Rabu, 04 Februari 2015

Popular (1)

                “Ra, temenin gue ke premier filmnya Andri dong”, pinta Nina

                “Ampun Na, lu kan lagi sakit. Ya kali nonton film di bioskop”

                “Ini beda, Andrinya dateng, lagi pula sakitnya gak parah-parah amat kok Cuma flu”

                “Pret flu...”

                “Dari pada gue penasaran dan makin sakiK gimana? Ayo dong Ra, please.....”, ujar Nina dengan manja.

                “Lebeh lu cin. Lagi pula gue bukan dokter mbak e, tanya you punya dokter lah”, Rara menghindar untuk mengiyakan.

~!@#$%^&*()_+

Rara dan Nina, dua orang gadis yang bersahabat sejak SMP. Meski kini mereka beraDa di SMA yang sama, sayangnya mereka tidak sekelas, but itu bukan masalah besar untuk keduanya.

Nina salah satu penggemar Andri Hermawan, seorang artis baru yang namanya meroket tajam berkat tampang dan talent yang menumpuk, baik di dunia seni peran, musik maupun dance. Paket lengkap untuk remaja ababil yang haus pengen punya pacar super, tak terkecuali Nina.

Meskipun Nina dan Rara bersahabat, dan meskipun Nina amat sangat menyukai Andri. Rara yang sangat bertolak belakang dengan Nina, sangat enggan dengan Andri yang baginya bodoh, tampan, berakat, tapi tidak mau sekolah.

~!@#$%^&*()_+

Bioskop Mall Pondok Indah ini sangat sesak, lantaran priemier film yang diintangi Andri akan diputar kurang dari satu jam. Di keramaian itu terdapat dua sosok gadis bersama seorang lelaki yang lebih dewasa. Sang pria hanya diam mengawasi tingkah laku para gadis di depannya yang sangat bertolak belakang. Seorang gadis memakai jins, sepatu kets, kaos, dan terlihat headset  putih tercantol di telinganya. Gadis yang satunya lagi begitu feminim, dengan kaos berenda, rok selutut, flat shoes dan tas manis yang senada dengan sepatunya, yang begitu antusias ketika Andri muncul di sudut keramaian.

                “Ra, itu Andri..... Ra. Ayo ke sana Ra. Kak, ayo ke sana kak”, teriak Nina histeris sambil menarik-narik tangan Rara serta Bima.

                “Iya iya, sabar neng sabar”, ujar Rara yang kini berdesakan menuju Andri.

Bima yang khawatir dengan Nina mencoba menjaganya agar tidak terjepit begitu sesak dengan yang lain. Selain rasa sayanganya pada Nina, juga karena tugasnya menjaga Nina agar tetap terjaga.

                “Hai semua......”, pembuka dari Andri yang membuat fansnya memekik menjawab serentak.

                “Waw, kalian bersemangat sekali, saya juga jadi bersemangat berkat kalian”, senyumnya menebar laksana aroma mawar di pagi hari bagi fansnya. “Sebelumnya terimakasih sudah hadir di sini untuk bersama-sama menonton premier film ‘Kekasih Hati’, dan sungguh saya sangat amat senang karena antusias teman-teman sekarang ini. Jadi gak sabar untuk menonton bersama. Andri’s Power gimana?”

Sekali lagi pekikan para gadis ababil memecah kesunyian sesaat setelah Andri bertanya.

                “Na, lu gak papa? Lu udah pucet tuh”, tanya Rara di tengah kerumunan yang makin menjadi.

                “Gue sehat banget, lu liat dong. Bahagia gini masa pucet”

                “Kamu beneran gak papa?”, kini Bima yang turut memastikan

                “Aduh, kalian nih tenang aja keles. Aku gak papa, nanti kalo gak kuat pasti bilang kok”, protes Nina yang keras kepala.

Tak lama, mereka semua masuk dan menonton film. Kebetulan, kursi Nina, Rara, dan Bima tepat berada di belakang para pemain serta kru film, yang membuat Nina menjerit kegirangan tanpa suara.

Di tengah film berlangsung, Bima menerima telepon dari ayah Nina, dan dengan terpaksa menuju pintu masuk untuk mencari kesunyian tanpa keluar ruangan. Saat Bima pergi, tak lama Anri dan managernya keluar dari ruangan tanpa banyak yang sadar kecuali Nina yang tepat dibelakangnya. Dengan sigap Nina mengikuti jejak Andri, Rara yang tak banyak pilihan memutuskan untuk mengikutin Nina sebagai pengganti Bima menjaga Nina.

                “Andri, boleh minta foto bareng?”, pinta Nina dengan penuh harap pada Andri.

                “Tentu”, jawabnya dengan tebaran senyum. “Kak tolong fotoin kami”, lanjutnya memberi kamera pada sang manager.

                “Kamu gak ikut?”, tanya sang manager pada Rara.

                “Gak kak, makasih. Biar Nina dan Andi aja”

                “Andri, Ra. Namanya Andri”, protes Nina karena Rara salah menyebut nama.

                “Terserah”, bisik Rara yang terdengar oleh semua karena lorong yang sepi.

                “1, 2, 3. Lagi... 1, 2, 3”, intruksi sang manager. “Kamu beneran gak ikut?”, tanyanya lagi pada Rara.

                “Gak kak, makasih”

                “Ayo dong Ra, ikut”, pinta Nina yang diiringi Andri.

                “Gak mau”, kekeh Rara

Tanpa basa basi Nina menarik Rara dengan paksa, “Ayo kak tolong difoto”.

                “Makasih, maaf merepotkan”, Nina mengucap degan senyum yang sumeringah.

                “Sama-sama, terimakasih sudah hadir”, balas Andri yang juga tersenyum. “Kamu sakit? Ehm....”

                “Nina, namaku Nina”, perkenalan yang terjadi dengan tak sengaja. “Aku gak papa kok”

                “Beneran? Kalau begitu saya duluan”

Baru beberapa langkah Andri dan sang manager membelakangi Nina dan Rara, terdengan suara Rara yang panik memanggil nama Nina.

                “Na, Nina bangun Na!”, pangil Rara pada Nina yang tergeletak pucat dipangkuannya.

Dengan panik Rara mencari handphone di kantongnya, mencoba menelpon Bima, tetapi nadanya sibuk. Andri dan sang manager yang kini kembali menghampiri mereka turut panik dan berinisiatif membawa Nina ke rumah sakit.

Dengan menggunakan mobil Andri mereka bergegas pergi ke rumah sakit terdekat. Rara yang tidak bisa berbuat banyak terus berusaha menelpon Bima yang masih saja pada nada sibuk.

                “Nina kenapa?”, tanya Andri.

Tak ada jawaban dari Rara, dia masih sibuk dengan handphonenya. “Bim, Nina pingsan. Sekarang kita lagi menuju rumah sakit Pondok Indah”

Suasana mobil hening, kurang dari 20 menit mereka sampai di rumah sakit tujuan. Nina dibawa ke UGD, Rara, Andri, dan manager menunggu di depan pintu.

                “Dri, kita harus pergi”, sang manager mengingatkan

                “Bisa kita batalin pertemuannya? Gue pengen tetep di sini”

                “Tidak bisa, hari ini casting terakhir”, sang manager mengingatkan.

Seperti arus tsunami, wartawan yang tadi memergoki Andri menggendong Nina menyerbu seakan tak melihat kondisi, bahwa sekarang berada di depan UGD. Blits kamera, perekam, microfone, dan berbagai pertanyaan menyeru tak kenal ampun.

                “Maaf, ini rumah sakit. Bisakah kalian pergi dari sini?”, pinta Rara menahan geram.

                “Teman-teman wartawan, bisa tunggu di luar. Nanti kita bicara di luar. OK?!”, intruksi Andri dengan lebut dan menebar pesonanya.

Wartawan yang cukup mengerti perlahan melangkah pergi, menunggu Andri di luar. Sang manager yang terus saja mengingatkan Andri terkait casting film terbaru tak kunjung membuat emosi Rara makin menukik naik.

                “Mending lu juga pergi deh, hadirin casting itu dan berhenti untuk berisik”

                “OK, sorry berisik. Titip salam buat Nina”, Andri dan sang manager pun pergi menuju tepat cashting dengan terlebih dahulu menemui para wartawan di depan rumah sakit, sekedar menepati janji untuk menjaga image.

~!@#$%^&*()_+

                “Dia itu artis baru, tapi sudah berani tidak meghargai waktu. Bagaimana sih. Cashting sudah ditutup”, pak Hendro memarahi kak Yuan, sang manager Andri.

Andri telat hampir satu jam, waktu yang tidak sebentar untuk menunggu sang kandidat utama pemegang peran. Sebenarnya cashting hanyalah formalitas baginya, jika saja dia datang tepat waktu. Karena secara talent dia memang berbakat, dan sang penulis sangat ingin mengajaknya bekerja sama.

                “Maaf, tapi tadi kami mengantar salah seorang fans yang tiba-tiba sakit”

                “Maaf, tapi saya tidak punya banyak waktu untuk alasan yang tidak masuk akal”, pak Hendro keluar dan mengakhiri kesempatannya.

Di ruang tunggu terdapat sebuah televisi yang sedang menyiarkan infotaiment terkini, tapat saat pak Hendro lewat tepat pula di saat berita Andri yang mengantar Nina ke rumah sakit. Melihat hal tersebut pak Hendro sempat memalingkan wajah pada Andri yang terngah berdiri di dekatnnya.

                “Siapa yang sakit?”

                “Namanya Nina pak”

~!@#$%^&*()_+


Sabtu, 24 Januari 2015

Cantik itu Relatif

Cantik itu relatif. Yap relatif.

Banyak  orang Asia bilang cantik itu berkulit putih, tapi bagi para bule (selain Asia) bilang cantik itu berkulit eksotis. Ada yang bilang cantik itu berhidung mancung, tinggi semampai, dan langsing. Tapi tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa cantik itu sebaliknya, tergantung dimana kita berada.

But selain secara fisik, banyak orang mengatakan kecantikan itu akan terpancar dari perbuatanannya, sikapnya, kepribadiannya. Kebanyak perempuan ceria memiliki kecantikan yang unik, memberikan aura yang memancar melalui senyumnya dan keceriaan yang dibawanya. Terus, yang tidak bisa berekspresi demikian apa tidak cantik? Jelaslah tidak. Sekali lagi, cantik itu relatif.

Kepribadian yang misterius juga menarik loh, karena akan memberikan tantangan tersendiri bagi beberapa orang. Pandai secara intelektual ataupun skill juga menjadi daya tarik yang tidak bisa ditampik, kecantikannya terpancar dari kemampuannya ketika menyelesaikan masalah atau ketika mempertunjukkan kebisaannya, baik dari segi seni, olahraga, atau bidang lainnya.

Dari semua yang telah disebutkan, sebenarnya banyak juga kecantikan yang dilihat dari berbagai sisi, oleh berbagai orang, dari berbagai tempat, yang tidak disebutkan. But, yang umum diketahui adalah, kecatikan seseorang akan terpancar ketika ia tersenyum dengan tulus, tidak peduli berkulit putih atau bukan, mancung atau tidak, kurus ataupun gemuk. Sebenanya secara umum ini bukan hanya berlaku untuk peremuan, untuk laki-lakipun demikian.

So, buat semua yang merasa dirinya kurang cantik ataupun tidak, please jangan beranggapan seperti itu lagi. Karena kamu cantik, cantik dari sisi yang lain yang belum dilihat secara umum. Jika ini termasuk kalimat bull(duduk) buat yang membaca, coba koreksi lagi. Tulisan ini memang tidak sempurna, berdasarkan opini semata. Tapi dari segi manapun, tidak ada makhluk hidup yang sia-sia dan diciptakan dengan tidak indah oleh Sang Pencipta. Maka yakinilah bahwa kamu cantik, meskipun dari sudut yang berbeda.

Buatlah dirimu cantik dengan tersenyum dengan tulus. Selain memancarkan aura positif juga akan membuat diri lebih baik ketika sedang bersedih. Seorang teman pernah berkata,

"Tersenyumlah meskipun sedang beersedih, dan tanpa sadar sedihpun akan menghilang"

Memang tidak ada kaitannya dengan 'cantik' secara langsung. Tapi siapa sih yang tidak akan terlihat cantik ketika seseorang itu bahagia? 

Minggu, 18 Januari 2015

Blog Bara (Bara)

Sekian banyak kejadian yang ku lalui bersama Lian, sekian banyak pula kenanganku bersama Bastian mencuat. Jujur saja, akulah yang sangat salah dengan itu semua. Seakan aku menyandingkan Lian dengan Bastian. Tak ada maksud untuk berbuat demikian, siapa yang bisa menghalau memori untuk muncul? Entah siapa yang menjadi bayangan siapa. Jika Bastian adalah bayangan Lian, itu tak mengapa karena memang Lianlah yang kini bersamaku. Tapi jika sebaliknya? Itu masalah besar.


Sungguh, tak ada maksud untuk itu semua. Ku harap Lian mengerti jika ia tahu tentang hal ini, tapi apakah bisa? Siapa yang senang jika dijadikan bayangan? Tentu tak ada. Sejauh ini di mataku hanya ada Lian, meski tak dipungkiri sekilas banyangan Bastian terbersit di kepalaku, mendesak seakan tak ingin dilupakan.

Blog Bara (4)

Besok Bara akan survei sekolah yang akan diawasnya Minggu nanti, sekitar di daerah Jakarta Pusat, dekat Pasar Senen. Sebelumnya Bara sudah cukup sering ke pasar Senen karena urusan kepaanitiaan, tapi hanya di sekitaran stasiun Pasar Senen saja.

Rencananya Bara akan survei sendiri, karena Ake sedang tidak enak badan. Kebetulan, besok Lian juga akan survei sekolah. Dan ternyata Lian mengajak Bara untuk survei bersama, tetapi karena lokasi sekolah yang cukup jauh akhirnya Bara menolaknya. Tak banyak alasan bagi Bara selain tidak enak karena selalu merepotkan Lian.

                “Kamu beneran sendiri, Ra? Gak apa?”, tanya Ake lewat telpon.
                “Gak papa, Ke. Besok pokoknya lancar jaya deh pas ke sana”, jawab Bara dengan tertawa.
                “Yakin? Minta temenin Lian gih, kan lagi deket tuh”, balas Ake dengan bercanda. “Kamu udah dimana, Ra?”
                “Ya kali Ke, siapa ane. Hu......", ujarnya yang kemudian tertawa lagi. "OTW pasar Senen”
                “Gak rame? Sekarang kan weekday?”
                “Kan udah siang Ke, jadi gak desek-desekan banget. Lagi pula kalo gitu aku gak akan bisa angkat telepon kamu”
                “Maaf ya, gak bisa nemenin. Hati-hati ya Ra”
                “Selow aja Ke, cepet sembuh yo”

Percakapan itu pun selesai. Sesaat Bara memikirkan apa yang diucap Ake, apa seharusnya dia menerima ajakan Lian kemarin? Tapi Bara menampik jauh-jauh pikiran itu, karena sangat jelas akan merepotkan Lian.

Bara memutuskan untuk transit dua kali, dari Pocin transit di Manggarai menuju Jatinegara lalu ke Pasar Senen. Dari stasiun Pasar Senen ia naik bus coklat yang tepat behenti di pintu stasiun Pasar Senen, sebelum naik Bara bertanya pada sang kenek alamat yang ia tuju, apakah dilalui atau tidak. Sesaat sebelum sampai tujuan, sang kenek mengingatkannya tentang alamat yang Bara sebutkan sebelum naik.

Tidak begitu jauh, tapi juga tidak dekat jika ditelusuri dengan berjalan kaki. Bara turun di suatu gang yang penuh dengan bapak ojek. Ia kembali menanyakan alamat sekolah yang ingin dituju pada seorang bapak ojek di sana. Bapak itu mengatakan sekolahnya hanya tinggal jalan saja ke dalam dan nanti di sebelah kanan akan ada plang bertuliskan nama sekolah. Sang bapak bilang lumayan jauh, tapi Bara memutuskan untuk berjalan kaki saja, sebab sedari tadi ia hanya stuck berdiri ataupun duduk saja. Sambil melihat-lihat daerah sekitar Bara putuskan untuk memeriksa handphone, sedikit berharap akan ada yang menghubinnginya. Dan benar aja ada pesan dari seseorang yang kini membuatnya tersenyum kecil, Lian. Dia bilang kalau dia sudah sampai sekolah yang ia tuju dan juga menanyakan apa Bara sudah sampai atau belum. 

Setelah dijalani, letak sekolahnya tidak begitu jauh dari pangkalan ojek . Meski untuk beberapa orang sepertinya itu cukup jauh, terlebih jika berjalan sendirian seperti yang Bara lakukan. Sekolahnya rapih dan bersih. Hari itu ada beberapa ekskul yang masih mengadakan kegiatan, seperti PMR atau Rohis. Karena waktu zuhur sudah tiba, Bara putuskan untuk beristirahat sebentar di musholah setelah sholat. Musholah itu berAC, membuat Bara seakan tidak mau pergi dan ingin tidur siang saja di sana. Tak lama, ada pesan masuk ke handphonenya.

                Lian: Gue udah di luar

Pesan yang buatnya terperanjat dan reflek melihat jendela musholah yang menghadap gerbang. Lian di sana, memakai kaos bergaris gradasi biru. Pemandangan itu membuatknya tersenyum, entah karena Lian di sana atau karena sesuatu yang lain.

Dengan bergegas Bara keluar musholah, tetapi sebelum menemui Lian, ia sempat bertanya pada salah seorang siswa terkait rute dan kendaraan umum menuju sekolahnya dari stassiun Pasar Senen, sekedar untuk memastikan kelancaran besok.

~!@#$%^&*()_+

Senin ini peringatan ulang tahun sekolah, jadi upacara berlangsung lebih lama karena pengumuman yang begitu panjang lantaran pengumuman juara lomba di minggu sebelumnya diumumkan, serta pemberian penghargaan kepada beberapa siswa teladan di beberapa katagori. Sorak sorai sekumpulan anak menghiasi lapangan saat perwakilan kelasnya menjadi pemenang. Sayangnya Bara yang sangat ingin merasakan momen tersebut tidak bisa ikut serta lantaran kondisi tubuhnya yang drop disaat pembacaan doa.

Karena hari ini hari ulang tahun sekolah, jadilah siswa-siswa diberi hadiah pulang lebih awal setelah upacara berakhir. Beberapa teman sekelas Bara menemuinya, sekedar menanyakan keadaannya dan membawakan tas yang tertinggal di kelas. Ani sempat mengatakan bahwa Bara memperoleh piagam penghargaan yang bisa diambil di perpustakaan karena tadi ia tidak maju untuk menerimanya langsung.

Alhasil ia pergi ke perpustakaan untuk mengambil piagam itu. Di tangga depan perpustakaan ada Bastian sedang duduk seakan menunggu seseorang. Bara yang melihatnya memberi senyum sekenanya, sebagai ungkapan hai yang tidak terucap.

Tak lama proses pengambilan piagam itu, karena Bara cukup dekat dengan sang ibu penjaga perpustakaan dan dengan singkat ia memperoleh piagamnya. Saat memakai sepatu Bara sempat melihat Bastian masih di sana, melihatnya dan tersenyum. Rasa risih mencuat dihati Bara, seakan memacunya untu cepat-cepat menghilang dari pandangan Bastian.

                “Ada apa?”, tanya Bara pada Bastian yang kini di sampingnya saat dia merapihkan rok ketika berdiri.
                “Mau pulang”, jawabnya singkat.

Mendengar hal itu membuat Bara jengkel, entah karena sikap atau jawaban Bastian yang tidak sesuai yang dia inginkan.

                “Mau kemana?”, Bastian sontak bertanya karena Bara tidak berbelok ke gerbang sekolah. “Mau pulang kan?”
                “Kenapa?”
                “Mau pulang bareng?”, tanya Bastian dengan agak canggung.

Seakan ada bunga yang bersemi saat itu di hati Bara, tapi ia sendiri masih tidak tahu kenapa. Jawaban sekaligus pertanyaan Bastian seakan menjawab harapannya.


                “Mau jemput Ikha, dia pasti masih nunggu di sana karena gak tahu aku tadi gak ikut upacara”

Rabu, 14 Januari 2015

Kisah (2)

Natan

Sore ini aku berencana ke rumah Nina. berbekal bunga dan coklat serta keberanian aku datang menemuinya, gadis yang sangat aku suka, sangat ku nanti untuk dapat bertemu dengannya lagi. Dari balik jendel kamarnya aku melihat Nina seakan tengah bersiap-siap pergi. Dari jauh aku melihatnya, ya, dari jauh, tapi rasanya begitu bahagia.

Belum sempat ku pencet bel rumahnya, Nina keluar.

   "Hai, cari siapa?", ujarnya sambil seakan meneliti tentang ku. "Natan? Kamu Natan kan?", lanjutnya yang melihatku terdiam saja.
     "Hai Nina, aku kira kamu lupa", balasku agak gugup sambil tersenyum.
     "Aku gak lupa, cuma pangling. Kamu berubah banget, makin ganteng. Itu buatku?", Nina berucap penuh riang, dan menanyakan bunga serta coklat yang ku bawa.
      "Hampir lupa sangking terpesonanya sama kamu, iya ini buat kamu"
      "Bisa aja kamu, Tan. Makasih ya"

Nina tersipu mendengar ucapanku yang seakan menggombal, tapi itu jujur ku katakan padanya. Kami berpandangan sesaat, lalu terbuyarkan oleh suara mobil yang kini terparkir di depan rumah Nina. Mobil Honda Jazz merah mengkilap, pengendaranya keluar dan melambaikan tangan pada kami, yang kemudian dibalas oleh Nina dengan riang.

     "Natan, maaf kayaknya kita gak bisa ngobrol lama. Dilanjut lagi nanti gimana? Soalnya aku udah janjian sama Kiki atau mau ikut kita aja, biar sekalian aku kenalin sama Kiki. Yuk!"

Nina menarik tanganku, menghampiri laki-laki yang ia panggil Kiki. Sedikit khawatir tentang siapa Kiki yang membuat Nina begitu riang.

     "Kiki kenalin ini Natan, sahabatku dari kecil dan kita baru ketemu lagi loh seteah sekian lama gak ketemu karena aku pindah ke Bandung", Nina menjelaskan posisiku pada Kiki. terasa menggantung bagiku karena Nina hanya menganggapku sahabatnya.
      "Hai", ujarku yang juga dibalas hai oleh Kiki.
    "Dan Natan kenalin, Kiki pacarku. Kiki senior aku di sekolah, kita sempet LDRan satu tahun karena Kiki balik ke Jakarta karena ikut mamanya", perjelas Nina yang terasa menusuk jantungku begitu telak, hingga sulit bagiku bernafas saat itu. "Hari ini kita mau nonton, kamu mau ikut? Ikut yuk Tan, kan udah lama juga kita gak ketemu. Kiki, Natan boleh ikut ya?", ajak Nina sambil merengek padaku dan Kiki agar mengizinkan.

Kiki hanya tersenyum sambil mengguk pada Nina, tak berucap kata. melihat itu Nina sangat riang, tapi terlihat bahwa Kiki tas seriang Nina. Jujur aku ingin merebut Nina darinya, mengambil kesempatan untuk memperlihatkan siapa aku sebenarnya, aku yang tahu segalanya tentang Nina. Tapi rasanya masih begitu sesak, sakitnya seakan merambat ke tubuhku yang seakan ngilu pada tulang.

     "Nanti aku jadi kambing conge lagi. Gak ah"
     "Yah Natan, kan seru kalo makin rame. Gak akan jadi kambing conge kok. Filmnya juga bagus, bukan romace", rengek Nina padaku.
    "Iya buka romace, tapi action. Lagi pula Nina kan bawel jadi gak akan jadi kambing conge", Kiki yang membuka kata yang dibalas pukulan oleh Nina yang tidak terima dikatakan cerewet. "Kamu kan memang cerewet. Hu..."

Mereka bertengkar kecil di depanku, meskipun begitu aku melihat raut bahagia di wajah Nina ketika bersama Kiki, rasanya sakit.

     "Emang bener kok kata Kiki, kamu itu bawel"
     "Ih, Natan kok belain Kiki sih"
     "Bener kan tuh, kamu bawel, cerewet!", Kiki kembali berucap dengan canda.
     "Udah dulu ya, kebetulan aku ada janji sama akan-anak buat main futsal", potongku pada mereka yang masih bertengkar kecil.
     "Jadi gak ikut nih?", Nina seakan tak rela.
   "Menurut situ?", balasku sambil tertawa. "Bro, mungkin kapan-kapan kita bisa main futsal bareng. Suka futsal kan?", ajaku pada Kiki, agar terkesan tidak canggung.
     "Sip......"

Percakapan singkat antara kami bertiga berakhir. Aku pergi setelah mobil mereka menjauh dari pandangan. Rasanya begitu sesak, ku kira kami bisa lebih dari sekedar sahabat. Lebih.

~!@#$%^&*()_+

Terry


     "Bagaimana laporan minggu ini, Terry?", kepala UKS menanyakan padaku terkait perkembangan klientku.
     "Sejauh ini baik bu, klien jadi lebih terbuka dengan yang lain dan tidak begitu memikirkan perihal putus seperti minggu kemarin"
     "Dimas, kalau yang kamu tangani bagaimana?", lanjut kepala UKS menanyakan kami, para psikolog remaja, satu persatu.

Selain sebagai siswa, kami perwakilan dari beberapa kelas ditunjuk oleh kepala UKS untuk menjadi psikolog kecil. Kami diberi pelatihan khusus oleh kabupaten kota untuk menangani kasus psikologis remaja. Kami juga memiliki link ke beberapa puskesmas yang tersebar di kota, selain itu kami juga digaji sehingga kami harus bersikap profesional. Tidak membocorkan identitas klien dan bersikap terbuka untuk semua kasus teman sebaya di sekolah, meskipun kasus tersenub merupakan kasus remeh temeh, atau sekedar cerita yang ingin didengarkan. Tugas kami mendengarkan dan berbagi serta memantau beberapa klien yang harus ditanggapi khusus. Pertemuan tiap Rabu dilakukan sebagai upaya sekolah memantau kinerja kami sebagai psikolog, meski tak jarang tak banyak laporan yang bisa kami berikan.

   "Lama ya Nes? Sorry, tadi lumayan banyak yang diomongin soalnya", pintaku yang membuat teman baikku menungguku pulang, Agnes.
     "santai aja kali, Ry. Kayak ke siapa aja deh."

Aku dan Agnes dikenalkan secara tidak sengaja oleh Puji, teman TKku, dan teman SDnya Agnes. Kami semua kini bersekolah di SMP yang sama, membuat kami secara tidak langsung sering bertemu. Mungkin awalnya aku dan Agnes diperantarai oleh Puji, tetapi karena rumahku dan rumah Agnes berdekatan akhirnya aku dan Agnes semakin dekat, selain itu Agnes juga merupakan salah satu klienku, sehingga bisa dibilang aku cukup mengenal Agnes.

Meskipun demikian, aku tidak pernah bercerita tentang sesuatu yang penting pada Agnes, pada siapapun. Aku lebih banyak mendengarkan, dan enggan untuk menceritakan. Karena tak ada masalah besar menyangkut kehidupan remaja, seperti pacaran. Aku tidak punya pacar, meskipun sering kali aku menerima klien yang membicarakan hal itu. Lucu memang tapi tidak masalah, malah bagus. Jadi aku bisa berbagi pendapat dengan menggunakan logika, bukan emosi seperti gadis remaja pada umumnya.

Selama ini semua berjalan baik, semua klienku tidak banyak mengeluh karena pendapat yang ku bagi salah atau berakibat buruk. Klienku seluruhnya wanita, karena klien laki-laki akan segera dialihkan ke temanku yang laki-laki. Kami melayani berdasarkan gender. Salah satu hal yang cukup dihindari adalah teriat emosi lebih dari pada sekedar rasa empati pada klien, karena akan mengganggu kinerja kami.

~!@#$%^&*()_+

Natan

Emosiku tak terbendung, seakan pecah hingga akhirnya tak bersisa. Aku tidak menangis, tidak. Hanya termenung menatap kosong langit-langit kamar yanng putih polos. Minggu ini bi Dian tidak datang ke rumah, renacananya aku dan papa akan berkunjung ke rumah om Ali Sabtu nanti, berkunjung dan memperkenalkanku dengan keluarga papa. Dan aku bisa bercerita banyak dengan bi Dian tentang hari ini.

Bi Dian mungkin cerewet, bawel, tapi dia perhatian dan cukup memahami kondisiku. Bukan tidak terbuka pada papa ataupun mama, hanya saja aku tidak ingin membuat mereka khawatir tentangku. Mungkin ini masalah sepele, kisah kasih remaja yang kandas seperti pada umumnya kisah. Tapi yang membautku tidak bisa melepaskan Nina adalah perasaan yang terendap begitu lama, membuatku tidak bisa terima mengapa Nina memilih Kiki seniornya yang baru ia kenal saat sekolah, bukan aku.

Emosi seakan tak mau lari, meski ekspresi untuk mengungkapkannya telah membeku. Memperlihatkan wajah datar yang tak peduli. Aku sangat menyukainya, aku menyukai Nina. Tapi apalah aku, jika memang Nina bersamaku kini apa mungkin Nina akan seriang ketika bersama Kiki tadi? Dengan apa aku akan menjemputnya pergi? Jangankan mobil, motor saja kini aku tidak ada. Mungkin lebih baik saat ini Nina bersama Kiki, tapi nanti ketika aku mampu Nina akan lebih baik bersamaku. Karena aku yang paling mengerti Nina, itu pasti.

~!@#$%^&*()_+

Terry

Dari banyak kasus yang ku tangani, banyak mereka yang berpacaran hanya menganggap itu hanyalah hubungan selingan, penyemangat untuk ke sekolah, atau teman bermain ketika ingin pergi berdua. Atau bahkan status gengsi ketika teman-teman klien sudah punya pacar. Rasanya begitu sederhana alasan yang dibuat, tapi itulah adanya. Aku tidak menyalahkan, tetapi tidak juga membenarkan. Jarang diantara mereka berpasangan menggunakan hati, kebanyakan hanya lebih menggunakan emosi.

Tidak sedikit pula yang terjebak dengan obsesi, menyamakan status pacar dengan hak untuk memiliki lebih. Protektif seakan sang pacar adalah hewan yang terkekang lehernya. Semua serba salah ketika mereka berjauhan, curiga menjadi bom waktu yang menanti untuk meledak. Aku heran, banyak diantara mereka mengatas namankan cinta, tapi banyak pula diantara mereka bahkan tidak tahu definisi cinta itu apa. Aku sendiripun tidak banyak tahu cinta itu apa, yang aku tahu cinta itu perasaan yang bukan hanya terucap, tetapi dilakukan untuk melidungi bukan untuk merusak yang dicintai. Jadi bagiku, jika sang pacar mencintaimu maka ia akan melindungimu hingga dirimu menjadi haknya dan begitu sebaliknya. Jika sang pacar hanya bermain denganmu, maka ia akan melakukan sesukanya padamu hingga akhirnya dia bosan atau dirimu rusak dan tidak bisa dimainkan lagi.

Mulut sering kali berdalih, berdusta seakan salah menjadi benar. Mata sering kali buta, saat kata cinta beralun dalam melodi yang menyejukkan hati meski hanya sekedar ilusi. Menebar kasih boleh, tapi menebar mantan tidak selalu berarti sama ddengan hal demikian. Banyak mantan bukan berarti hebat. sering kali 'laris' selalu beriringan dengan 'murah'.


Kamis, 25 Desember 2014

Hai Semua... Salam Kenal

Transfer Post by My Blog: smartshare.blogspot.com / 2011, dengan perubahan

Hai, salam kenal semua. Sepertinya perkenalan itu penting.
Seperti pepatah “Jika tak kenal maka tak sayang”. Tapi aku juga tidak terlalu berharap pembaca akan menyanyangiku seperti kata pepatah itu.

Ini blog pertamaku, My first blog. Pertama kalinya menulis panjang lebar dan mempublisnya di internet. Agak malu memang, tapi setiap hal pasti ada awal. Dan hampir setiap ‘awal’ itu membuat tegang, gugup, atau memalukan serta menakutkan.

Tujuan aku membuat blog ini adalah untuk membagi kisah, pikiran, rasa, dan apa saja yang bisa kita share. Yang ku harap mampu menghibur atau pun menginspirasi kita semua. Mengambil hal baik dan berguna, serta membuang hal buruk dan tidak berguna dari isi blog ini. Pembaca juga busa mengkritik langsung, tapi jangan menggunakan kata-kata kasar. Karna di sini kita berbagi, bukan berkelahi. (Okey)

Apakah perlu alasan mengapa aku ataupun pembaca perlu berbagi di blog ini?
Aku tidak bisa memberi jawaban yang jelas tentang hal itu, tapi mungkin kalimat ini akan mewakili jawaban yang diperlukan.

“Dalam hidup, jalur nyaris tanpa perlawanan adalah tutp mulut (tidak mengatakan apa yang kau rasa, kau pikir, kau alami, intinya tertutup dan memendam masalahmu sendiri lalu mengikuti arus tanpa perlawanan untuk mencari aman). Bila kau tidak mengekspresikan perasaan dan pikiran kepada orang lain, kau tidak perlu berurusan dengan reaksi mereka (orang-orang yang menentangmu). Kau tidak perlu merasa rentan, kau tidak mengambil resiko ditolak. Tapi jalur nyaris tanpa perlawanan itu pasti mengarah ke tujuan perjalanan, yakni tidak kemana-mana.” Crank, pada buku Life’s Golden Ticket.

Intinya, tak akan ada yang tahu persis apa yang kita mau jika kita tidak mengungkapkannya. Orang lain hanya akan menebak-nebak tentang kita. Dan kita hanya mengikuti arus tanpa melangkah maju untuk sampai tepi sungai karna enggan merasa lelah, yang membuat kita hanya berada pada garis yang sama. Hal ini akan membuat kita terjebak pada situasi yang mengarahkan kita, bukan kita yang mengarahkan situasi. Jadi, ungkapkan apa yang kamu mau. Sehingga orang-orang tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membuat kita senang.

Jujur, dulu aku juga tertutup dengan orang lain. Aku tetap bergaul, berbaur, dan berbagi kisah. Namun bukanlah hal yang penting untuk dibagi, malah terkesan seperti hal yang tidak penting namun ‘dipaksa’ menjadi sesuatu yang penting. Aku lebih sering mendengarkan kisah-kisah yang berarti bagi orang lain, namun aku sangat jarang berbagi hal yang berarti dari hidupku pada orang lain. Membenamkan diri dengan rasa ‘sok tahu’ mampu menyelesaikan masalah itu sendiri. Terus berusaha terlihat ceria, riang, seperti tanpa masalah. Tapi lelah sekali bersikap seperti itu. Mungkin aku bisa menipu orang lain, tapi aku tidak bisa menipu diri sendiri.

Sampai akhirnya aku mendapatkan buku berjudul “Life’s Golden Ticket” yang ku dapat dari bertukar kado sewaktu bukber bulan kemari bersama teman-teman sekelas di SMA. Pokoknya ini awal baru bagiku, fase yang kuharap nerguna bagi kita kelak. Semangat!

“Sabar yo, hidup itu memang butuh perjuangan. Semangat!”

~!@#$%^&*()_+

"Gile, post jaman baheula make bahasanya formal badai. Kaku beud. hehehe... " -me, now

Lautan Harapan Sang Sukses

Transfer Post by my blog: smartshare.blogspot.com / 2011

pagi ini aku baru sampai di Depok setelah perjalanan sehari semalam dari Palembang (mudik). melelahkan memang, tapi ku rasa banyak hal bisa ku dapat dari perjalanan itu. aku dan keluarga menyewa sebuah mobil untuk mengantar kami pulang, sebuah APV Arena hitam yang cukup nyaman, bahkan sangat nyaman untuk kami yang tidak memiliki mobil pribadi. hhe....

kami memulai perjalanan kami setelah makan siang usai. sekitar pukul setengah dua siang kami berangkat, setelah sebelumnya berpamitan dengan keluarga besar yang membuatku rindu ingin kembali. selama perjalanan aku mengisi waktu dengan membaca buku yang ku pinjam dari teman satu SMA dan kini satu fakultas denganku, Dummy, dengan diiringi musik Justin Bieber - Should be me aku asik dengan duniaku sendiri. sampai akhirnya hari sudah senja, jam di tanganku telah menunjukkan pukul setengah enam sore. dikejauhan nampak matahari yang telah memerah sambil terus meringkuk menuju ke bawah seakan ingin bersembunyi di balik pepohonan. segaris orange dan pink menyatu membentuk pemisah antara langit malam dan senja yang semakin pekat.

lampu dalam mobil sengaja tidak dihidupkan untuk menghindri kesan mencolok pada kami yang di dalam. dan secara otomatis kegiatan membacaku terhenti saat matahari benar-benar hilang dan digantikan oleh sang bulan yang terpotong setengah. aku pun kembali mencari kegiatan untuk membunuh rasa bosan. musik yang tadi mengiringi kegiatan membacaku pun ikut dimatikan, kemudian ku ubah dengan membuka facebook. sinyalnya sangat jelek, naik-turun, hilang-muncul, membuatku kesal dan menekan-nekan handphone itu dengan agak keras. hal itu sontak membuat adikku marah, karna dia tidak ingin handphonenya rusak karnaku. wajar saja karna handphone yang kupegang adalah handphonenya, sedangkan aku tidak memiliki handphone lantaran rusak hingga hanya putih yang terlihat di layarnya. aku memang ceroboh dalam hal demikian.

dengan reaksinya yang seperti itu aku langsung meminta maaf dengan nada menyesal, berharap ia masih mau meminjamkannya padaku. setelah sinyalnya sudah cukup bagus, kembali aku berusaha membuka facebook yang tadi sempat tertunda. yang pertama ku lihat adalah notification yang cukup banyak terpampang di atas beranda, isinya tentang hal-hal yang menyangkut tentang ospek yang akan ku jalani nanti bersama teman-teman sejurusan, matematika. setelah selesai dengan semua notification itu aku langsung beralih mencari nama seseorang, TS. ia kakak senior satu fakultasku, namun tidak satu jurusan, aku matematika dia biologi. ia memberi banyak inspirasi kepadaku, bukan dengan sikapnya tapi dengan tulisan-tulisannya. jujur aku tidak mengenal siapa dia, bahkan aku takut untuk tau siapa dia. aku melihat note-notenya, dan terdapat note terbaru judulnya "Hujan yang Mewangi". note itu baru bisa ku baca ketika kami di pelabuhan, mengantri untuk masuk kapal yang siap mengangkut kami kembali ke pulau Jawa.

dalam note itu terdapat hal yang tersirat, yang kemudian dia bold dan italic sebagai penekanan olehnya. ceritanya memang tidak panjang, namun sunggu mengispirasi bagiku. meskipun ada beberapa kata yang tidak sependapat dengaku, namun itu bukanlah masalah. ia berpendapat kalau kita harus bisa mengambil kesempatan yang ada, tapi aku berpendaat kitalah yang harus membuat kesempatan kita sendiri. kadang situasi membuat kita lupa apa sebenarnya yang kita tuju hanya karna kesempatan yang seringkali menggiurkan namun kita belum siap menerimanya. mungkin akan sangat sayang untuk dilepas, tapi akan lebih sayang lagi jika kita menanggalkan apa yang menjadi tujuan awal demi hal yang belum tentu dapat kita pikul. memang terdengar agak pesimis, tapi masih ada banyak kesempatan jika kita memberikan jalan untuk kesempatan itu menghampiri kita. seringkali hal baik tidak didapat secara instan bukan? jangan buat situasi mengontrol kita, tapi buatlah situasi yang mengikuti kita. tapi hal ini bukan berarti kita harus menjadi penentang yang ekstrim, ingat! setiap tindakan harus bertanggung jawab dan dapat dipertanggung jawabkan kelak. (okay)

"berbicara memang lebih mudah dari pada melakukan, tetapi hal yang tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. mungkin saja, meski butuh pengorbanan ektra untuk mewujudkannya. semangat...!"

kembali ke topik,setelah membaca note itu aku menjadi lebih, lebih, dan lebih mensyukuri apa yang ku dapatkan kini. membuatku lebih sering membuat mimpi yang terus ku kejar agar tidak sekedar menjadi mimpi-mimpi belaka dan membuatku menunduk untuk terus bersyukur dengan apa yang telah diberikan Tuhan.

selang beberapa menit berlalu, mobil kami mulai berjalan memasuki kapal. mobil kami di lantai dua, membuat kami nyaman tanpa harus pergi ke atas kapal. angin sepoi-sepoi membuatku menendangkan lagu yang cukup memadai untuk suaraku yang sedang serak karna batuk. dua jam telah berlalu, pelabuhan merak telah terlihat. lampu-lampu di tepi selat terlihat berwarna-warni, berkelap-kelip seakan menjadi bintang di daratan yang gelap. tetapi kapal kami masih saja belum melabuh hingga tiga jam pun berlalu dengan kami terus mengapung tanpa ke tepi. ternyata kapal yang kami tumpangi sedang menunggu gilirannya karna banyak kapal yang juga ingin menepi.

selang satu jam itu aku sempat berbincang-bincang dengan seorang bapak-bapak yang usiannya (sepertinya) tidak jauh dari bapakku. namanya pak David, beliau dari Padang dan hendak menuju Bekasi. beliaulah yang pertamakali mengajakku berbincang-bicang, mungki karna melihatku bosan dan terus menyanyikan lagu yang sama berkali-kali, Demi Lovato - Cacth. awalnya pak David menanyakan asalku dan hendak kemana, lalu berlanjut dengan menceritakan tentangku, tentangnya dan tentang keluarganya. untuk sesaat aku terdiam sejenak, bertanya-tanya mengapa beliau menceritakan hal itu padaku. tentang keluarganya yang sudah tidak utuh, tentang anak pertamanya yang telah tiada dan tentangnya yang kini sedang cuti bekerja di Bangka. awalnya aku sangat canggung, karna aku tidak pandai dalam hal mengungkapkan. kadang apa yang ku ucap tidak seperti apa yang ada di otakku. hal ini membuatku takut kalau-kalau salah bicara pada beliau. tapi lama-kelamaan aku seperti melihat curahan di setiap kata-kata pak David yang membuatku fokus mendengarkannya. fikirku, mendengarkan akan lebih baik ketimbang aku berkata-kata yang tidak sesuai nantinya.

beliau menceritakan tentang istrinya yang kini bekerja sebagai guru SMP di Padang, yang telah berpisah lama dengannya. aku tidak berani menanyakan mengapa mereka berpisah. beliau juga menceritakan tentang anak pertamanya yang kini telah tiada, dengan kata andai di depannya beliau bilang kalau anaknya masih hidup mungkin dia akan duduk di bangku SMA kelas 3. seperti sebelumnya, aku tidak berani menanyakan karna apa anaknya meninggal. selama pak David bercerita yang kulakukan hanya diam dan mendengarkan. terlihat raut sedih di wajahnya yang telah menua dimakan usia, lalu setelah selesai bercerita beliau langsung tersenyum. seakan sedikit banyak ada hal yang dapat membuatnya lega dan tanpa kendala menghadapi semua masalah itu. aku pun ikut tersenyum. lalu beliau bertanya padaku tentang cita-cita yang ingin ku capai.

baliau mencetuskan kata Dosen, aku menjawab iya, aku mau menjadi dosen. tapi aku juga mau menjadi seorang aktuaris sukses. beliau memberi pendapatnya padaku tentang kedua pekerjaan itu. beliau bilang Dosen itu lebih memiliki wibawa, selain berbagi ilmu dosen juga memberikan banyak waktu untuk keluarga. sedangkan aktuaris memiliki sedikit kendala dalam hal pendapatan jika aku tidak pandai menarik nasabah. aku pun memberikan argumentku, kalau aku akan berusaha mencari nasabah sebanyak-banyaknya, kalau perlu aku menjadi dosen sekaligus agent asuransi. meski sekarang ini aku agak-agak bodoh dalam hal mengungkapakan tapi nanti insya Allah akan terbiasa. pak David tertawa, lalu tersenyum beliau bilang aku harus ikut satu jurusan lagi, yaitu jurusan "R". aku berucap dengan spontan menerka tentang jurusan "R" itu, "jurusan rajin pak", pekikku dengan semangat. "itu mah semua fakultas harus punya", tambahku dengan santai namun berusaha sesopan mungkin. pak David tersenyum lagi lalu menyetujui apa yang ku ucap dan berkata kalau aku sudah cukup baik dalam hal komunikasi.

sejenak ku lihat beliau seperti berharap, lalu berkata seakan memberi wejangan pada anaknya. "kamu harus rajin belajar, tamatkan kuliahmu, bekerja lalu menikah. jangan terfokus untuk karir saja lalu melupakan keluarga.", wejangannya yang memberikan kesan bahwa beliau merindukan keluarganya. aku agak canggung menerima wejangan itu, karna aku tidak tahu harus berkata apa selain kata "iya, insya Allah pak" sambil tersenyum.

tak berapa lama kapal kami menepi ke dermaga, membuat percakapan kami selesai. sebelum aku pergi memasuki mobil aku bertemikasih, berpamitan, salim, lalu mengucapkan salam dan kemudian mendur beberapa langkah lalu berbalik menuju mobil yang tak jauh dari sana. melihat, mendengar dan merasakan sikap pak David tadi membuatku teringat akan note yang ada di facebook kak Tirta, "Hujan yang Mewangi". topiknya tidak jauh berlainan, membicarakan tentang kesempatan, hanya saja ada sedikit perbedaan di sana. dalam kisah kak Tirta sang bapak penjual minyak wangi itu kesempatannya terlepas  karna terlalu hanyut dengan kepandaian yang dimiliki beliau namun dapat melihat anaknya sukses meneruskan cita-cita beliau yang sempat tertunda. sedangkan pak David, beliau mendapatkan kesempatannya untuk menjadi sukses namun terlalu hanyut dalam kesuksesannya yang membuat sisi lain kehidupannya gagal.

kesimpulan yang kudapat, menurutku.
kesempatan akan memberimu sebuat pilihan dengan banyak kemungkinan, entah engkau gagal lalu kemudian sukses, entah sukses lalu kemudian gagal, entah gagal lalu terus terpuruk dengan kegagaglannya, atau mungkin sukses dan terus sukses di sisi keidupan lainnya karna keseimbangan yang dijaga. entah, tapi semua itu hanya akan terus menjadi kemungkinan yang mengarahkan kita ke salah satunya atau mungkin kitalah yang mengarahkan diri ke salah satunya. semua tergantung pada apa yang kita pilih dan kita lakukan. ketika kita memilih sesuatu, kita akan mendapat keuntungan sekaligus resiko atas apa yang telah kita jalani. jadi bertanggung jawablah, dan tetap berpegang teguh pada Tuhan agar kita terus mendapatkan rahmat-Nya atas apa yang kita lakukan. (Aamiin..)

dan syukur alhamdulillah kami sampai di Depok dengan utuh pukul setengah enam pagi tadi dan dapat berbagi apa yang ku alami selama perjalanan menuju kemari. meski tidak detil, tapi ku harap hal itu cukup berharga.

"Inspirasi tidak hanya datang dari orang-orang berdasi tapi bisa dari mana saja, bahkan mungkin dari seseorang yang sering kali terabaikan. jangan lihat siapa yang berbicara, tapi lihat apa yang ia bicarakan." -Bril