Minggu, 26 Juli 2015

My Depressed (Dream in Dream) (3)

layar menjadi gelap lalu kembali terang, memperlihatkan adegan lainnya dari kenangan masa silam.
~!@#$%^&*()_+
perlahan semua sepupu pulang ke rumah masing masing, tak banyak yang tersisa dari sepekan saling mengenal melalui kerja mengerjai. keakraban yang kini terasa terlambat, tapi membuat kami saling merindukan.
“waktu pertama kita ketemu, aku ngerasa kamu itu cewe ngeselin, nyebelin, anta, ga banyak omong, dingin, ga gaul, banyaklah”, ujarnya sambil tersenyum dan melihat ekspresiku yang mengkerut. “tapi sekarang beda, ternyata kamu itu menyenangkan, meski kadang masih tetap menyebalkan”
“sama aja, aku kira kamu itu cowo yang sok ganteng, suka tebar pesona, ngeselin, nyebelin, pengen banget minta tabok, dan lain sebagainya”, jawabku yang tarsenyum. “Dan ternyata emang kamu itu cowo yang sok kegantengan dan suka tebar pesona, dan sok imut”, tambahku menertawakan ekspresinya yang berharap untuk dipuji.
“yah, gimana dong. aku kan emang ganteng. senyum aja banyak yang terpesona, jadi gak perlu tebar pesona.” kalimatnya yang buatku melempar tumpukan bantal di kursi ruang tamu.
~!@#$%^&*()_+
semakin lama tiap bagian yang ku lihat memperlihatkan kedekatan kami, lalu kerenggangan yang mulai mencuat.
~!@#$%^&*()_+
0XXXXXXX123X: Sabtu nanti ada acara?
Me: maaf dengan siapa ini?
0XXXXXXX123X: ini aku, Kemal
Me: kenapa?
0XXXXXXX123X: mau nonton?
Me: boleh
~!@#$%^&*()_+
tak ada film yang bisa kami tonton bersama saat itu, tiketnya habis. alhasil kami pergi ke timezone, menghabiskan waktu dengan bermain basket. aku tidak suka basket, tapi entah mengapa tiap kali ke timezone permainan basket tak pernah terlewatkan olehku. lain cerita dengan DDR, aku sangat suka, tapi sangat jarang aku mainkan.
perjalanan pulang kami terjebak hujan. ya, seperti drama, FTV, dia meminjamkanku jaket, dan membawakanku mie dalam gelas untuk sekedar menghangatan diri. kami berteduh di deretan ruko yang tengah tutup, sebuah bank milik negara, sambil duduk bersebelahan berjarak 2 buah helm. tak banyak yang terucap, seakan masing masing tengah menikmati iringan melodi dari rintik hujan di depan mata.
“mungkin nanti aku akan bekerja di bank, dan bisa saja membeli mobil suatu hari nanti. sampai saat itu tiba, kita akan sering berteduh seperti ini”, suasana terpecah dengan ucapan yang buatku terpanah, ‘kita’.
“hah? kita? kamu aja sendiri. hu........ pegel tau gak bisa nyender, basah, polusi, dll”, godaku sambil tersenyum padanya.
“ralat, gak jadi kita tapi kamu dan aku” semeringah senyum kudanya buatku tersenyum lagi. “kalo pegel sini lah, kan pundakku terbuka lebar”
layar kembali meredup, menyisakan senyum kami yangberbincang sambil menanti hujan reda. aku merindukan itu. 
~!@#$%^&*()_+
part selanjutnya memperlihatkan aku yang menunggu di dekat statiun, lengkap menggunakan seragam sekolah yang masih terpakai rapih.
aku menunggu, melihat pintu keluar tiap kali kereta berhenti. sesekali melihat jam lalu memandang ponsel, apakah ada pesan? atau sebaiknya aku mengirikan pesan? entahlah.
kumandang adzan magrib menyadarkanku, bertapa aku berdiri lama di sana dan tak ada seorang pun yang datang. 
“cepat pulang, sudah jam segini. kamu dimana sih?”, suara ibu memaksaku untuk segera pergi tanpa bertemu dia.
apa terjadi sesuatu? atau mungkin dia lupa? pasti dia sudah datang dan mengerjaiku. pasti begitu, lihat saja nanti, akan ku hajar dia. 
tak ada sosok yang kutunggu di rumah, dan entah mengapa terasa sakit, sakit sekali. tapi aku tetap menganggap itu salahku yang tidak menghubunginya. tapi jujur aku marah, rasanya ingin memaki dirinya. ini bukan yang pertama dia ingkar janji padaku, ini kesekian kalinya.
sejak kerjasama bisnis keluarga kami putus, hubungan kami pun tak lagi seharmonis dulu. tapi mengapa berimbas padaku?
~!@#$%^&*()_+
Kemal: ayo kita bertemu
Me: ah, palingan kamu lupa lagi nanti
Kemal: janji, kali ini jadi.
Me: beneran?
Kemal: iya
Me: dimana?
~!@#$%^&*()_+
aku rasa dia tidak akan datang, seperti sebelum sebelumnya. sudah sering terjadi, tapi aku tetap datang. berturut turut terjadi, tapi tetap ku menyakini dia akan datang.
aku sudah menunggunya 4 jam, tapi tak ada kabar. bodoh, tetapi tetap ku jalani. entahlah.
Kemal: kamu dimana?
Me: kamu dimana?
Kemal: foodcourt dekat lift
Me: aku ke sana.
dia melihatku, melambaikan tangan dengan senyum yang ku rindukan. rasanya penantian itu begitu berbuah manis.
”udah lama ya?”, ujarnya
“lumanyan buat maraton Monas 10 kali”
“maaf deh”, pintanya dengan sok imut lalu melambaikan tangan lagi engan senyum ke arah dimana aku datang.
refleksku menoleh, seorang gadis cantik.
~!@#$%^&*()_+
.....(4)

Minggu, 19 Juli 2015

My Depressed (Dream in Dream) (1) (2)...

pernahkah kau merasa tertekan? rasanya tak ada yang bisa membantumu menyelesaikan masalah. semua terasa terbentur oleh kenyataan. rasanya air mata selalu mengalir karena tekanan yang dirasakan?
aku merasakannya. tak ada yang terbersit di kepala, hanya ingin tidur menghilangkan semua masalah. ya, tak terbersit apapun. termasuk tentangnya.
~!@#$%^&*()_+
     “apa yang kamu kerjain?”, tanyanya padaku.
     “kepo”
tak ada yang ia tanyakan lagi, ia hanya memperhatikanku, mengamati yang ku kerjakan.
     “oh, anime toh. aku juga bisa. liat nih Na”
dia tidak memperbolehkanku melihat apa yang ia gambar. menggambar dan memperhatikanku. jujur, rasa penasaranku memuncak. aku memaksanya memperlihatkan padaku.
     “sebentar lagi, sabar…..”
     “sekarang, mau liatnya sekarang!!!”, menarik narik baju putihnya.
     “bawel…..”
meskipun marah, ia tetap tidak memperlihatkannya padaku. aku kesal, sangat kesal dan aku pergi meninggalkannya menuju dapur, sekedar mencari minum untuk menenangkan emosi.
     “nih….”, berinya padaku yang tak ku gubris sama sekali. “jangan marah, liat dong. halaman ke 2″, lanjutnya dan tetap tak ku gubris.
dia membuka halaman ke dua dan memaksaku melihatnya, sungguh itu membuatku tersipu. itu gambar diriku yang sedang kesal, lucu sekali.
     “jelek”, ujarku sambil pergi.
     “hu….. masa?”, godanya yang tetap tak ku gubris. “lain kali aku buat yang lebih baik, tapi sabar dong”, tangannya menarikku yang membelakanginya untuk pergi dan memberikan gambar itu padaku.
aku memajangnya di binder sekolahku. ku jadikan cover, aku menyukainya. sangat menyukainya.
aku memeluknya saat tidur malam itu, ya malam itu.
~!@#$%^&*()_+
……(2)
Aku seperti melihat sebuah film yang memutarkan semua kenangan kami. Tiap kali terlelap, tiap kali itu pula scene berubah menuju cerita lainnya.
     “kenapa bajuku ada di lemari kamu?”, ujarnya menuduh
     “mana aku tau, aku hanya melipatnya bukan menaruhnya. Yang menaruhnya kan kamu sendiri. Lagi pula salah sendiri kenapa tidak mengeceknya dahulu”
     “tapikan kamu tau mana baju kamu dan bukan, lagi pula itu digantung setelah disetrika”
     “mana aku tau, mungkin ada yang menaruhnya di lemariku”, tatapanku tertuju pada Citra, keponakan terkecil yang paling centil dan sangat mengagumi dia.
     “kalian kenapa sih? Kenapa ribut?”, bibi datang mendengan keributan di kamarku.
     “dia ngumpetin baju aku bi, udah gitu gak mau ngaku lagi”, dia mencari pembelaan dengan ekspresi yang sok imut.
     “OMG, kenapa aku harus berurusan dengannya”
     “aku gak tau kenapa itu baju ada di lemariku. Abis ngelipet aku baca buku di kamar dan gak kemana mana”, pembelaan yang bercuat emosi. “iya kan, aku di sini dari tadi”, lanjutku mencari pembelaan pada yang lainnya, sepupu sepupuku.
Mereka hanya berpandangan dengan mengedipkan mata lalu menggeleng, tanda melepaskan semuanya padaku.
     “fine, mau kalian aku bantu kallian buat ngerjain dia kan. Oke. Aku ikut”, ujar dalam hati.
~!@#$%^&*()_+
     “Na, bantuin ngerjain dia dong. Dia kan dateng bareng kamu, yuk ayuk.”, pinta Amanda padaku.
     “iya dong Na, aku kan mau lebih deket sama kak Kemal”, Citra ikut menambahkan dan menacing reaksi yang lain menatapnya dengan heran.
     “gak mau, gak mau berurusan sama dia”
     “kenapa? Ayolah… dia kan ngeselin, sok cakep, sok gaul, senyumnya pengen banget minta kerjain”, Aninda seakan membela Amanda, saudara kembarnya.
     “karena itu, aku males. Nanti dia keGRan, makin sok cakep, makin tebar pesona”
     “kalau dia bikin masalah sama kak Nana gimana?”, Kinan melontarkan pertaanyaan dengan logat daerahnya.
     “buat apa dia bikin masalah sama aku? Dia terlalu sibuk mengurusi rambutnya”, jawabkku sambil membalik halaman buku.
     “Ada yang liat bajuku?, tiba tiba yang dibicarakan muncul bertelanjang dada.
     “warna apa kak?”, Kinan bertanya seakan tak tahu
     “warna biru yang tadi abis disertikan dan digantung deket jendela kamar seberang”
     “yang ada gambar kayak rusa gitu kak?”, Citra yang centil menambahkan.
dia mengagguk dengan sok imut pada Citra, membuatku mebuang muka dan kembali fokus pada bukuku.
     “tadi aku liat di lemari kak Nana kayaknya ada baju itu.”, ujar Citra dengan penuh keyakinan.
Mendengar hal itu aku langsung menutup buku, “masa? Gak mungkin”
     “ini bukan?”, Aninda memperlihatkan baju itu.
     “iya, kok bisa ada di lemari kamu”
Keributan terjadi, sebeneranya aku tau ini pasti kerjaan Kinan dan Citra untuk membujukku membantu mereka mengerjain Kemal. Sebenarnya aku tetap tidak mau, hanya saja gaya dia yang seakan aku ingin sekali menarik perhatiannya yang buatku gerah. Ingin mencabiknya. Tuhan………
~!@#$%^&*()_+
…..(3)

Rabu, 04 Februari 2015

Popular (1)

                “Ra, temenin gue ke premier filmnya Andri dong”, pinta Nina

                “Ampun Na, lu kan lagi sakit. Ya kali nonton film di bioskop”

                “Ini beda, Andrinya dateng, lagi pula sakitnya gak parah-parah amat kok Cuma flu”

                “Pret flu...”

                “Dari pada gue penasaran dan makin sakiK gimana? Ayo dong Ra, please.....”, ujar Nina dengan manja.

                “Lebeh lu cin. Lagi pula gue bukan dokter mbak e, tanya you punya dokter lah”, Rara menghindar untuk mengiyakan.

~!@#$%^&*()_+

Rara dan Nina, dua orang gadis yang bersahabat sejak SMP. Meski kini mereka beraDa di SMA yang sama, sayangnya mereka tidak sekelas, but itu bukan masalah besar untuk keduanya.

Nina salah satu penggemar Andri Hermawan, seorang artis baru yang namanya meroket tajam berkat tampang dan talent yang menumpuk, baik di dunia seni peran, musik maupun dance. Paket lengkap untuk remaja ababil yang haus pengen punya pacar super, tak terkecuali Nina.

Meskipun Nina dan Rara bersahabat, dan meskipun Nina amat sangat menyukai Andri. Rara yang sangat bertolak belakang dengan Nina, sangat enggan dengan Andri yang baginya bodoh, tampan, berakat, tapi tidak mau sekolah.

~!@#$%^&*()_+

Bioskop Mall Pondok Indah ini sangat sesak, lantaran priemier film yang diintangi Andri akan diputar kurang dari satu jam. Di keramaian itu terdapat dua sosok gadis bersama seorang lelaki yang lebih dewasa. Sang pria hanya diam mengawasi tingkah laku para gadis di depannya yang sangat bertolak belakang. Seorang gadis memakai jins, sepatu kets, kaos, dan terlihat headset  putih tercantol di telinganya. Gadis yang satunya lagi begitu feminim, dengan kaos berenda, rok selutut, flat shoes dan tas manis yang senada dengan sepatunya, yang begitu antusias ketika Andri muncul di sudut keramaian.

                “Ra, itu Andri..... Ra. Ayo ke sana Ra. Kak, ayo ke sana kak”, teriak Nina histeris sambil menarik-narik tangan Rara serta Bima.

                “Iya iya, sabar neng sabar”, ujar Rara yang kini berdesakan menuju Andri.

Bima yang khawatir dengan Nina mencoba menjaganya agar tidak terjepit begitu sesak dengan yang lain. Selain rasa sayanganya pada Nina, juga karena tugasnya menjaga Nina agar tetap terjaga.

                “Hai semua......”, pembuka dari Andri yang membuat fansnya memekik menjawab serentak.

                “Waw, kalian bersemangat sekali, saya juga jadi bersemangat berkat kalian”, senyumnya menebar laksana aroma mawar di pagi hari bagi fansnya. “Sebelumnya terimakasih sudah hadir di sini untuk bersama-sama menonton premier film ‘Kekasih Hati’, dan sungguh saya sangat amat senang karena antusias teman-teman sekarang ini. Jadi gak sabar untuk menonton bersama. Andri’s Power gimana?”

Sekali lagi pekikan para gadis ababil memecah kesunyian sesaat setelah Andri bertanya.

                “Na, lu gak papa? Lu udah pucet tuh”, tanya Rara di tengah kerumunan yang makin menjadi.

                “Gue sehat banget, lu liat dong. Bahagia gini masa pucet”

                “Kamu beneran gak papa?”, kini Bima yang turut memastikan

                “Aduh, kalian nih tenang aja keles. Aku gak papa, nanti kalo gak kuat pasti bilang kok”, protes Nina yang keras kepala.

Tak lama, mereka semua masuk dan menonton film. Kebetulan, kursi Nina, Rara, dan Bima tepat berada di belakang para pemain serta kru film, yang membuat Nina menjerit kegirangan tanpa suara.

Di tengah film berlangsung, Bima menerima telepon dari ayah Nina, dan dengan terpaksa menuju pintu masuk untuk mencari kesunyian tanpa keluar ruangan. Saat Bima pergi, tak lama Anri dan managernya keluar dari ruangan tanpa banyak yang sadar kecuali Nina yang tepat dibelakangnya. Dengan sigap Nina mengikuti jejak Andri, Rara yang tak banyak pilihan memutuskan untuk mengikutin Nina sebagai pengganti Bima menjaga Nina.

                “Andri, boleh minta foto bareng?”, pinta Nina dengan penuh harap pada Andri.

                “Tentu”, jawabnya dengan tebaran senyum. “Kak tolong fotoin kami”, lanjutnya memberi kamera pada sang manager.

                “Kamu gak ikut?”, tanya sang manager pada Rara.

                “Gak kak, makasih. Biar Nina dan Andi aja”

                “Andri, Ra. Namanya Andri”, protes Nina karena Rara salah menyebut nama.

                “Terserah”, bisik Rara yang terdengar oleh semua karena lorong yang sepi.

                “1, 2, 3. Lagi... 1, 2, 3”, intruksi sang manager. “Kamu beneran gak ikut?”, tanyanya lagi pada Rara.

                “Gak kak, makasih”

                “Ayo dong Ra, ikut”, pinta Nina yang diiringi Andri.

                “Gak mau”, kekeh Rara

Tanpa basa basi Nina menarik Rara dengan paksa, “Ayo kak tolong difoto”.

                “Makasih, maaf merepotkan”, Nina mengucap degan senyum yang sumeringah.

                “Sama-sama, terimakasih sudah hadir”, balas Andri yang juga tersenyum. “Kamu sakit? Ehm....”

                “Nina, namaku Nina”, perkenalan yang terjadi dengan tak sengaja. “Aku gak papa kok”

                “Beneran? Kalau begitu saya duluan”

Baru beberapa langkah Andri dan sang manager membelakangi Nina dan Rara, terdengan suara Rara yang panik memanggil nama Nina.

                “Na, Nina bangun Na!”, pangil Rara pada Nina yang tergeletak pucat dipangkuannya.

Dengan panik Rara mencari handphone di kantongnya, mencoba menelpon Bima, tetapi nadanya sibuk. Andri dan sang manager yang kini kembali menghampiri mereka turut panik dan berinisiatif membawa Nina ke rumah sakit.

Dengan menggunakan mobil Andri mereka bergegas pergi ke rumah sakit terdekat. Rara yang tidak bisa berbuat banyak terus berusaha menelpon Bima yang masih saja pada nada sibuk.

                “Nina kenapa?”, tanya Andri.

Tak ada jawaban dari Rara, dia masih sibuk dengan handphonenya. “Bim, Nina pingsan. Sekarang kita lagi menuju rumah sakit Pondok Indah”

Suasana mobil hening, kurang dari 20 menit mereka sampai di rumah sakit tujuan. Nina dibawa ke UGD, Rara, Andri, dan manager menunggu di depan pintu.

                “Dri, kita harus pergi”, sang manager mengingatkan

                “Bisa kita batalin pertemuannya? Gue pengen tetep di sini”

                “Tidak bisa, hari ini casting terakhir”, sang manager mengingatkan.

Seperti arus tsunami, wartawan yang tadi memergoki Andri menggendong Nina menyerbu seakan tak melihat kondisi, bahwa sekarang berada di depan UGD. Blits kamera, perekam, microfone, dan berbagai pertanyaan menyeru tak kenal ampun.

                “Maaf, ini rumah sakit. Bisakah kalian pergi dari sini?”, pinta Rara menahan geram.

                “Teman-teman wartawan, bisa tunggu di luar. Nanti kita bicara di luar. OK?!”, intruksi Andri dengan lebut dan menebar pesonanya.

Wartawan yang cukup mengerti perlahan melangkah pergi, menunggu Andri di luar. Sang manager yang terus saja mengingatkan Andri terkait casting film terbaru tak kunjung membuat emosi Rara makin menukik naik.

                “Mending lu juga pergi deh, hadirin casting itu dan berhenti untuk berisik”

                “OK, sorry berisik. Titip salam buat Nina”, Andri dan sang manager pun pergi menuju tepat cashting dengan terlebih dahulu menemui para wartawan di depan rumah sakit, sekedar menepati janji untuk menjaga image.

~!@#$%^&*()_+

                “Dia itu artis baru, tapi sudah berani tidak meghargai waktu. Bagaimana sih. Cashting sudah ditutup”, pak Hendro memarahi kak Yuan, sang manager Andri.

Andri telat hampir satu jam, waktu yang tidak sebentar untuk menunggu sang kandidat utama pemegang peran. Sebenarnya cashting hanyalah formalitas baginya, jika saja dia datang tepat waktu. Karena secara talent dia memang berbakat, dan sang penulis sangat ingin mengajaknya bekerja sama.

                “Maaf, tapi tadi kami mengantar salah seorang fans yang tiba-tiba sakit”

                “Maaf, tapi saya tidak punya banyak waktu untuk alasan yang tidak masuk akal”, pak Hendro keluar dan mengakhiri kesempatannya.

Di ruang tunggu terdapat sebuah televisi yang sedang menyiarkan infotaiment terkini, tapat saat pak Hendro lewat tepat pula di saat berita Andri yang mengantar Nina ke rumah sakit. Melihat hal tersebut pak Hendro sempat memalingkan wajah pada Andri yang terngah berdiri di dekatnnya.

                “Siapa yang sakit?”

                “Namanya Nina pak”

~!@#$%^&*()_+


Sabtu, 24 Januari 2015

Cantik itu Relatif

Cantik itu relatif. Yap relatif.

Banyak  orang Asia bilang cantik itu berkulit putih, tapi bagi para bule (selain Asia) bilang cantik itu berkulit eksotis. Ada yang bilang cantik itu berhidung mancung, tinggi semampai, dan langsing. Tapi tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa cantik itu sebaliknya, tergantung dimana kita berada.

But selain secara fisik, banyak orang mengatakan kecantikan itu akan terpancar dari perbuatanannya, sikapnya, kepribadiannya. Kebanyak perempuan ceria memiliki kecantikan yang unik, memberikan aura yang memancar melalui senyumnya dan keceriaan yang dibawanya. Terus, yang tidak bisa berekspresi demikian apa tidak cantik? Jelaslah tidak. Sekali lagi, cantik itu relatif.

Kepribadian yang misterius juga menarik loh, karena akan memberikan tantangan tersendiri bagi beberapa orang. Pandai secara intelektual ataupun skill juga menjadi daya tarik yang tidak bisa ditampik, kecantikannya terpancar dari kemampuannya ketika menyelesaikan masalah atau ketika mempertunjukkan kebisaannya, baik dari segi seni, olahraga, atau bidang lainnya.

Dari semua yang telah disebutkan, sebenarnya banyak juga kecantikan yang dilihat dari berbagai sisi, oleh berbagai orang, dari berbagai tempat, yang tidak disebutkan. But, yang umum diketahui adalah, kecatikan seseorang akan terpancar ketika ia tersenyum dengan tulus, tidak peduli berkulit putih atau bukan, mancung atau tidak, kurus ataupun gemuk. Sebenanya secara umum ini bukan hanya berlaku untuk peremuan, untuk laki-lakipun demikian.

So, buat semua yang merasa dirinya kurang cantik ataupun tidak, please jangan beranggapan seperti itu lagi. Karena kamu cantik, cantik dari sisi yang lain yang belum dilihat secara umum. Jika ini termasuk kalimat bull(duduk) buat yang membaca, coba koreksi lagi. Tulisan ini memang tidak sempurna, berdasarkan opini semata. Tapi dari segi manapun, tidak ada makhluk hidup yang sia-sia dan diciptakan dengan tidak indah oleh Sang Pencipta. Maka yakinilah bahwa kamu cantik, meskipun dari sudut yang berbeda.

Buatlah dirimu cantik dengan tersenyum dengan tulus. Selain memancarkan aura positif juga akan membuat diri lebih baik ketika sedang bersedih. Seorang teman pernah berkata,

"Tersenyumlah meskipun sedang beersedih, dan tanpa sadar sedihpun akan menghilang"

Memang tidak ada kaitannya dengan 'cantik' secara langsung. Tapi siapa sih yang tidak akan terlihat cantik ketika seseorang itu bahagia? 

Minggu, 18 Januari 2015

Blog Bara (Bara)

Sekian banyak kejadian yang ku lalui bersama Lian, sekian banyak pula kenanganku bersama Bastian mencuat. Jujur saja, akulah yang sangat salah dengan itu semua. Seakan aku menyandingkan Lian dengan Bastian. Tak ada maksud untuk berbuat demikian, siapa yang bisa menghalau memori untuk muncul? Entah siapa yang menjadi bayangan siapa. Jika Bastian adalah bayangan Lian, itu tak mengapa karena memang Lianlah yang kini bersamaku. Tapi jika sebaliknya? Itu masalah besar.


Sungguh, tak ada maksud untuk itu semua. Ku harap Lian mengerti jika ia tahu tentang hal ini, tapi apakah bisa? Siapa yang senang jika dijadikan bayangan? Tentu tak ada. Sejauh ini di mataku hanya ada Lian, meski tak dipungkiri sekilas banyangan Bastian terbersit di kepalaku, mendesak seakan tak ingin dilupakan.

Blog Bara (4)

Besok Bara akan survei sekolah yang akan diawasnya Minggu nanti, sekitar di daerah Jakarta Pusat, dekat Pasar Senen. Sebelumnya Bara sudah cukup sering ke pasar Senen karena urusan kepaanitiaan, tapi hanya di sekitaran stasiun Pasar Senen saja.

Rencananya Bara akan survei sendiri, karena Ake sedang tidak enak badan. Kebetulan, besok Lian juga akan survei sekolah. Dan ternyata Lian mengajak Bara untuk survei bersama, tetapi karena lokasi sekolah yang cukup jauh akhirnya Bara menolaknya. Tak banyak alasan bagi Bara selain tidak enak karena selalu merepotkan Lian.

                “Kamu beneran sendiri, Ra? Gak apa?”, tanya Ake lewat telpon.
                “Gak papa, Ke. Besok pokoknya lancar jaya deh pas ke sana”, jawab Bara dengan tertawa.
                “Yakin? Minta temenin Lian gih, kan lagi deket tuh”, balas Ake dengan bercanda. “Kamu udah dimana, Ra?”
                “Ya kali Ke, siapa ane. Hu......", ujarnya yang kemudian tertawa lagi. "OTW pasar Senen”
                “Gak rame? Sekarang kan weekday?”
                “Kan udah siang Ke, jadi gak desek-desekan banget. Lagi pula kalo gitu aku gak akan bisa angkat telepon kamu”
                “Maaf ya, gak bisa nemenin. Hati-hati ya Ra”
                “Selow aja Ke, cepet sembuh yo”

Percakapan itu pun selesai. Sesaat Bara memikirkan apa yang diucap Ake, apa seharusnya dia menerima ajakan Lian kemarin? Tapi Bara menampik jauh-jauh pikiran itu, karena sangat jelas akan merepotkan Lian.

Bara memutuskan untuk transit dua kali, dari Pocin transit di Manggarai menuju Jatinegara lalu ke Pasar Senen. Dari stasiun Pasar Senen ia naik bus coklat yang tepat behenti di pintu stasiun Pasar Senen, sebelum naik Bara bertanya pada sang kenek alamat yang ia tuju, apakah dilalui atau tidak. Sesaat sebelum sampai tujuan, sang kenek mengingatkannya tentang alamat yang Bara sebutkan sebelum naik.

Tidak begitu jauh, tapi juga tidak dekat jika ditelusuri dengan berjalan kaki. Bara turun di suatu gang yang penuh dengan bapak ojek. Ia kembali menanyakan alamat sekolah yang ingin dituju pada seorang bapak ojek di sana. Bapak itu mengatakan sekolahnya hanya tinggal jalan saja ke dalam dan nanti di sebelah kanan akan ada plang bertuliskan nama sekolah. Sang bapak bilang lumayan jauh, tapi Bara memutuskan untuk berjalan kaki saja, sebab sedari tadi ia hanya stuck berdiri ataupun duduk saja. Sambil melihat-lihat daerah sekitar Bara putuskan untuk memeriksa handphone, sedikit berharap akan ada yang menghubinnginya. Dan benar aja ada pesan dari seseorang yang kini membuatnya tersenyum kecil, Lian. Dia bilang kalau dia sudah sampai sekolah yang ia tuju dan juga menanyakan apa Bara sudah sampai atau belum. 

Setelah dijalani, letak sekolahnya tidak begitu jauh dari pangkalan ojek . Meski untuk beberapa orang sepertinya itu cukup jauh, terlebih jika berjalan sendirian seperti yang Bara lakukan. Sekolahnya rapih dan bersih. Hari itu ada beberapa ekskul yang masih mengadakan kegiatan, seperti PMR atau Rohis. Karena waktu zuhur sudah tiba, Bara putuskan untuk beristirahat sebentar di musholah setelah sholat. Musholah itu berAC, membuat Bara seakan tidak mau pergi dan ingin tidur siang saja di sana. Tak lama, ada pesan masuk ke handphonenya.

                Lian: Gue udah di luar

Pesan yang buatnya terperanjat dan reflek melihat jendela musholah yang menghadap gerbang. Lian di sana, memakai kaos bergaris gradasi biru. Pemandangan itu membuatknya tersenyum, entah karena Lian di sana atau karena sesuatu yang lain.

Dengan bergegas Bara keluar musholah, tetapi sebelum menemui Lian, ia sempat bertanya pada salah seorang siswa terkait rute dan kendaraan umum menuju sekolahnya dari stassiun Pasar Senen, sekedar untuk memastikan kelancaran besok.

~!@#$%^&*()_+

Senin ini peringatan ulang tahun sekolah, jadi upacara berlangsung lebih lama karena pengumuman yang begitu panjang lantaran pengumuman juara lomba di minggu sebelumnya diumumkan, serta pemberian penghargaan kepada beberapa siswa teladan di beberapa katagori. Sorak sorai sekumpulan anak menghiasi lapangan saat perwakilan kelasnya menjadi pemenang. Sayangnya Bara yang sangat ingin merasakan momen tersebut tidak bisa ikut serta lantaran kondisi tubuhnya yang drop disaat pembacaan doa.

Karena hari ini hari ulang tahun sekolah, jadilah siswa-siswa diberi hadiah pulang lebih awal setelah upacara berakhir. Beberapa teman sekelas Bara menemuinya, sekedar menanyakan keadaannya dan membawakan tas yang tertinggal di kelas. Ani sempat mengatakan bahwa Bara memperoleh piagam penghargaan yang bisa diambil di perpustakaan karena tadi ia tidak maju untuk menerimanya langsung.

Alhasil ia pergi ke perpustakaan untuk mengambil piagam itu. Di tangga depan perpustakaan ada Bastian sedang duduk seakan menunggu seseorang. Bara yang melihatnya memberi senyum sekenanya, sebagai ungkapan hai yang tidak terucap.

Tak lama proses pengambilan piagam itu, karena Bara cukup dekat dengan sang ibu penjaga perpustakaan dan dengan singkat ia memperoleh piagamnya. Saat memakai sepatu Bara sempat melihat Bastian masih di sana, melihatnya dan tersenyum. Rasa risih mencuat dihati Bara, seakan memacunya untu cepat-cepat menghilang dari pandangan Bastian.

                “Ada apa?”, tanya Bara pada Bastian yang kini di sampingnya saat dia merapihkan rok ketika berdiri.
                “Mau pulang”, jawabnya singkat.

Mendengar hal itu membuat Bara jengkel, entah karena sikap atau jawaban Bastian yang tidak sesuai yang dia inginkan.

                “Mau kemana?”, Bastian sontak bertanya karena Bara tidak berbelok ke gerbang sekolah. “Mau pulang kan?”
                “Kenapa?”
                “Mau pulang bareng?”, tanya Bastian dengan agak canggung.

Seakan ada bunga yang bersemi saat itu di hati Bara, tapi ia sendiri masih tidak tahu kenapa. Jawaban sekaligus pertanyaan Bastian seakan menjawab harapannya.


                “Mau jemput Ikha, dia pasti masih nunggu di sana karena gak tahu aku tadi gak ikut upacara”

Rabu, 14 Januari 2015

Kisah (2)

Natan

Sore ini aku berencana ke rumah Nina. berbekal bunga dan coklat serta keberanian aku datang menemuinya, gadis yang sangat aku suka, sangat ku nanti untuk dapat bertemu dengannya lagi. Dari balik jendel kamarnya aku melihat Nina seakan tengah bersiap-siap pergi. Dari jauh aku melihatnya, ya, dari jauh, tapi rasanya begitu bahagia.

Belum sempat ku pencet bel rumahnya, Nina keluar.

   "Hai, cari siapa?", ujarnya sambil seakan meneliti tentang ku. "Natan? Kamu Natan kan?", lanjutnya yang melihatku terdiam saja.
     "Hai Nina, aku kira kamu lupa", balasku agak gugup sambil tersenyum.
     "Aku gak lupa, cuma pangling. Kamu berubah banget, makin ganteng. Itu buatku?", Nina berucap penuh riang, dan menanyakan bunga serta coklat yang ku bawa.
      "Hampir lupa sangking terpesonanya sama kamu, iya ini buat kamu"
      "Bisa aja kamu, Tan. Makasih ya"

Nina tersipu mendengar ucapanku yang seakan menggombal, tapi itu jujur ku katakan padanya. Kami berpandangan sesaat, lalu terbuyarkan oleh suara mobil yang kini terparkir di depan rumah Nina. Mobil Honda Jazz merah mengkilap, pengendaranya keluar dan melambaikan tangan pada kami, yang kemudian dibalas oleh Nina dengan riang.

     "Natan, maaf kayaknya kita gak bisa ngobrol lama. Dilanjut lagi nanti gimana? Soalnya aku udah janjian sama Kiki atau mau ikut kita aja, biar sekalian aku kenalin sama Kiki. Yuk!"

Nina menarik tanganku, menghampiri laki-laki yang ia panggil Kiki. Sedikit khawatir tentang siapa Kiki yang membuat Nina begitu riang.

     "Kiki kenalin ini Natan, sahabatku dari kecil dan kita baru ketemu lagi loh seteah sekian lama gak ketemu karena aku pindah ke Bandung", Nina menjelaskan posisiku pada Kiki. terasa menggantung bagiku karena Nina hanya menganggapku sahabatnya.
      "Hai", ujarku yang juga dibalas hai oleh Kiki.
    "Dan Natan kenalin, Kiki pacarku. Kiki senior aku di sekolah, kita sempet LDRan satu tahun karena Kiki balik ke Jakarta karena ikut mamanya", perjelas Nina yang terasa menusuk jantungku begitu telak, hingga sulit bagiku bernafas saat itu. "Hari ini kita mau nonton, kamu mau ikut? Ikut yuk Tan, kan udah lama juga kita gak ketemu. Kiki, Natan boleh ikut ya?", ajak Nina sambil merengek padaku dan Kiki agar mengizinkan.

Kiki hanya tersenyum sambil mengguk pada Nina, tak berucap kata. melihat itu Nina sangat riang, tapi terlihat bahwa Kiki tas seriang Nina. Jujur aku ingin merebut Nina darinya, mengambil kesempatan untuk memperlihatkan siapa aku sebenarnya, aku yang tahu segalanya tentang Nina. Tapi rasanya masih begitu sesak, sakitnya seakan merambat ke tubuhku yang seakan ngilu pada tulang.

     "Nanti aku jadi kambing conge lagi. Gak ah"
     "Yah Natan, kan seru kalo makin rame. Gak akan jadi kambing conge kok. Filmnya juga bagus, bukan romace", rengek Nina padaku.
    "Iya buka romace, tapi action. Lagi pula Nina kan bawel jadi gak akan jadi kambing conge", Kiki yang membuka kata yang dibalas pukulan oleh Nina yang tidak terima dikatakan cerewet. "Kamu kan memang cerewet. Hu..."

Mereka bertengkar kecil di depanku, meskipun begitu aku melihat raut bahagia di wajah Nina ketika bersama Kiki, rasanya sakit.

     "Emang bener kok kata Kiki, kamu itu bawel"
     "Ih, Natan kok belain Kiki sih"
     "Bener kan tuh, kamu bawel, cerewet!", Kiki kembali berucap dengan canda.
     "Udah dulu ya, kebetulan aku ada janji sama akan-anak buat main futsal", potongku pada mereka yang masih bertengkar kecil.
     "Jadi gak ikut nih?", Nina seakan tak rela.
   "Menurut situ?", balasku sambil tertawa. "Bro, mungkin kapan-kapan kita bisa main futsal bareng. Suka futsal kan?", ajaku pada Kiki, agar terkesan tidak canggung.
     "Sip......"

Percakapan singkat antara kami bertiga berakhir. Aku pergi setelah mobil mereka menjauh dari pandangan. Rasanya begitu sesak, ku kira kami bisa lebih dari sekedar sahabat. Lebih.

~!@#$%^&*()_+

Terry


     "Bagaimana laporan minggu ini, Terry?", kepala UKS menanyakan padaku terkait perkembangan klientku.
     "Sejauh ini baik bu, klien jadi lebih terbuka dengan yang lain dan tidak begitu memikirkan perihal putus seperti minggu kemarin"
     "Dimas, kalau yang kamu tangani bagaimana?", lanjut kepala UKS menanyakan kami, para psikolog remaja, satu persatu.

Selain sebagai siswa, kami perwakilan dari beberapa kelas ditunjuk oleh kepala UKS untuk menjadi psikolog kecil. Kami diberi pelatihan khusus oleh kabupaten kota untuk menangani kasus psikologis remaja. Kami juga memiliki link ke beberapa puskesmas yang tersebar di kota, selain itu kami juga digaji sehingga kami harus bersikap profesional. Tidak membocorkan identitas klien dan bersikap terbuka untuk semua kasus teman sebaya di sekolah, meskipun kasus tersenub merupakan kasus remeh temeh, atau sekedar cerita yang ingin didengarkan. Tugas kami mendengarkan dan berbagi serta memantau beberapa klien yang harus ditanggapi khusus. Pertemuan tiap Rabu dilakukan sebagai upaya sekolah memantau kinerja kami sebagai psikolog, meski tak jarang tak banyak laporan yang bisa kami berikan.

   "Lama ya Nes? Sorry, tadi lumayan banyak yang diomongin soalnya", pintaku yang membuat teman baikku menungguku pulang, Agnes.
     "santai aja kali, Ry. Kayak ke siapa aja deh."

Aku dan Agnes dikenalkan secara tidak sengaja oleh Puji, teman TKku, dan teman SDnya Agnes. Kami semua kini bersekolah di SMP yang sama, membuat kami secara tidak langsung sering bertemu. Mungkin awalnya aku dan Agnes diperantarai oleh Puji, tetapi karena rumahku dan rumah Agnes berdekatan akhirnya aku dan Agnes semakin dekat, selain itu Agnes juga merupakan salah satu klienku, sehingga bisa dibilang aku cukup mengenal Agnes.

Meskipun demikian, aku tidak pernah bercerita tentang sesuatu yang penting pada Agnes, pada siapapun. Aku lebih banyak mendengarkan, dan enggan untuk menceritakan. Karena tak ada masalah besar menyangkut kehidupan remaja, seperti pacaran. Aku tidak punya pacar, meskipun sering kali aku menerima klien yang membicarakan hal itu. Lucu memang tapi tidak masalah, malah bagus. Jadi aku bisa berbagi pendapat dengan menggunakan logika, bukan emosi seperti gadis remaja pada umumnya.

Selama ini semua berjalan baik, semua klienku tidak banyak mengeluh karena pendapat yang ku bagi salah atau berakibat buruk. Klienku seluruhnya wanita, karena klien laki-laki akan segera dialihkan ke temanku yang laki-laki. Kami melayani berdasarkan gender. Salah satu hal yang cukup dihindari adalah teriat emosi lebih dari pada sekedar rasa empati pada klien, karena akan mengganggu kinerja kami.

~!@#$%^&*()_+

Natan

Emosiku tak terbendung, seakan pecah hingga akhirnya tak bersisa. Aku tidak menangis, tidak. Hanya termenung menatap kosong langit-langit kamar yanng putih polos. Minggu ini bi Dian tidak datang ke rumah, renacananya aku dan papa akan berkunjung ke rumah om Ali Sabtu nanti, berkunjung dan memperkenalkanku dengan keluarga papa. Dan aku bisa bercerita banyak dengan bi Dian tentang hari ini.

Bi Dian mungkin cerewet, bawel, tapi dia perhatian dan cukup memahami kondisiku. Bukan tidak terbuka pada papa ataupun mama, hanya saja aku tidak ingin membuat mereka khawatir tentangku. Mungkin ini masalah sepele, kisah kasih remaja yang kandas seperti pada umumnya kisah. Tapi yang membautku tidak bisa melepaskan Nina adalah perasaan yang terendap begitu lama, membuatku tidak bisa terima mengapa Nina memilih Kiki seniornya yang baru ia kenal saat sekolah, bukan aku.

Emosi seakan tak mau lari, meski ekspresi untuk mengungkapkannya telah membeku. Memperlihatkan wajah datar yang tak peduli. Aku sangat menyukainya, aku menyukai Nina. Tapi apalah aku, jika memang Nina bersamaku kini apa mungkin Nina akan seriang ketika bersama Kiki tadi? Dengan apa aku akan menjemputnya pergi? Jangankan mobil, motor saja kini aku tidak ada. Mungkin lebih baik saat ini Nina bersama Kiki, tapi nanti ketika aku mampu Nina akan lebih baik bersamaku. Karena aku yang paling mengerti Nina, itu pasti.

~!@#$%^&*()_+

Terry

Dari banyak kasus yang ku tangani, banyak mereka yang berpacaran hanya menganggap itu hanyalah hubungan selingan, penyemangat untuk ke sekolah, atau teman bermain ketika ingin pergi berdua. Atau bahkan status gengsi ketika teman-teman klien sudah punya pacar. Rasanya begitu sederhana alasan yang dibuat, tapi itulah adanya. Aku tidak menyalahkan, tetapi tidak juga membenarkan. Jarang diantara mereka berpasangan menggunakan hati, kebanyakan hanya lebih menggunakan emosi.

Tidak sedikit pula yang terjebak dengan obsesi, menyamakan status pacar dengan hak untuk memiliki lebih. Protektif seakan sang pacar adalah hewan yang terkekang lehernya. Semua serba salah ketika mereka berjauhan, curiga menjadi bom waktu yang menanti untuk meledak. Aku heran, banyak diantara mereka mengatas namankan cinta, tapi banyak pula diantara mereka bahkan tidak tahu definisi cinta itu apa. Aku sendiripun tidak banyak tahu cinta itu apa, yang aku tahu cinta itu perasaan yang bukan hanya terucap, tetapi dilakukan untuk melidungi bukan untuk merusak yang dicintai. Jadi bagiku, jika sang pacar mencintaimu maka ia akan melindungimu hingga dirimu menjadi haknya dan begitu sebaliknya. Jika sang pacar hanya bermain denganmu, maka ia akan melakukan sesukanya padamu hingga akhirnya dia bosan atau dirimu rusak dan tidak bisa dimainkan lagi.

Mulut sering kali berdalih, berdusta seakan salah menjadi benar. Mata sering kali buta, saat kata cinta beralun dalam melodi yang menyejukkan hati meski hanya sekedar ilusi. Menebar kasih boleh, tapi menebar mantan tidak selalu berarti sama ddengan hal demikian. Banyak mantan bukan berarti hebat. sering kali 'laris' selalu beriringan dengan 'murah'.