yang buat gue ketawa terbahak-bahak, ngakak gak abis-abisnya.

            “Coba dijadiin materi stand up comedy tuh, lucu parah. ‘Jadi gini, gue di deketin cowo yang pemalunya nak ujuh bile. Wajar sih, anak sekolah. Dia coba cari nomor gue ke temen sekelas gue, taunya gak dapet karena yang sekelas sama gue itu gak punya. Tiba-tiba anak kelas pada tau kalo itu cowo cari nomor gue. Dan si cowo ngeDM gue buat basa-basi tentang ledekan anak-anak sekelas ke gua. Udah selesai ngebahas tentang ledekan, giliran gue yang ngebahas tentang DM. Gue bilang jangan ngeDM, tweet aja, soalnya DM jarang gue cek. Nah kan gue kira itu cowo beneran ngerti maksud gue tentang DM, soalnya dia bales oke. Beberaa hari kemudia dia ngtweet gue, dan lu semua tau apa isinya?! ‘cek dm!’. Bayangkan betapa langkahnya peristiwa seperti ini! Bener sih dia ngetweet gue, tapi tetep aja gak bisa lepas sama yang namanya DM. Gue rasa dia terobsesi sama DM gue, bukan sama gue.’ Gitu. hahahahaha….”, saran gue dan langsung memeragakan gimana kalo materi itu dijadiin stand up comedy beneran. Untungnya orang-orang rumah udah pada tidur, tinggal gue sama Firli yang masih asik sama obrolan yang mengalir gitu aja.

            Kita ngaka abis-abis malem itu, sampe gak ngerasa kalo jam udah nunjukin pukul 2 pagi. Sebernya kita gak sadar, tapi ibu kayaknya terganggu dengan ketawa-ketiwi kita, jadilah kita tidur.

Intinya, Firli udah mulai ngerasain keseruannya. Itu bagus buat dia. >D

~!@#$%^&*()_+

            “Mbok, besok gak kemana-mana kan?” – “Gak”

Yap, itulah kata-kata yang sering diucap Firli dan gue kalo malem minggu gak ada obrolan karena Minggu nya kita punya tugas nyuci baju tiga hari kemarin yang udah numpuk. Firli yang nyiapin, nyemplungin ke mesin cuci, nganginin pakaian yang udah dikeringin sama mesin cuci. Gue ngebilas dua kali baju dan ngeberesi kalo udah kelar. Serunya pas kita nyuci bukan meres, gantung atau main airnya, tapi obrolannya.

            “Masa kemarin di sekolah aku sial banget, beneran sial”, untuk pertama kalinya Firli memulai percakapan terkait sekolahnya.

            “Sial gimana?”, responku sambil membilas cucian di dua ember yang berbeda.

            “Jadikan aku bawa minum nih. Pas lagi ada guru aku pengen minum tapi gak enak, jadinya aku taro lagi, eh malah tumpah. Mau gak mau aku minta izin ke guru buat ngambil pel dan ngepelin bagian yang kena tumpahan. Aku masih ngepel sampe akhirnya sang guru keluar, belum istirhat tuh. Karena kesel aku meresnya ke genteng aja tapi abis itu karena takut ada orang di bawah, jadinya aku peres ke tong sampah. Gak lama dari itu, katanya ada kakak kelas yang dateng nanyain ke ketua kelasku, si Koi, siapa yang numpahin air. Kan akunya lagi kesel, jadi bawaannya emosi apalagi si Koi ngeselin banget kayak ngajakin ribut. Di pikiranku maksud si kakaknya numpahin air adalah yang numpahin air di kelas tadi, terus kan aku masih gak konek jadi gak nemu hubungannya sama si kakak kelas. Si Koi ngeselin parah lagi, jadinya aku gak minta maaf malah nyolot banget, ‘dih, apa hubungannya numpahin air sama dia, lebay banget sih nih kakak kelas’, abis itu aku melengos gitu aja lanjut ngepel. Sumpah itu bener-bener gak sadar. Gak lama setelah itu, aku baru konek kalo yang dimaksud itu kakak kelas peresan pel, bukan air di kelas yang gak sengaja tumpah. Aduh, di disitu aku langsung panik dan gak enak sama itu kakak kelas, mana itu kelas tiga pula.”, ceritanya sambil ngegantung jemuran.

            “Cakep gak tu kakak kelas? Cie, berasa FTV abis…….. gini-gini kau minta maaf langsung, abis itu jadian deh. Uhuk…”, ujar gue sambil meres baju-baju di bilasan terakhir.

            “Apaan, aku lupa mukanya. Iya kali aku minta maaf langsung, gimana ceritanya, yang ada disangka caper dan cari perhatian lagi. Boro-boro pacaran , orang pas aku tanya Koi siapa nama kakak kelas tadi dia malah nakut-nakutin kalo kakak kelas itu nyeremin. Aa…. Parahlah sialnya.”

            “Serem-serem tapi tertambat di hati. Uhuk….., gak sial, cuma kurang beruntung.”, ledek gue sambil ngelurusin pinggang yang serasa mau copot karena kelamaan duduk.

            “Pas pulangnya itu kan ada jurnalis nih. Lagi ngumpul-ngumpul taunya si Ubad lewat. Eh, sama si Koi narik-tarik Ubad nyuruh masuk. Aku mah biasa aja, jadinya reaksinya biasa aja. Nah si Ubad malah diem kayak patung. Terus kan si Koi nyontohin ke Ubad ‘hai Firli’, ya aku ladenin, ‘hai Koi’. Terus si Ubad bilang hai Firlinya kayak suara robot, abis itu pergi. Sebenernya itu bukan termasuk sial, biasa aja. Biasa ada fans. Eh taunya Ubad ngetweet, bilang maaf soal ‘hai’ pas jurnalis tadi di tweet aku yang isinya ‘hari ini sial’, padahal kan bukan karena itu”

            “Alah-alah, fansnya cowo DM. Hehehehe… tapi selamat yaw, akhirnya punya fans atau malah jangan-jangan si manusia setengah ikan juga fans. Hohohohoho…”

            “Mana mungkin, si Koi itu ngeselin. Masa nih ya, kan si Ubad pergi nih. Nah masih ada Erwin temen segengnya yang sekelas sama aku dan Koi, diajakinlah si Erwin sama Koi buat ikut jurnalis biar si Ubad juga ngikut. Erwin bilang gak ada cewe cantik di jurnalis. Melda, temen sejurnalis nyeletuk bilang kalo aku cantik. Widih, terbang tuh aku. Pas lagi terbang gitu si Koi nyanyi lagu Cherrybell yang You Are Beautiful, akunya ngeladenin. Dia nyanyi aku nari tariannya. ‘you are beautiful, beautiful. Kamu cantik cantik dari mananya?’. Kampret itu anak malu banget aku. Mana di situ ada ade kelas pula, hancur sudah harga diri di depan ade kelas. Ngeselin banget itu anak. Baru aja diajak terbang, kirain mau ditambah terbang eh malah dijatohin dalem banget”

            Untuk ke sekian kali gue ngakak abis dengan cerita plus eksresi yang kocak sangat dari Firli. Dia cantik kok, sumpah deh.

            “Terus nih ya, pas waktu itu pulang kan aku jalan ke atas sendiri. Di sana ada Ubad naik motor, tapi dia nutup helmnya dan pergi gitu aja. Aku sih bodo amat. Abis itu ada Koi juga naik motor, karena aku kenal lumayan deket, ya aku panggil minta nebeng. Tapi ada ngobrolnya dulu. ‘gue heran kenapa Ubad bisa suka sama lu, cantik mananya sih?’, kampret itu orang. Aku bales aja, ‘emang situ cakep? lu gak tau aja, lalo lu tau lu bakal kelepek-kelepek sama gue. Udah urusin aja Vina, sang kakak kelas yang sayang banget sama Okiku’. ‘tuh kan, lu liat Vina. Gak gue apa-apain bisa begitu ke gue’. ‘lu pelet, udah ah. Gue nebeng sampe atas’. Eh, taunya pas udah naik, si Ubad malah balik ke arah aku. Terus besoknya di Koi malah ngeledek kalo si Udab marah gara-gara dia ngebonceng aku. Lah, salah dia sendiri kenapa gak nawarin malah lewat gitu aja. Aku kan gak begitu kenal. Lagi pemalu banget, gak greget”, lanjutnya lagi, tanpa mengurangi standar eksresi.

            “Kayaknya makin lama makin seru Li. Coba certain tentang anak-anak kelas kau.”, requestku untuk memperpanjang pembicaraan.

            “Jadi di kelas itu banyak orang-orang unik. Ada dou kocak, cewe yang cablak banget. Yang satu cablak yang jomblo, Mira, dan yang satu lagi cablak yang udah relation, Hana. Pokoknya kalo mereka ketawa, pasti aku ketawa. Jadi kan pas musim ujan kemarin beneran dingin tuh, gak tau kenapa aku jadi gampang banget beser, sering banget malah pengen boker. Terus kan si Koi sama si Erwin suka banget ngeledekin aku tuh, pokoknya kalo kipas nyala dan lagi dingin, hasrat boker beneran dahsyat. Sebenernya gak pengen banget ketahuan si Koi kalo pengen matiin kipas, tapi akhirnya ketahuan juga. Jadilah aku diledekin tukang beser. Bodo lah, yang penting lega dan lain kali gak ketahuan. Tapi rasanya tetep pengen bales dendam sama si Koi, dan akhirnya balas dendam kesampean. Aku berhasil ngeledek dia, si raja beser. Eh gak lama dari itu banyak anak kelas yang ikutan beser, tapi si Mira frontal abis. Kan waktu itu masih ada guru terus dia gak bisa diem, pas ditanya sama gurunya kenapa, si Mira bilang kalo dia mau beser dan pengen banget ke kamar mandi. Gurunya juga kocak, masa si Mira dikerjain. Sebelum ke kamar mandi dia dikasih pertanyaan dan langsung bener. Sempet-sempetnya pula si guru komentar, ‘kalo lagi beser kamu pinter ya Mir, lain kali besernya pas ulangan aja gimana?’. Sumpah itu kocak abis, soalnya biasanya Mira yang suka komentar gitu. Selain itu kan biasanya aku ucap ‘gue bingung’ taunya Mira langsung julurin tangan sambil ngenalin diri dengan gaya maskulin yang cool dahsyat ‘gue Mira’, hampir semuanya yang ada kata ‘gue …’, si Mira selalu ngenalin kayak gitu. Sampe akhirnya di bilang ‘gue males’, aku balikin aja ke dia ‘gue Mira’ dengan gayanya yang maskulin cool, yang lain ngakak dan Mira ngerasa ‘Kena deh’. Seru lah…”

            “Kalo yang udah punya pacar gimana?”

            “Kalo Hana beda lagi, jadi pernah tuh Wildan, pacaranya, ngeliatin dia di seberang meja Hana. Terus Hana nyeletuk ‘kenapa liat-liat, suka?!’, karena suaranya gede banget, jadilah anak-anak pada nengok dan suasana jadi hening. Si Wilda ngeladenin, ‘gak suka! Cinta!’, riuh kata ‘cie………………….’ menggema di kelas ngedenger kalimat yang singkat tadi. Abis itu mereka saling tersipu malu gitu, padahal kita semua udah tau kalo mereka pacarana. Sumpah koplak abis itu pasangan, lucu……………..”

            “Lagi-lagi……… yang lainnya”, pinta gue kayak anak kecil meminta permen.

            “Namanya Rio, salah satu harta karun di kelas. Gantengnya itu loh bikin ‘wow’ lah pokonya. Dia itu kocak. Kan ulang tahunnya masih setengah abad lagi tuh, masa dia udah request kado cashing hp warna ungu. Banyangkan, warna ungu! Awalnya aku kira jam yang dia pake itu jam temen yang cewe, soalnya warna ungu. Taunya itu jamnya dia, dia suka warna ungu. Anak sekelas julukin dia ‘pria ungu yang gak homo’. Nah Rio itu mantanya Wiwit yang fanatic banget sama segala sesuatu berbau Korea. Aku gak tau mereka putus karena apa, tapi yang jelas anak sekelas masih sering ngeledekin mereka CLBKT, Cinta Lama Belum Kelar tapi Tamat. Audah mereka gimana. Ada cowo ganteng yang suka ungu, ada juga cowo basket yang suka sama guru Biologi, namanya Juhan. Ceritanya guru Biologi itu katanya mirip aku, jadilah Juhan ngangkat aku sebagai anak secara sepihak dan bu Lili sebagai istrinya. Kalo misalkan bentar lagi pelajaran Biologi Juhan sering banget ditanya Koi, ‘kira-kira istri lu bakal dateng atau gak?’. ‘semalem dia pulang kemaleman makanya gue kunci di rumah biar istirahat, kasian Firli nangis semaleman kangen sama mamanya. Iya gak Li?’, katanya Juhan gitu, ya aku ladenin aja, ‘makanya papa sama mama jangan berantem mulu, kasian sama aku. Aku gak mau papa mama berantem mulu.’ abis itu ekspresi kayak muntah gitu karena gak bisa nahan mual manggil Juhan papa.”

            “Cie…. Papa Juhan, mama Lili. Nilai Biologi bagus terus dong? Cie……. Jadi dokter aja kalo gitu”, ledek gue.

            “Iya kali papa Juhan. Pernah kan kemarin itu ulang tahunnya Juhan, dan hari ini ulangan Biologi. Juhan bilang di depan kelas ‘sorry ya guys, karena keriuhan pesta semalem istri gue marah makanya hari ini dia lampiasin pake ulangan, iya kan Li?’, sumaph PD banget itu anak. ‘iya nih, parah nih papa. kelar udah nih, mana aku belum belajar gara-gara semalem berisik banget. Udah nih kena marah sama mama’ aku ladenin gitu aja, anak sekelas malah nyorakin. Serulah itu kelas.”

            “Ajaib yo kelasnya, ada lagi gak? Kayaknya unik-unik banget. Antik ey, koleksi satu boleh tuh? Beli dimana?”, timpa gue makin amazing dengan kelucuan anak sekolah yang gue kangenin.

            “ada lagi, si Edwin temen segengnya Koi tuh ganteng mbok, tapi nasihnya tragis jadi pelampiasan Karin anak sekelas Ubad. Karin itu pacarnya Bayan, anak jurnalis yang waktu itu aku certain mbok. Mereka putus kan tuh, abis itu tiba-tiba Karin jadian sama Edwin, dan kemudian dengan tiba-tiba juga mereka putus. Jelas banget kalo Edwin cuma jadi pelampiasan. Edwin kan sering banget tuh ngeledekin aku ‘cie Ubad….’, aku bales aja ‘yang sabar ya Win, perlu pundak? Sini, pundak gue kosong’. Dia gak bisa bales, cuma bisa bilang sialan. Hahahaha….. seru deh pokoknya”

            “Cie yang udah seru…. Baguslah. Coba kakak kelas yang gak sengaja kesiram air pelan cakep Li, udah gitu baik dan care sama kau. Udah itu fix jadi FTV. Untung aja cowo, bukan cewe. Kalo cewe abis sisa masa sekolah berurusan sama itu geng cewe yang gak jelas, kayak mbok dulu. Sampe-sampe dikunciin di kamar mandi.”

            “Untung aja di sana gak bisa ngunciin dari luar, tapi bisa aja dicegat di pintu keluarnya. Untunglah bukan cewe.”

~!@#$%^&*()_+

Sebenernya post kali ini berisi tentang obrolan gue sama ade gue, dan semua tokoh disamarkan, termasuk nama ade gue sendiri, Firli. Intinya gue cuma mau nyampein kalo kadang masa SMA itu gak selalu akan menyenangkan dari awal kita masuk, bisa aja pas kelas 2 baru seru seperti yang ade gue alamin. Selain itu, cuma mau bilang kalo kadang kita perlu bicara sama saudara kita. Kalo emang gak biasa ngobrol, awalin aja dengan basa-basi dulu buat pecahin kecanggungan kalian. Usia kadang buat kita semakin jauh dengan saudara kita, tapi itu bukan alasan untuk kita gak berusaha mengenal saudara kita lebih jauh. Perhatian gak harus diperlihatkan secara frontal, obrolan sederhana juga bisa membuat kita tau bahwa kita masih dekat.

Rabu, 09 Juli 2014

Detik (Prolog)

Cairan infuse terus menetes secara perlahan mengalir ke dalam tubuh yang tak sadarkan diri, penunjuk detak jantung yang berritme sengan stabil menandakan bahwa tubuh itu masih menghembuskan nafas. Sosok pria tua menatapnya penuh kasih dari balik jendela kaca yang berjarak dua meter dari raga yang masih menutup mata.

Perlahan tapi pasti suara langkah mendekati pria tua itu, jas lab nan putih rapih memberikan identitas yang tak perlu dipertanyakan lagi. Dokter muda itu meminta waktu si pria tua untuk membicarakan kondisi tubuh yang terbaring di sana.


          “Apa pihak keluarga sudah datang?”
         
            "Saya keluarganya, Dok."

~!@#$%^&*()_+

Blog Bara (2)

                “abis ngapain Ra?”, tanya Ake pada Bara yang baru saja duduk di sebelahnya.

                “kamar mandi”, jawabnya singkat.

                “lama banget, di lantai berapa? Satu?”

                “iyo………”

Bara memang ke kamar mandi dan benar di lantai satu, meski sebenarnya kelas mereka di lantai empat. Alasan yang cukup sederhana, Bara ingin tahu apa Lian ada di kelas atau tidak. Jika ada, ya sudah. Jika tidak, ya sudah. Kelas Lian di lantai tiga, dan ada jendela di dinding bagian atasnya yang membuat Bara bisa melihat isi kelas saat menuruni tangga. Kebiasaan yang baru saja ia biasakan. Sekedar melihat Lian dari jauh lalu tersenyum sendiri.

~!@#$%^&*()_+

Tumpukan buku terbenam di kolong meja Bara, menanti untuk di setor ke perpustakaan sekolah, tempat pelarian terbaik saat enggan ke kantin.

Hanya beberapa anak yang cocok dengan ibu-ibu penjaga perpustakaan, salah satunya Bara dan Bastian, anggota OSIS yang tidak banyak bicara.

Bara cukup beruntung bisa masuk SMP (yang katanya) terfavorit di kota. Ia masih seakan bermimpi masuk sekolah itu, begitu besar, megah, dan ramai. Cukup dapat dimaklumi karena SD tempat Bara bersekolah tak lebih dari sebesar lapangan futsal di SMP itu dengan jumlah siswa yang tidak begitu banyak.

Di sekolah ini terdapat anak-anak terkenal yang sangat dihindari olehnya. Selain malas, ia juga ingin tenang (arti sebenanrnya). Sudah cukup menguras emosi berurusan dengan anak-anak kelas, dan ia enggan menambahnya lagi.

Awalnya Bara dan Ani teman satu meja, tapi karena beberapa hal Ani megusirnya dan membuat Bara terkucilkan diantara beberapa ‘geng’ anak perempuan yang membuat Bara semakin tidak betah di kelas.

Meja yang dikuasai Ani adalah meja Bara, Anilah yang diundang tapi Anilah yang mengusir. Tapi Bara tak mau ambil pusing, toh ia masih bisa bekomunikasi dengan beberapa anak (dari meja terpojok di kelas).

                “anak jaman sekarang mengerikan”, gerutunya dalam hati.

Perpustakaan membuatnya semakin kenal dengan Bastian, salah satu anggota F5 yang banyak dikagumi anak-anak perempuan. Jujur sejujur-jujurnya Bara sangat amat malas terkait dengan Bastian, tapi karena diminta ibu perpustakaan jadilah Bara harus bekerja sama dengannya.

Keseluruhan anggota F5 adalah anak OSIS di tahun terakhir dan keseluruhan dari mereka adalah pejabat penting OSIS. Bastian dia sekretarius umum di OSIS, perawakannya item manis, tinggi, dengan wajah panjang dan poni yang menutupi jidatnya, baby face, kalem, bersih, rapih, dan tidak banyak bicara, cool (arti sebenarnya), serta misterius. Dia jarang terlihat, namun akhir-akhir ini menjelang 17 Agustus dia sering ke perpustakaan, sehingga mereka sering bertemu dan kembali dipertemukan oleh tugas dari ibu perpustakaan.

Bara dan Bastian juga sering bertemu di ekstrakulikuler teater yang mereka ikuti, di sanalah pertama kalinya Bara berkenalan dengan Bastian. Teater di SMP itu masih angkatan pertama, prediksi awal Bara sedikit yang berminat dan karena itulah Bara memilih teater sebagai kegiatan ekstranya. Tetapi karena beberapa anggota F5 ikut bergabung, jadilah ekskul teater menjadi ekskul yang paling banyak anggotanya (perempuannya di awal).

Perlahan tapi pasti, banyak kejadian yang membuat Bara seakan terbiasa dengan kehadiran Bastian, yang dulu sangat dihindarinya. Begitu pula sebaliknya, meski lebih banyak diam Bastian tidak pernah benar-benar diam. Mereka saling terbiasa meski tidak selalu bertemu tapi selalu ada kesempatan untuk sekedar melihat dari jauh.


Blog Bara (1)

Untuk kesekian kalinya Bara membuat akun blog,  meski sebenarnya dia tidak tahu kelak apakah blog ini akan digunakan atau hanya akan dilupakan.

Bara tak pernah benar-benar yakin bahwa isi blognya akan semenarik blog blog yang lain, tapi sering kali kelabilannya ini membuat dia malu atau bahkan risih dengan apa yang telah ia post.

Alasan yang sangat sederhana mungkin, Bara hanya ingin meminta pendapat tentang isi tulisannya. Apakah itu bagus atau tidak, pantas atau tidak, layak atau tidak, tapi satu hal yang pasti ia ingin belajar menulis.

Dalam benaknya banyak cerita yang ingin sekali ia tulis, tapi sering kali dia bingung memulainya dari mana.  Meski di tiap blog yang pernah ia buat, Bara selalu memulai dengan kisah seorang anak yang baru lulus SD yang percaya bahwa definisi teman itu seperti layaknya anime-anime Jepang, penuh kepercayaan, kepedulian, pengorbanan, dan lain sebagainya. Dia selalu menanamkan hal tersebut, meski pada kenyataanya kehidupan nyata tidak seperti anime kesukaannya, Digimon.

Tak jarang Bara menulis tentang kisah cinta, yang pada dasarnya masilah kisah cinta remeh temeh yang dia sendiri tak mengerti. Salah satu contohnya ketika ia menulis tentang pacar pertamanya, Pramu. Kisah yang dimulai akibat sumpahnya atas kejengkelan dan rasa penasaran tetang apa itu pacaran, meski baginya itu agak konyol karena Bara tak pernah menyangka bahwa itu akan terjadi.

Tak sedikit yang Bara tulis adalah hal yang nyata, meski sering kali ia tak mengakuinya secara gamblang. Bara layaknya gadis pada umumnya, selalu berusaha terlihat kuat meski sebenarnya tak sekuat itu. Terkadang ia terlihat seperti orang munafik, terlalu paranoid, sok, dan menjengkelkan dengan gaya tersendiri.

~!@#$%^&*()_+

Bara, tidak begitu menonjol, tidak istimewa, gadis biasa yang bersuara mengganggu (setidaknya itulah definisi singkat tentangnya). Ia berkuliah di salah satu universitas negeri di Jakarta yang cukup terkenal, meski sebenarnya ia tak benar-benar sadar bahwa kini ia berkuliah di sana.

Banyak hal yang ia suka, salah satunya menulis. Banyak tulisan yang ia buat, tapi tak satupun berani ia tunjukkan. Mungkin pernah ia menunjukkannya, lalu sesaat kemudia dihilangkan dari khalayak ramai.

Blog bukan hal baru baginya, setidaknya sudah 4 blog ia buat dan dinonaktifkan. Pekerjaan yang sia-sia, membuatnya lalu menghilangkannya.

Bara salah satu orang yang rumit, cukup rumit seperti benang kusut yang menjengkelkan, lebih baik digunting dari pada membuang waktu meleraikan kusutnya. Ia sadar jika ia rumit, ia sadar jika ia menjengkelkan. Setiap hari ia bercermin, memastikan bahwa semua akan baik-baik saja, berjalan lancar meski kadang membosankan.

Tak bisa sepenuhnya disalahkan padanya, semua pengalaman membuat dia sangat sulit untuk percaya. Percaya bahwa kepercayaan pada seseorang itu penting. Ia selalu berusaha memposisikan diri tak memihak siapapun dalam tulisannya, tapi yang terjadi sebaliknya. Ia jengkel pada tulisannya sendiri, yang seakan memposisikan diri sebagai yang benar, tersakiti, dan teraniaya. Ia benci ketika harus mengakui jika ia masih bersikap ‘tak layak’, rumit, dan membingungkan.

Bara, dia terkunci dalam ketakutannya sendiri dan ia sadari itu.

~!@#$%^&*()_+

Semester ini ada hal istimewa, seseorang mendekatinya dengan membawa keseriusan bersamanya. Hal yang sulit dipercaya namun nyata.

Tak pernah ia berfikir akan sedikit mempercayainya lebih dari seorang teman seperti saat ini. Setidaknya ia mau mulai belajar lagi untuk percaya bahwa ada seseorang yang bisa ia pegang.

Namanya Lian, teman satu angkatanya yang bahkan sempat tidak ia sadari kehadirannya. Banyak yang mengatakan ia baik, Bara pun mengakuinya. Tapi Lian masih terasa asing, dalam arti yang sebenarnya. Banyak pertanyaan dan keraguan tentang keseriusan yang dibawanya. Bukan salah Lian, tapi salah Bara sendiri. Dia takut, terlalu takut untuk keluar dari persembunyiannya. Meski telah banyak yang dia ungkap, tapi tak sedikit pula yang ia pendam.

Bara ingin mencoba percaya, tapi ia sendiri seakan menahan sesuatu untuk mepercayainya. Sering kali ia berbicara pada diri sendiri, apa maunya, apa yang terjadi, siapa dirinya, banyak pertanyaan yang ia tanyakan pada dirinya sendiri, tapi banyak pula yang tak terjawab.

Satu hal yang kini ia pertanyakan, apakah Lian akan bertahan atau bahkan seperti yang lain, menghilang.

~!@#$%^&*()_+

“Bara, Bara……… main yuk….!”, seru gadis kecil bersepedah berkeranjang merah yang disambut seruan dari dalam oleh anak kecil bernama Bara.

“ayuk, mau main apa Tiara?”, tanyanya riang.

“temenin aku main sepedah yuk”

“tapi aku gak punya sepedah Tiara”

“gak papa, kita bonceng-boncengan. Kita ganti-gantian”, senyum Tiara membuat Bara segera mengenakan sandalnya.

Seperti yang Tiara katakan, mereka saling beronceng mengelilingi perumnas sekitar rumah. Baru beberapa menit menerka bermain, Tiara menyuruh Bara turun dan memintanya pulang. Memang tidak jauh, tapi Bara cukup sedih karena ia merasa diusir sebab Tiara ingin meninggalkannya dan bermain dengan yang lain, anak-anak yang tak sengaja mereka temui dan tengah bermain sepeda juga.

“mau main kemana? Aku ikut ya! aku gak akan minta bonceng atau minjem sepedahnya, aku mau liat kamu main aja”, pinta Bara saat diturunkan.

“tidak usah, kamu pulang saja nanti kita jadi susah”, ujar gadis cilik yang tadi mengajaknya bermain.

“gak kok, gak akan menyusahkan. Janji!”, pinta Bara sekali lagi.

“aduh, kamu itu nyusahin. Aku cape, berat tau boncengin kamu. Udahlan, aku udah gak sendiri jadi aku gak butuh kamu lagi. Pulang sana!”, ujar Tiara sambil menggoes sepedahnya meninggalkan Bara.

Untuk sesaat Bara diam di tempat, menunduk lalu melihat Tiara menjauh bersama yang lain. ia ingin menangis, ingin menggerutu mengapa ia ditingalkan padahal Tiara yang mengajaknya keluar. Setidaknya ucapkan sesuatu yang membuat dirinya tenang, seperti “nanti kita main lagi, tapi untuk hari ini udahan dulu ya”. tapi pada kenyataannya malah sebaliknya.

Bara berbalik membelakangi arah temannya pergi, pulang sendiri dengan rasa sedih yang cukup untuk membuatnya diam seharian menyibukkan diri dengan manik-manik yang ia rangkain menjadi tas. Untuk sesaat dia marah, menyalahkan semuanya pada Tiara. Lalu sesaat kemudian dia mencoba sabar dan memaklumi sikap Tiara karena dia telah memaksa ikut bermain meski pada kenyataannya dia tidak bersepedah. Pernah terfikir ingin meminta sepedah pada orang tua, tapi untuk apa? dia sudah cukup senang dengan maink-manik yang dia rangkai di rumah, tidak melelahkan dan cukup berkonsentrasi saja.


Satu hal yang ingin Bara tunjukkan bahwa ia kuat dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Tidak ada.