Rabu, 14 Januari 2015

Kisah (2)

Natan

Sore ini aku berencana ke rumah Nina. berbekal bunga dan coklat serta keberanian aku datang menemuinya, gadis yang sangat aku suka, sangat ku nanti untuk dapat bertemu dengannya lagi. Dari balik jendel kamarnya aku melihat Nina seakan tengah bersiap-siap pergi. Dari jauh aku melihatnya, ya, dari jauh, tapi rasanya begitu bahagia.

Belum sempat ku pencet bel rumahnya, Nina keluar.

   "Hai, cari siapa?", ujarnya sambil seakan meneliti tentang ku. "Natan? Kamu Natan kan?", lanjutnya yang melihatku terdiam saja.
     "Hai Nina, aku kira kamu lupa", balasku agak gugup sambil tersenyum.
     "Aku gak lupa, cuma pangling. Kamu berubah banget, makin ganteng. Itu buatku?", Nina berucap penuh riang, dan menanyakan bunga serta coklat yang ku bawa.
      "Hampir lupa sangking terpesonanya sama kamu, iya ini buat kamu"
      "Bisa aja kamu, Tan. Makasih ya"

Nina tersipu mendengar ucapanku yang seakan menggombal, tapi itu jujur ku katakan padanya. Kami berpandangan sesaat, lalu terbuyarkan oleh suara mobil yang kini terparkir di depan rumah Nina. Mobil Honda Jazz merah mengkilap, pengendaranya keluar dan melambaikan tangan pada kami, yang kemudian dibalas oleh Nina dengan riang.

     "Natan, maaf kayaknya kita gak bisa ngobrol lama. Dilanjut lagi nanti gimana? Soalnya aku udah janjian sama Kiki atau mau ikut kita aja, biar sekalian aku kenalin sama Kiki. Yuk!"

Nina menarik tanganku, menghampiri laki-laki yang ia panggil Kiki. Sedikit khawatir tentang siapa Kiki yang membuat Nina begitu riang.

     "Kiki kenalin ini Natan, sahabatku dari kecil dan kita baru ketemu lagi loh seteah sekian lama gak ketemu karena aku pindah ke Bandung", Nina menjelaskan posisiku pada Kiki. terasa menggantung bagiku karena Nina hanya menganggapku sahabatnya.
      "Hai", ujarku yang juga dibalas hai oleh Kiki.
    "Dan Natan kenalin, Kiki pacarku. Kiki senior aku di sekolah, kita sempet LDRan satu tahun karena Kiki balik ke Jakarta karena ikut mamanya", perjelas Nina yang terasa menusuk jantungku begitu telak, hingga sulit bagiku bernafas saat itu. "Hari ini kita mau nonton, kamu mau ikut? Ikut yuk Tan, kan udah lama juga kita gak ketemu. Kiki, Natan boleh ikut ya?", ajak Nina sambil merengek padaku dan Kiki agar mengizinkan.

Kiki hanya tersenyum sambil mengguk pada Nina, tak berucap kata. melihat itu Nina sangat riang, tapi terlihat bahwa Kiki tas seriang Nina. Jujur aku ingin merebut Nina darinya, mengambil kesempatan untuk memperlihatkan siapa aku sebenarnya, aku yang tahu segalanya tentang Nina. Tapi rasanya masih begitu sesak, sakitnya seakan merambat ke tubuhku yang seakan ngilu pada tulang.

     "Nanti aku jadi kambing conge lagi. Gak ah"
     "Yah Natan, kan seru kalo makin rame. Gak akan jadi kambing conge kok. Filmnya juga bagus, bukan romace", rengek Nina padaku.
    "Iya buka romace, tapi action. Lagi pula Nina kan bawel jadi gak akan jadi kambing conge", Kiki yang membuka kata yang dibalas pukulan oleh Nina yang tidak terima dikatakan cerewet. "Kamu kan memang cerewet. Hu..."

Mereka bertengkar kecil di depanku, meskipun begitu aku melihat raut bahagia di wajah Nina ketika bersama Kiki, rasanya sakit.

     "Emang bener kok kata Kiki, kamu itu bawel"
     "Ih, Natan kok belain Kiki sih"
     "Bener kan tuh, kamu bawel, cerewet!", Kiki kembali berucap dengan canda.
     "Udah dulu ya, kebetulan aku ada janji sama akan-anak buat main futsal", potongku pada mereka yang masih bertengkar kecil.
     "Jadi gak ikut nih?", Nina seakan tak rela.
   "Menurut situ?", balasku sambil tertawa. "Bro, mungkin kapan-kapan kita bisa main futsal bareng. Suka futsal kan?", ajaku pada Kiki, agar terkesan tidak canggung.
     "Sip......"

Percakapan singkat antara kami bertiga berakhir. Aku pergi setelah mobil mereka menjauh dari pandangan. Rasanya begitu sesak, ku kira kami bisa lebih dari sekedar sahabat. Lebih.

~!@#$%^&*()_+

Terry


     "Bagaimana laporan minggu ini, Terry?", kepala UKS menanyakan padaku terkait perkembangan klientku.
     "Sejauh ini baik bu, klien jadi lebih terbuka dengan yang lain dan tidak begitu memikirkan perihal putus seperti minggu kemarin"
     "Dimas, kalau yang kamu tangani bagaimana?", lanjut kepala UKS menanyakan kami, para psikolog remaja, satu persatu.

Selain sebagai siswa, kami perwakilan dari beberapa kelas ditunjuk oleh kepala UKS untuk menjadi psikolog kecil. Kami diberi pelatihan khusus oleh kabupaten kota untuk menangani kasus psikologis remaja. Kami juga memiliki link ke beberapa puskesmas yang tersebar di kota, selain itu kami juga digaji sehingga kami harus bersikap profesional. Tidak membocorkan identitas klien dan bersikap terbuka untuk semua kasus teman sebaya di sekolah, meskipun kasus tersenub merupakan kasus remeh temeh, atau sekedar cerita yang ingin didengarkan. Tugas kami mendengarkan dan berbagi serta memantau beberapa klien yang harus ditanggapi khusus. Pertemuan tiap Rabu dilakukan sebagai upaya sekolah memantau kinerja kami sebagai psikolog, meski tak jarang tak banyak laporan yang bisa kami berikan.

   "Lama ya Nes? Sorry, tadi lumayan banyak yang diomongin soalnya", pintaku yang membuat teman baikku menungguku pulang, Agnes.
     "santai aja kali, Ry. Kayak ke siapa aja deh."

Aku dan Agnes dikenalkan secara tidak sengaja oleh Puji, teman TKku, dan teman SDnya Agnes. Kami semua kini bersekolah di SMP yang sama, membuat kami secara tidak langsung sering bertemu. Mungkin awalnya aku dan Agnes diperantarai oleh Puji, tetapi karena rumahku dan rumah Agnes berdekatan akhirnya aku dan Agnes semakin dekat, selain itu Agnes juga merupakan salah satu klienku, sehingga bisa dibilang aku cukup mengenal Agnes.

Meskipun demikian, aku tidak pernah bercerita tentang sesuatu yang penting pada Agnes, pada siapapun. Aku lebih banyak mendengarkan, dan enggan untuk menceritakan. Karena tak ada masalah besar menyangkut kehidupan remaja, seperti pacaran. Aku tidak punya pacar, meskipun sering kali aku menerima klien yang membicarakan hal itu. Lucu memang tapi tidak masalah, malah bagus. Jadi aku bisa berbagi pendapat dengan menggunakan logika, bukan emosi seperti gadis remaja pada umumnya.

Selama ini semua berjalan baik, semua klienku tidak banyak mengeluh karena pendapat yang ku bagi salah atau berakibat buruk. Klienku seluruhnya wanita, karena klien laki-laki akan segera dialihkan ke temanku yang laki-laki. Kami melayani berdasarkan gender. Salah satu hal yang cukup dihindari adalah teriat emosi lebih dari pada sekedar rasa empati pada klien, karena akan mengganggu kinerja kami.

~!@#$%^&*()_+

Natan

Emosiku tak terbendung, seakan pecah hingga akhirnya tak bersisa. Aku tidak menangis, tidak. Hanya termenung menatap kosong langit-langit kamar yanng putih polos. Minggu ini bi Dian tidak datang ke rumah, renacananya aku dan papa akan berkunjung ke rumah om Ali Sabtu nanti, berkunjung dan memperkenalkanku dengan keluarga papa. Dan aku bisa bercerita banyak dengan bi Dian tentang hari ini.

Bi Dian mungkin cerewet, bawel, tapi dia perhatian dan cukup memahami kondisiku. Bukan tidak terbuka pada papa ataupun mama, hanya saja aku tidak ingin membuat mereka khawatir tentangku. Mungkin ini masalah sepele, kisah kasih remaja yang kandas seperti pada umumnya kisah. Tapi yang membautku tidak bisa melepaskan Nina adalah perasaan yang terendap begitu lama, membuatku tidak bisa terima mengapa Nina memilih Kiki seniornya yang baru ia kenal saat sekolah, bukan aku.

Emosi seakan tak mau lari, meski ekspresi untuk mengungkapkannya telah membeku. Memperlihatkan wajah datar yang tak peduli. Aku sangat menyukainya, aku menyukai Nina. Tapi apalah aku, jika memang Nina bersamaku kini apa mungkin Nina akan seriang ketika bersama Kiki tadi? Dengan apa aku akan menjemputnya pergi? Jangankan mobil, motor saja kini aku tidak ada. Mungkin lebih baik saat ini Nina bersama Kiki, tapi nanti ketika aku mampu Nina akan lebih baik bersamaku. Karena aku yang paling mengerti Nina, itu pasti.

~!@#$%^&*()_+

Terry

Dari banyak kasus yang ku tangani, banyak mereka yang berpacaran hanya menganggap itu hanyalah hubungan selingan, penyemangat untuk ke sekolah, atau teman bermain ketika ingin pergi berdua. Atau bahkan status gengsi ketika teman-teman klien sudah punya pacar. Rasanya begitu sederhana alasan yang dibuat, tapi itulah adanya. Aku tidak menyalahkan, tetapi tidak juga membenarkan. Jarang diantara mereka berpasangan menggunakan hati, kebanyakan hanya lebih menggunakan emosi.

Tidak sedikit pula yang terjebak dengan obsesi, menyamakan status pacar dengan hak untuk memiliki lebih. Protektif seakan sang pacar adalah hewan yang terkekang lehernya. Semua serba salah ketika mereka berjauhan, curiga menjadi bom waktu yang menanti untuk meledak. Aku heran, banyak diantara mereka mengatas namankan cinta, tapi banyak pula diantara mereka bahkan tidak tahu definisi cinta itu apa. Aku sendiripun tidak banyak tahu cinta itu apa, yang aku tahu cinta itu perasaan yang bukan hanya terucap, tetapi dilakukan untuk melidungi bukan untuk merusak yang dicintai. Jadi bagiku, jika sang pacar mencintaimu maka ia akan melindungimu hingga dirimu menjadi haknya dan begitu sebaliknya. Jika sang pacar hanya bermain denganmu, maka ia akan melakukan sesukanya padamu hingga akhirnya dia bosan atau dirimu rusak dan tidak bisa dimainkan lagi.

Mulut sering kali berdalih, berdusta seakan salah menjadi benar. Mata sering kali buta, saat kata cinta beralun dalam melodi yang menyejukkan hati meski hanya sekedar ilusi. Menebar kasih boleh, tapi menebar mantan tidak selalu berarti sama ddengan hal demikian. Banyak mantan bukan berarti hebat. sering kali 'laris' selalu beriringan dengan 'murah'.


Kamis, 25 Desember 2014

Hai Semua... Salam Kenal

Transfer Post by My Blog: smartshare.blogspot.com / 2011, dengan perubahan

Hai, salam kenal semua. Sepertinya perkenalan itu penting.
Seperti pepatah “Jika tak kenal maka tak sayang”. Tapi aku juga tidak terlalu berharap pembaca akan menyanyangiku seperti kata pepatah itu.

Ini blog pertamaku, My first blog. Pertama kalinya menulis panjang lebar dan mempublisnya di internet. Agak malu memang, tapi setiap hal pasti ada awal. Dan hampir setiap ‘awal’ itu membuat tegang, gugup, atau memalukan serta menakutkan.

Tujuan aku membuat blog ini adalah untuk membagi kisah, pikiran, rasa, dan apa saja yang bisa kita share. Yang ku harap mampu menghibur atau pun menginspirasi kita semua. Mengambil hal baik dan berguna, serta membuang hal buruk dan tidak berguna dari isi blog ini. Pembaca juga busa mengkritik langsung, tapi jangan menggunakan kata-kata kasar. Karna di sini kita berbagi, bukan berkelahi. (Okey)

Apakah perlu alasan mengapa aku ataupun pembaca perlu berbagi di blog ini?
Aku tidak bisa memberi jawaban yang jelas tentang hal itu, tapi mungkin kalimat ini akan mewakili jawaban yang diperlukan.

“Dalam hidup, jalur nyaris tanpa perlawanan adalah tutp mulut (tidak mengatakan apa yang kau rasa, kau pikir, kau alami, intinya tertutup dan memendam masalahmu sendiri lalu mengikuti arus tanpa perlawanan untuk mencari aman). Bila kau tidak mengekspresikan perasaan dan pikiran kepada orang lain, kau tidak perlu berurusan dengan reaksi mereka (orang-orang yang menentangmu). Kau tidak perlu merasa rentan, kau tidak mengambil resiko ditolak. Tapi jalur nyaris tanpa perlawanan itu pasti mengarah ke tujuan perjalanan, yakni tidak kemana-mana.” Crank, pada buku Life’s Golden Ticket.

Intinya, tak akan ada yang tahu persis apa yang kita mau jika kita tidak mengungkapkannya. Orang lain hanya akan menebak-nebak tentang kita. Dan kita hanya mengikuti arus tanpa melangkah maju untuk sampai tepi sungai karna enggan merasa lelah, yang membuat kita hanya berada pada garis yang sama. Hal ini akan membuat kita terjebak pada situasi yang mengarahkan kita, bukan kita yang mengarahkan situasi. Jadi, ungkapkan apa yang kamu mau. Sehingga orang-orang tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membuat kita senang.

Jujur, dulu aku juga tertutup dengan orang lain. Aku tetap bergaul, berbaur, dan berbagi kisah. Namun bukanlah hal yang penting untuk dibagi, malah terkesan seperti hal yang tidak penting namun ‘dipaksa’ menjadi sesuatu yang penting. Aku lebih sering mendengarkan kisah-kisah yang berarti bagi orang lain, namun aku sangat jarang berbagi hal yang berarti dari hidupku pada orang lain. Membenamkan diri dengan rasa ‘sok tahu’ mampu menyelesaikan masalah itu sendiri. Terus berusaha terlihat ceria, riang, seperti tanpa masalah. Tapi lelah sekali bersikap seperti itu. Mungkin aku bisa menipu orang lain, tapi aku tidak bisa menipu diri sendiri.

Sampai akhirnya aku mendapatkan buku berjudul “Life’s Golden Ticket” yang ku dapat dari bertukar kado sewaktu bukber bulan kemari bersama teman-teman sekelas di SMA. Pokoknya ini awal baru bagiku, fase yang kuharap nerguna bagi kita kelak. Semangat!

“Sabar yo, hidup itu memang butuh perjuangan. Semangat!”

~!@#$%^&*()_+

"Gile, post jaman baheula make bahasanya formal badai. Kaku beud. hehehe... " -me, now

Lautan Harapan Sang Sukses

Transfer Post by my blog: smartshare.blogspot.com / 2011

pagi ini aku baru sampai di Depok setelah perjalanan sehari semalam dari Palembang (mudik). melelahkan memang, tapi ku rasa banyak hal bisa ku dapat dari perjalanan itu. aku dan keluarga menyewa sebuah mobil untuk mengantar kami pulang, sebuah APV Arena hitam yang cukup nyaman, bahkan sangat nyaman untuk kami yang tidak memiliki mobil pribadi. hhe....

kami memulai perjalanan kami setelah makan siang usai. sekitar pukul setengah dua siang kami berangkat, setelah sebelumnya berpamitan dengan keluarga besar yang membuatku rindu ingin kembali. selama perjalanan aku mengisi waktu dengan membaca buku yang ku pinjam dari teman satu SMA dan kini satu fakultas denganku, Dummy, dengan diiringi musik Justin Bieber - Should be me aku asik dengan duniaku sendiri. sampai akhirnya hari sudah senja, jam di tanganku telah menunjukkan pukul setengah enam sore. dikejauhan nampak matahari yang telah memerah sambil terus meringkuk menuju ke bawah seakan ingin bersembunyi di balik pepohonan. segaris orange dan pink menyatu membentuk pemisah antara langit malam dan senja yang semakin pekat.

lampu dalam mobil sengaja tidak dihidupkan untuk menghindri kesan mencolok pada kami yang di dalam. dan secara otomatis kegiatan membacaku terhenti saat matahari benar-benar hilang dan digantikan oleh sang bulan yang terpotong setengah. aku pun kembali mencari kegiatan untuk membunuh rasa bosan. musik yang tadi mengiringi kegiatan membacaku pun ikut dimatikan, kemudian ku ubah dengan membuka facebook. sinyalnya sangat jelek, naik-turun, hilang-muncul, membuatku kesal dan menekan-nekan handphone itu dengan agak keras. hal itu sontak membuat adikku marah, karna dia tidak ingin handphonenya rusak karnaku. wajar saja karna handphone yang kupegang adalah handphonenya, sedangkan aku tidak memiliki handphone lantaran rusak hingga hanya putih yang terlihat di layarnya. aku memang ceroboh dalam hal demikian.

dengan reaksinya yang seperti itu aku langsung meminta maaf dengan nada menyesal, berharap ia masih mau meminjamkannya padaku. setelah sinyalnya sudah cukup bagus, kembali aku berusaha membuka facebook yang tadi sempat tertunda. yang pertama ku lihat adalah notification yang cukup banyak terpampang di atas beranda, isinya tentang hal-hal yang menyangkut tentang ospek yang akan ku jalani nanti bersama teman-teman sejurusan, matematika. setelah selesai dengan semua notification itu aku langsung beralih mencari nama seseorang, TS. ia kakak senior satu fakultasku, namun tidak satu jurusan, aku matematika dia biologi. ia memberi banyak inspirasi kepadaku, bukan dengan sikapnya tapi dengan tulisan-tulisannya. jujur aku tidak mengenal siapa dia, bahkan aku takut untuk tau siapa dia. aku melihat note-notenya, dan terdapat note terbaru judulnya "Hujan yang Mewangi". note itu baru bisa ku baca ketika kami di pelabuhan, mengantri untuk masuk kapal yang siap mengangkut kami kembali ke pulau Jawa.

dalam note itu terdapat hal yang tersirat, yang kemudian dia bold dan italic sebagai penekanan olehnya. ceritanya memang tidak panjang, namun sunggu mengispirasi bagiku. meskipun ada beberapa kata yang tidak sependapat dengaku, namun itu bukanlah masalah. ia berpendapat kalau kita harus bisa mengambil kesempatan yang ada, tapi aku berpendaat kitalah yang harus membuat kesempatan kita sendiri. kadang situasi membuat kita lupa apa sebenarnya yang kita tuju hanya karna kesempatan yang seringkali menggiurkan namun kita belum siap menerimanya. mungkin akan sangat sayang untuk dilepas, tapi akan lebih sayang lagi jika kita menanggalkan apa yang menjadi tujuan awal demi hal yang belum tentu dapat kita pikul. memang terdengar agak pesimis, tapi masih ada banyak kesempatan jika kita memberikan jalan untuk kesempatan itu menghampiri kita. seringkali hal baik tidak didapat secara instan bukan? jangan buat situasi mengontrol kita, tapi buatlah situasi yang mengikuti kita. tapi hal ini bukan berarti kita harus menjadi penentang yang ekstrim, ingat! setiap tindakan harus bertanggung jawab dan dapat dipertanggung jawabkan kelak. (okay)

"berbicara memang lebih mudah dari pada melakukan, tetapi hal yang tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. mungkin saja, meski butuh pengorbanan ektra untuk mewujudkannya. semangat...!"

kembali ke topik,setelah membaca note itu aku menjadi lebih, lebih, dan lebih mensyukuri apa yang ku dapatkan kini. membuatku lebih sering membuat mimpi yang terus ku kejar agar tidak sekedar menjadi mimpi-mimpi belaka dan membuatku menunduk untuk terus bersyukur dengan apa yang telah diberikan Tuhan.

selang beberapa menit berlalu, mobil kami mulai berjalan memasuki kapal. mobil kami di lantai dua, membuat kami nyaman tanpa harus pergi ke atas kapal. angin sepoi-sepoi membuatku menendangkan lagu yang cukup memadai untuk suaraku yang sedang serak karna batuk. dua jam telah berlalu, pelabuhan merak telah terlihat. lampu-lampu di tepi selat terlihat berwarna-warni, berkelap-kelip seakan menjadi bintang di daratan yang gelap. tetapi kapal kami masih saja belum melabuh hingga tiga jam pun berlalu dengan kami terus mengapung tanpa ke tepi. ternyata kapal yang kami tumpangi sedang menunggu gilirannya karna banyak kapal yang juga ingin menepi.

selang satu jam itu aku sempat berbincang-bincang dengan seorang bapak-bapak yang usiannya (sepertinya) tidak jauh dari bapakku. namanya pak David, beliau dari Padang dan hendak menuju Bekasi. beliaulah yang pertamakali mengajakku berbincang-bicang, mungki karna melihatku bosan dan terus menyanyikan lagu yang sama berkali-kali, Demi Lovato - Cacth. awalnya pak David menanyakan asalku dan hendak kemana, lalu berlanjut dengan menceritakan tentangku, tentangnya dan tentang keluarganya. untuk sesaat aku terdiam sejenak, bertanya-tanya mengapa beliau menceritakan hal itu padaku. tentang keluarganya yang sudah tidak utuh, tentang anak pertamanya yang telah tiada dan tentangnya yang kini sedang cuti bekerja di Bangka. awalnya aku sangat canggung, karna aku tidak pandai dalam hal mengungkapkan. kadang apa yang ku ucap tidak seperti apa yang ada di otakku. hal ini membuatku takut kalau-kalau salah bicara pada beliau. tapi lama-kelamaan aku seperti melihat curahan di setiap kata-kata pak David yang membuatku fokus mendengarkannya. fikirku, mendengarkan akan lebih baik ketimbang aku berkata-kata yang tidak sesuai nantinya.

beliau menceritakan tentang istrinya yang kini bekerja sebagai guru SMP di Padang, yang telah berpisah lama dengannya. aku tidak berani menanyakan mengapa mereka berpisah. beliau juga menceritakan tentang anak pertamanya yang kini telah tiada, dengan kata andai di depannya beliau bilang kalau anaknya masih hidup mungkin dia akan duduk di bangku SMA kelas 3. seperti sebelumnya, aku tidak berani menanyakan karna apa anaknya meninggal. selama pak David bercerita yang kulakukan hanya diam dan mendengarkan. terlihat raut sedih di wajahnya yang telah menua dimakan usia, lalu setelah selesai bercerita beliau langsung tersenyum. seakan sedikit banyak ada hal yang dapat membuatnya lega dan tanpa kendala menghadapi semua masalah itu. aku pun ikut tersenyum. lalu beliau bertanya padaku tentang cita-cita yang ingin ku capai.

baliau mencetuskan kata Dosen, aku menjawab iya, aku mau menjadi dosen. tapi aku juga mau menjadi seorang aktuaris sukses. beliau memberi pendapatnya padaku tentang kedua pekerjaan itu. beliau bilang Dosen itu lebih memiliki wibawa, selain berbagi ilmu dosen juga memberikan banyak waktu untuk keluarga. sedangkan aktuaris memiliki sedikit kendala dalam hal pendapatan jika aku tidak pandai menarik nasabah. aku pun memberikan argumentku, kalau aku akan berusaha mencari nasabah sebanyak-banyaknya, kalau perlu aku menjadi dosen sekaligus agent asuransi. meski sekarang ini aku agak-agak bodoh dalam hal mengungkapakan tapi nanti insya Allah akan terbiasa. pak David tertawa, lalu tersenyum beliau bilang aku harus ikut satu jurusan lagi, yaitu jurusan "R". aku berucap dengan spontan menerka tentang jurusan "R" itu, "jurusan rajin pak", pekikku dengan semangat. "itu mah semua fakultas harus punya", tambahku dengan santai namun berusaha sesopan mungkin. pak David tersenyum lagi lalu menyetujui apa yang ku ucap dan berkata kalau aku sudah cukup baik dalam hal komunikasi.

sejenak ku lihat beliau seperti berharap, lalu berkata seakan memberi wejangan pada anaknya. "kamu harus rajin belajar, tamatkan kuliahmu, bekerja lalu menikah. jangan terfokus untuk karir saja lalu melupakan keluarga.", wejangannya yang memberikan kesan bahwa beliau merindukan keluarganya. aku agak canggung menerima wejangan itu, karna aku tidak tahu harus berkata apa selain kata "iya, insya Allah pak" sambil tersenyum.

tak berapa lama kapal kami menepi ke dermaga, membuat percakapan kami selesai. sebelum aku pergi memasuki mobil aku bertemikasih, berpamitan, salim, lalu mengucapkan salam dan kemudian mendur beberapa langkah lalu berbalik menuju mobil yang tak jauh dari sana. melihat, mendengar dan merasakan sikap pak David tadi membuatku teringat akan note yang ada di facebook kak Tirta, "Hujan yang Mewangi". topiknya tidak jauh berlainan, membicarakan tentang kesempatan, hanya saja ada sedikit perbedaan di sana. dalam kisah kak Tirta sang bapak penjual minyak wangi itu kesempatannya terlepas  karna terlalu hanyut dengan kepandaian yang dimiliki beliau namun dapat melihat anaknya sukses meneruskan cita-cita beliau yang sempat tertunda. sedangkan pak David, beliau mendapatkan kesempatannya untuk menjadi sukses namun terlalu hanyut dalam kesuksesannya yang membuat sisi lain kehidupannya gagal.

kesimpulan yang kudapat, menurutku.
kesempatan akan memberimu sebuat pilihan dengan banyak kemungkinan, entah engkau gagal lalu kemudian sukses, entah sukses lalu kemudian gagal, entah gagal lalu terus terpuruk dengan kegagaglannya, atau mungkin sukses dan terus sukses di sisi keidupan lainnya karna keseimbangan yang dijaga. entah, tapi semua itu hanya akan terus menjadi kemungkinan yang mengarahkan kita ke salah satunya atau mungkin kitalah yang mengarahkan diri ke salah satunya. semua tergantung pada apa yang kita pilih dan kita lakukan. ketika kita memilih sesuatu, kita akan mendapat keuntungan sekaligus resiko atas apa yang telah kita jalani. jadi bertanggung jawablah, dan tetap berpegang teguh pada Tuhan agar kita terus mendapatkan rahmat-Nya atas apa yang kita lakukan. (Aamiin..)

dan syukur alhamdulillah kami sampai di Depok dengan utuh pukul setengah enam pagi tadi dan dapat berbagi apa yang ku alami selama perjalanan menuju kemari. meski tidak detil, tapi ku harap hal itu cukup berharga.

"Inspirasi tidak hanya datang dari orang-orang berdasi tapi bisa dari mana saja, bahkan mungkin dari seseorang yang sering kali terabaikan. jangan lihat siapa yang berbicara, tapi lihat apa yang ia bicarakan." -Bril

Just

hai......
akhirnya UAS kelar dan gue bisa ngepost lagi. *alasan :p
jadi kali ini gue mau post tentang niatan mau pake baju SMA (lagi).
kan Jum'at kemarin gue beberes lemari, ceritanya mau memilah pakaian yang udah jarang dipake buat dikotakin. eh, tanpa sengaja nemu pakaian SMA yang udah lama banget (gak lama juga, gue kan masih muda. *baca: tampang SMA), rok abu-abu yang cenderung ke biru bermodel span yang lebar, suka bangetlah pokoknya. terus kan iseng-iseng nyoba dan berdiri depan kaca. "dahsyat, gue masih cocok banget", ngomong sama diri sendiri, gak nyadar umur.

~!@#$%^&*()_+

   gue daftar organisasi luar kampus, namanya Earth Hour Depok (EHDepok), soalnya direkomendasiin temen buat ikut. temen gue itu sebenernya junior di SMA dan gak pernah bener-bener kenal di sekolah. Soalnya pas gue lulus, dianya baru masuk. kita mulai saling kenal pas anak KIR angkatan gue dipanggil ke sekolah buat bersilahturahmi sama anak KIR generasinya dia. dan jujur, itu anak gwanteng pake banget, namanya Afan. Dari angkatan gue sendiri yang bisa dateng ternyata cuma gue, Nissa, Mai. udah tuh kita bertiga berasa anak SMA, soalnya dikelilingi para anak SMA yang wajahnya gak jauh beda (*baca: maksain seumuran).
    sejak saat itulah gue jadi kepengen make baju SMA lagi, siapa tau bisa ngegebet anak SMA. hahahahaha..... (bercanda). boong-boong, gue gak senekat itu meski harus diakui gue pecinta berondong. ;p.
     setelah sekian lama niatan itu hilang, soalnya udah gak berbaur sama anak SMA lagi. nah, balik lagi ke masalah daftar organisasi EHDepok itu tuh yang ngebuat gue PD banget buat make baju SMA (lagi).
   Jadi ngumpul pertama buat wawancara penempatan bidang nih, nah tempatnya itu gue gak tau dan guenya juga belum ada whats's up (WA), jadinya gak bisa bebas nanya di grup. alhasil gue kontakan sama Afan seorang, dan kebetulan banget Afan nawarin berangkat bareng (*cie dijemput).
     Di kontak gue nama Afan ada dua nomor, lemahnya hp gue gak bisa bedain mana yang nomor satu mana yang nomor dua, jadinya gue sms dua duanya. ternyata dua-duanya masuk. ngobrol lah panjang lebar tentang kejelasan Afan jadi jemput atau gak, tanpa gue tau nomor yang mana yang sebenernya gue hubungin.
     Finally, di detik waktu janjian tiba-tiba si Afan bilang gak jadi jemput karena lagi di RS nemenin ibunya di sana. rasanya gedek setengah hidup karena si Afan gak bilang aja dari tadi biar gue gak nunggu kelamaan dan jalan dari tadi. pengen marah gak enak, soalnya kan nemenin ibu lebih penting dari berangkata bareng gue.
     sudah berganti pakaian nih ceritanya, gue gak jadi dateng karena waktunya mepet dan pasti ngaret banget guenya dan gak tau dimana tempatnya. udah siap-siap buat nyuci, eh taunya ada sms si Afan bilang "lu dimana?". Njir, rasanya pengen gue bejek itu orang, bikin gedek. akhirnya gue buru-bur lah ganti baju dan batal nyuci, bawa helm dan caw ke tempat janjian depan gang rumah. oh men..... ini orang gwantengnya gak pudar, malah makin-makin dengan baju bebasnya. tapi gue tetep aja marah-marah. hahahaha......
     Sampe tempat tujuan kita dicie-ciein gitu sama yang lain, dan dan.... gue dibilang juniornya Afan. hahahahaha.... rasanya gue awet muda banget, gak ada yang ngira kalo gue udah tingkat akhir, malah banyak yang bilang gue masih cocok banget sebagai anak SMA yang unyuh. *rasanya mau terbang, karena secara gak langsung gue dibilang awet muda. hahahaha...
     Selang berapa lama, niatan make baju SMA semakin menggebu, apalagi pas liat anak SMA jaman sekarang yang sering kali terlihat 'boros' (you know what I mean). dan pas bongkar lemari di Jum'at pagi itu gue jadi kepengen nekat buat make baju SMA ke kampus, tapi gak jadi soalnya mau ada kerja kelompok bareng junior, malu ah malu. hehehehe..... padahal kebetulan banget Jum'at gak ada kuliah, jadi pengen aja keluar rumah pake baju SMA yang ditemuin itu, sekedar ke toko buku mungkin. *maksa
     Kan gue mempublikasi niatan itu di LINE, sekedar mengisi status hari itu. eh, taunya dibaca kan (sengaja biar keliatan sebenernya, minta temenin gitu ceritanya :p #kode). singkat cerita dia bersedia nemenin, meski gue tau itu coba basa-basi boongan. Ade gue yang cewe langsung ngeledek, bilang kalo kita kayak film Korea "My Sassy Girl", beuh..... bener banget, gue baru inget kalo ada film Korea yang kayak gitu. tapi-tapi kita gak jadi ngelakuin itu (iyalah, siapa juga mau nemenin niat sedeng itu), di saat anak SMA mau lepas seragamnya, eh gue yang udah lepas malah pengen banget pake seragam lagi. Gak waras! (bodo amat).
      Sudahlah, sudah tidak penting lagi. Pengennya sih ada moment dimana gue bisa pake baju SMA lagi, tapi belum nemu momentnya, bahkan mungkin udah gak ada. :(. ngomong-ngomong sekarang ini ada yang masang kembang api deket rumah (baca: masuk hari Natal).
    OOT bentar, cie yang ulang tahun..... selamat ulang tahun buat adeku tertampan, Udin, dan bapakku terrupawan. Wish you all the best best best banget...... muach muach banget............ :D
      Dadah, udah pagi juga. toh post ini sebenernya gak penting tapi pengen banget diceritain. gak papalah ya ngalay dikit, mumpung masih masa tenang, pembebasan UAS kelar. hehehehe.....:D

Rabu, 24 Desember 2014

Kisah (1)

orang bilang cinta itu tidak pernah salah, tetapi manusia yang sedang jatuh cintalah yang melakukan kesalahan. orang bilang cinta itu membawa bahagia, tetapi pada kenyataannya kisah cinta tak selalu berakhir bahagia.

~!@#$%^&*()_+

Natan

hari ini kami pindah rumah. Papa bangkrut semua aset berharga, termasuk rumah, disita bank karena Papa tidak dapat melunasi pinjamannya. jujur, ini pukulan berat bagiku, di saat semua seakan lancar ternyata musibah ini muncul secara mendadak, membuat diri merasa sesak dan tak rela. papa bilang laki-laki tidak boleh cengeng. iya, aku tidak menangis tetapi aku bersedih. rumah kami, rumah besar yang begitu indah, taman didekat ruang makan, air mancur yang begitu merdu, kini menghilang, diambil dari kami. tak banyak yang tersisa, hanya barang-barang terpenting yang masih boleh kami bawa dan ditampung oleh rumah baru kami, kontrakan petak tiga di belakang perumahan mewah rumah lama kami. sedih rasanya, aku terlanjut sayang dengan tempat ini. semua kenanganku terukir di sini. semua. di saat seperti ini, tak banyak yang mau membantu. aku baru tau, tak semua orang tulus pada keluarga kami. kebanyak dari mereka hanya silau dengan apa yang kami punya, tapi kini ketika kami tak memiliki apapun kecuali harapan untuk dapat bangkit, mereka menghilang.

seorang wanita paruh baya datang membatu kami. wanita yang sebelumnya tak pernah aku kenal. Papa bilang itu adiknya papa, tetapi setahuku papa anak tunggal, yang berarti tidak punya saudara. ibu juga mengatakan demikian, bahwa wanita itu adiknya papa. adik angkat papa. namanya bi Dian, wanita paruh baya berusia kisaran 40 tahun, berambut pendek, cerewet, tetapi sangat bersahabat. bi Dian tidak mau dipanggil tante, baginya panggilan bi juga sudah cukup, karena di daerah bibi itu bukan panggilan untuk asisten rumah tangga, tetapi keluarga. pemikiran yang sederhana yang membuat aku mudah menyukainya, meskipun bi Dian cerewet, ribet, tapi aku suka.

bi Dianlah yang selalu menyediakan apapun yang kami butuhkan di saat susah seperti ini. dia yang membawa makanan ketika berkunjung, dia yang mendengarkan ibu ketika bercerita untuk mengeluakan kesedihannya, dia yang menjemputku ketika aku masih meremung terdiam di rumah lama yang kini telah terkunci rapat, dia yang menguatkanku untuk sabar dan berjuang. dialah malaikatku.

bi Dian bercerita, bahwa saudara Papa bukan hanya bi Dian, tetapi masih ada beberapa saudara lainnya. termasuk om Ali, dimana bi Dian sekarang tinggal. bi Dian bilang, om Ali sebelumnya pernah mengalami peristiwa demikian, anaknya Terry juga sempat mengalami perasaan yang sama dengan yang ku rasakan saat ini. nanti ketika ada waktu, bi Dian akan mengenalkanku denganya, mungkin kami bisa banyak berbagi.

~!@#$%^&*()_+

Terry

bi Dian ingin ke rumah ua' Nuzul, katanya mau 'berayau', atau dalam bahasa Indonesia artinya berkuknjung. ua' Nuzul itu saudara angkat ayah, dan sekarang masih sibuk pindahan rumah. banyak cerita dari bi Dian, katanya anaknya ua' Nuzul sedang butuh teman bercerita, dan mungkin aku bisa jadi temannya berbagi. terlebih aku termasuk pisikolog remaja di sekolah, mungkin bisa sedikit membantunya. bi Dian bilang kalau kami 'sama'.

~!@#$%^&*()_+

Natan

hari ini aku sudah sedikit lega dan bisa bermain dengan riang dengan anak komplek rumah seperti biasa, dan disaat itu aku bertemu dengannya. dia. namanya Nina, dia baru pulang dari Bandung. sebelumnya aku tidak menyangka akan secepat ini dia pulang, aku senang bisa melihatnya lagi, meski dari jauh. jujur, aku ingin bertemu dengannya, menyapanya, menanyakan kabarnya, bagaimana sekolah di Bandung, semua tentangnya yang terlewatkan olehku selama kami terpisah, Jakarta-Bandung.

aku menyukainya sejak kelas 6 SD, tetapi kami terpisah saat akan masuk SMP. Nina pergi ke Bandung, dan aku stay di Jakarta. tak banyak kabar yang bisa kami bagi, selain pertemuan yang sering kali berujung batal karena kesibukannya organisasi. dan kini aku dengar Nina akan stay di Jakarta, rasanya akan banyak waktu untuk kami bersama.

lusa nanti aku berencana mengunjunginya, menyapa dan berbincang sekedar ingin tahu SMA mana yang akan dia pilih. aku bukan laki-laki yang tahu bangaimana membuat senang perempuannya, tetapi yang aku tahu, perempuan suka hadiah. tak banyak yang bisa ku bawa, kecuali coklat dan bunga yang mungkin akan dia suka.

~!@#$%^&*()_+

Terry

namanya Natan, anak ua' Nuzul yang ingin bi Dian kenalkan denganku. tapi rasanya aku akan agak canggung mendengar cerita bi Dian tentangnya. bagaimana tidak, aku tidak pernah menangani kasus yang terlalu pribadi kecuali masalah pacaran anak sekolahan, yang bagiku masih terlalu remeh temeh. ini terkait masalah aku, aku yang dulu yang pernah jatuh dan terpuruk, dan rasanya aku tidak sanggup membantunya.


MASA: Lalu (1)

   UN udah lewat, tinggal nunggu hasilnya. Sebenernya gue mah biasa aja, selow melow Andilau tapi gak galau. Ralat deh, agak galau sih, cuma dikit. Gimana gak galau, gue maunya masuk SMPN 4 Depok yang agak jauh dari rumah, tapi ibu maunya gue mau masuk SMPN 3 Depok. Ya udahlah ya, masuk sukur gak masuk SMPN 4 Depok “I’m coming…”

   Ngerengek masuk Pasmer (SMPN 4 Depok)-nya udahan dulu, ngadepin tegangnya masuk Bento (SMPN 3 Depok) yang harus gue hadepin dulu. Gimana gak, sehari sebelum pendaftaran ditutup posisi gue udah diambang ‘penendangan’, alias diambang batas aman, alias diamabang angka akhir yang bakal diterima. Was-was? Jelaslah, ibu gue masih aja kekeh ngediemin gue di SMP itu. Yang diterima tiga ratus enam puluh orang, sedangkan posisi gue ada di tigaratus sepuluh, itu di hari Kamis jam sepuluh pagi. Gimana nasib gue besok? Dua jam di hari ini aja udah bikin gue frustasi, gimana ditambah tiga setengah jam besok sebelum pendaftaran ditutup secara resmi. Okelah kalo yang daftar makin lama makin dikit dan NEMnya itu gak gede-gede amat. Ini sebaliknya, akin akhir makin banyak dan yang daftar itu NEMnya gede-gede. Alamak, nasib NEM paspasan di sekolah favorit, katanya Bento itu SMP terfavorit di Depok, (sekali lagi) katanya…….

   Karena ngototnya gue pengen masuk Pasmer, tiap hari gue dateng ke Bento cuma buat ngecek posisi berapa gue sekarang, biar kalo lewat batas gue bisa langsung caw ke Pasmer. Tapi sayangnya posisi gue seakan ‘masuk enggan keluar pun tak mau’. Jam dua belas di hari ini pun berakhir, pengumuman terbaru dipasang nanti sekitar jam satuan. Gue yang agak gimana…. gitu sama sekolah ini bikin gue penasaran pengen jalan-jalan bentar. Iseng-iseng gue ke jalan sepanjang koridor di depan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang ada di depan kantor guru, di sana ada papan pengumuman Rabu kemarin. Gak sengaja gue nyenggol cewe mungil, rambutnya panjang sepundak, lurus dan berkilau. Pikir gue, “model iklan sampo kali ini orang”. Dikit-dikit gue sok SKSD (Sok Kelan Sok Deket), sekedar mencari teman baru kalo-kalo gue keterima. Namanya Ani, dia dari SD mana gitu, gue gak begitu tau itu SD dimana, jadinya gue lupa. Hehehehe…… posisi dia aman banget gak kayak gue, sekitar seratusan. Dia kan balik nanya posisi gue berapa, gue bilang aja kalo lagi nunggu hasilnya nanti jam satu. Gue agak penasaran sih sebenernya ngapain dia masih di sisni, kan posisinya aman jadi gak perlu cape-cape nungguin jam satu cuma buat liat posisinya. Toh kalaupun posisinya turun palingan masih aman sentosa di kisaran seratus lima puluhan atau banter-banternya palingan sekitar dua ratusan. Lah gue? Wajib, kudu, harus, fardu ‘ain (lebay) nunggu itu pengumuman. Telat pindah, bisa masuk SMP luar negeri gue dan tentunya uang masuknya mahal…… nyekek leher orang tua gue.

   Gue kan anak baik nih, jadi nungguin posisi sampe jam satu. Taunya posisi gue makin kritis….. di ujung tanduk. Tiga ratus lima belas (turun lima posisi sih, tapi tetep aja -_-). Sampe rumah gue ngerengek minta pindah ke Pasmer dengan agak ngotot, tapi ibu gue santai-santai aja, selow melow gak galau. Katanya tungguin aja, palingan banyak yang narik, kalo hoki kamu masuk kalo gak, besok kita ke Pasmer, kalo sempet. OMG, kalo sempet? (sekali lagi) kalo sempet. Ehm…… ibu gue selow, terus kenapa gue musti galau? Pikir gue sih gitu. Yo wes, gue ngikut ajalah kan orang tua selalu tau yang terbaik untuk anaknya, gitu sih kalo kata orang bijak.

~!@#$%^&*()_+


   Jumat, hari terakhir pendaftartan paling lambat jam setengah dua belas. Tumben-tumbenan ibu gue ikut buat ngecek, mungkin kalo emang sudah tak ada harapan biar bisa langsung caw ke SMP lain, semoga Pasmer. Belum ada pengumuman baru sampe jam setengah sebelas, yang daftar makin rame, yang namanya diambang batas makin was-was, dan gak sedikit yang nyabut dan pindah ke sekolah lain, tapi gak sedikit juga yang nekat tetep kekeh nungguin sampe akhir, termauklah gue di sana. Masuk sukur, gak masuk ya sudah. Setengah dua belas teng tiba, ibu-ibu yang pengen banget anaknya masuk Bento bilang ke bagian registrasinya buat tutup, karena batas pendaftaran udah selesai. Ibu gue mah selow aja, gak mau ribet-ribet follow kerumunan ibu-ibu di depan registrasi, gue rasa pikiran ibu gue sama kayak gue, “ada atau gak gue di sana, pendaftaran pasti tutup, kalo gak bagian registrasi bakalan kena amuk rombongan ibu-ibu yang lain”, tebak gue gitu sih.

   Satu jam lebih kami menunggu pengumuman baru ditempelkan, rasanya begitu berdebar. Apalagi melihat posisi gue lanksana diujung tanduk (beuh, berat bahasanya), mungkin aja ketendang dari siswa yang diterima. Alamak, masuk SMP luar negeri dah gue. Tapi dimana? Tugu Ibu? ya sudahlah, kalau memang di sanalah takdir awak.

   lagi panik bin genting, eh tiba-tiba semua orang berkumpul di jendela dekat registrasi. Ternyata pengumuman ditempal di sana, gue kira kan di papan biasanya, kali ini spesial di jendela registrasi. aduh, rasanya males banget, gak kuat buat liat tapi penasaran banget. mana penuh banget lagi, terus ibu gue juga nyantai wae, seakan tatapannya berkata everything gonna be alright.

   "gak mau liat, Bu?", tanya gue dengan lugas
   "nantilah, masih rame". jawab beliau singkat

   Ampun, rasanya gue gak tahan. tapi kenapa juga gue harus ribet sih, kan yang bayar uang sekolah ortu jadi gue gak perlu ambil pusing toh. Tapi tetep aja penasaran...... (-_-)

   Setenga jam setelah pengumuman dipasang orang-orang mulai pada pergi, suasanan sudah cukup renggang untuk gue masuk mengecek hasil 'pertahanan' tang bikin was was. Beuh..... syukur Alhamdulillah gue masuk cuy, urutan 300 pas. pas banget di 300 Bara Permata.

   "tuh kan, kamu masuk", seru ibu dari belakang. "udah yuk pulang, Ibu belum masak nih"

~!@#$%^&*()_+



Kamis, 30 Oktober 2014

Blog Bara (3)

Jum'at sore, hari yang cukup menyebalkan sekaligus menyenangkan untuk Bara. Kuliah sore yang bahkan tidak jelas ada atau tidak. satu yang sedikit menghiburnya, bertemu dengan Lian. di mata kuliah itulah mereka bertemu, meski di mata kuliah lainnya mereka bisa bertemu namun tidak semenghibur hari Jum'at yang  penuh perjuangan (bagi Bara).

Jum'at ini Bara datang lebih awal dari biasanya. kelas masih sepi, hening. ia memutuskan untuk mempersiapkan perlengkapan kuliah, LCD dan spidol. cukup lama ia menunggu, sampai akhirnya ada kabar bahwa tidak adak kelas. beberapa saat Bara mengira ia telah mempersiapan hal yang sia-sia, tapi beberapa menit kemudian ia merasa beruntung, karena Lian bersedia membatu tanpa diminta.

Sentak Bara tersadar, mengapa ia harus senang? mengapa bertemu Lian menjadi hal yang membuatnya senang?

~!@#$%^&*()_+

hari pengumpulan buku sumbangan sudah ditutup, tumpukan buku di kolong Bara semakin tak terbendung. itu kesalahannya sendiri, sengaja mengumpulkan sekaligus di hari terakhir. Bara memegang buku sumbangan kelas 7, sedangkan Bastian kelas 9, untuk kelas 8 telah dikumpul ke perpustakaan langsung.

rasanya ia ingin mengeluh, mengapa bukunya begitu banyak. tapi ia tidak bisa berbuat demikian karena itu kesalahannya sendiri. dengan amat terpaksa ia menata buku dalam dua tumpukan, dan tinggi tumpukan itu mencapai lehernya. membuatnya berjalan perlahan untuk menuruni tangga. Hana, teman yang selalu memberi pinjaman catatan sejak ia duduk di pojok belakang menawarkan bantuan, tetapi Bara menolaknya karena bel masuk akan segera berbunyi, dan ia tidak ingin merepotkan Hana.

Sesampainya di depan perpustakaan Bara kaget, pepustakaan tutup karena ada study banding dengan sekolah lain. sebenarnya ia sudah diberitahu oleh ibu penjaga perpustakaan bahwa akan ada study banding, sialnya Bara tidak tahu kalau hal tersebut mengakibatkan perpustakaan tutup.

Alhasil dengan kesal ia duduk di samping rak sepatu, meregangkan otot tangan yang pegal karena tumpukan buku yang di bawanya tadi. soalah ingin mengalahkan bel yang tengah berbunyi, Bara berteriak sambil menempelkan pipi kirinya diatas sebagian buku di pangkuannya.

Bagaikan hantu yang tiba-tiba muncul, Bastian langsung mengangkat sebagian besar tumpukan buku di samping kiri Bara. membawanya tanpa mempedulikan Bara yang terdiam melihat sikapnya.

   "Mau dibawa kemana?", tanya Bara dengan heran.
   "ikut aku!", pintanya singkat

Bara yang bingung mengikuti Bastian dari belakang, membawa sebagian kecil tumpukan buku yang tadi dipangkuannya. Sesaat Bastian menengok ke belakang, seakan ingin memastikan apakah Bara mengikutinya atau tidak.

Langkah mereka terhenti di depan ruang OSIS yang tengah sepi. Bastian menoleh pada Bara dan meminta tolong pada Bara untuk membuka pintu sebab tanganya penuh dengan tumpukan buku, sedangkan Bara masih memiliki tangan yang bebas.

Bastian masuk, lalu menghilang dibalik lemari yang menjadi sekat di ruangan itu.

   "taruh bukunya di sana!", ujar Bastian dekat lemari.
   "di sana? di balik lemari itu?"

Seakan dapat membaca isi pikiran Bara, Bastian menjulurkan tanganya dengan senyum, meminta sisa tumpukan buku dari tangan Bara.
   
    "Untuk sementara bukunya dititip ke ruang OSIS, lusa nanti pas perpus buka kamu bisa ambil kemari"
    "oke", ujar Bara singkat di depan ruang OSIS yang tidak ia masuki. "kok sepi, bukannya akan ada 17 Agustusan?", lanjutnya sambil terus melihat-lihat isi ruangan yang penuh tumpukan dimana-mana.
    "Semua persiapan sudah hampir selesai, tinggal mencari beberapa alat saja", jelas Bastian yang kemudian tersenyum.

Senyum Bastian seakan membuat detik di kehidupan Bara menjadi terhenti sejenak, Bara bingung mengapa, tapi itulah yang terjadi, senyum Bastian begitu sulit untuk ditolak, terlebih hal tersebut jarang terjadi.