Kamis, 30 Oktober 2014

Blog Bara (3)

Jum'at sore, hari yang cukup menyebalkan sekaligus menyenangkan untuk Bara. Kuliah sore yang bahkan tidak jelas ada atau tidak. satu yang sedikit menghiburnya, bertemu dengan Lian. di mata kuliah itulah mereka bertemu, meski di mata kuliah lainnya mereka bisa bertemu namun tidak semenghibur hari Jum'at yang  penuh perjuangan (bagi Bara).

Jum'at ini Bara datang lebih awal dari biasanya. kelas masih sepi, hening. ia memutuskan untuk mempersiapkan perlengkapan kuliah, LCD dan spidol. cukup lama ia menunggu, sampai akhirnya ada kabar bahwa tidak adak kelas. beberapa saat Bara mengira ia telah mempersiapan hal yang sia-sia, tapi beberapa menit kemudian ia merasa beruntung, karena Lian bersedia membatu tanpa diminta.

Sentak Bara tersadar, mengapa ia harus senang? mengapa bertemu Lian menjadi hal yang membuatnya senang?

~!@#$%^&*()_+

hari pengumpulan buku sumbangan sudah ditutup, tumpukan buku di kolong Bara semakin tak terbendung. itu kesalahannya sendiri, sengaja mengumpulkan sekaligus di hari terakhir. Bara memegang buku sumbangan kelas 7, sedangkan Bastian kelas 9, untuk kelas 8 telah dikumpul ke perpustakaan langsung.

rasanya ia ingin mengeluh, mengapa bukunya begitu banyak. tapi ia tidak bisa berbuat demikian karena itu kesalahannya sendiri. dengan amat terpaksa ia menata buku dalam dua tumpukan, dan tinggi tumpukan itu mencapai lehernya. membuatnya berjalan perlahan untuk menuruni tangga. Hana, teman yang selalu memberi pinjaman catatan sejak ia duduk di pojok belakang menawarkan bantuan, tetapi Bara menolaknya karena bel masuk akan segera berbunyi, dan ia tidak ingin merepotkan Hana.

Sesampainya di depan perpustakaan Bara kaget, pepustakaan tutup karena ada study banding dengan sekolah lain. sebenarnya ia sudah diberitahu oleh ibu penjaga perpustakaan bahwa akan ada study banding, sialnya Bara tidak tahu kalau hal tersebut mengakibatkan perpustakaan tutup.

Alhasil dengan kesal ia duduk di samping rak sepatu, meregangkan otot tangan yang pegal karena tumpukan buku yang di bawanya tadi. soalah ingin mengalahkan bel yang tengah berbunyi, Bara berteriak sambil menempelkan pipi kirinya diatas sebagian buku di pangkuannya.

Bagaikan hantu yang tiba-tiba muncul, Bastian langsung mengangkat sebagian besar tumpukan buku di samping kiri Bara. membawanya tanpa mempedulikan Bara yang terdiam melihat sikapnya.

   "Mau dibawa kemana?", tanya Bara dengan heran.
   "ikut aku!", pintanya singkat

Bara yang bingung mengikuti Bastian dari belakang, membawa sebagian kecil tumpukan buku yang tadi dipangkuannya. Sesaat Bastian menengok ke belakang, seakan ingin memastikan apakah Bara mengikutinya atau tidak.

Langkah mereka terhenti di depan ruang OSIS yang tengah sepi. Bastian menoleh pada Bara dan meminta tolong pada Bara untuk membuka pintu sebab tanganya penuh dengan tumpukan buku, sedangkan Bara masih memiliki tangan yang bebas.

Bastian masuk, lalu menghilang dibalik lemari yang menjadi sekat di ruangan itu.

   "taruh bukunya di sana!", ujar Bastian dekat lemari.
   "di sana? di balik lemari itu?"

Seakan dapat membaca isi pikiran Bara, Bastian menjulurkan tanganya dengan senyum, meminta sisa tumpukan buku dari tangan Bara.
   
    "Untuk sementara bukunya dititip ke ruang OSIS, lusa nanti pas perpus buka kamu bisa ambil kemari"
    "oke", ujar Bara singkat di depan ruang OSIS yang tidak ia masuki. "kok sepi, bukannya akan ada 17 Agustusan?", lanjutnya sambil terus melihat-lihat isi ruangan yang penuh tumpukan dimana-mana.
    "Semua persiapan sudah hampir selesai, tinggal mencari beberapa alat saja", jelas Bastian yang kemudian tersenyum.

Senyum Bastian seakan membuat detik di kehidupan Bara menjadi terhenti sejenak, Bara bingung mengapa, tapi itulah yang terjadi, senyum Bastian begitu sulit untuk ditolak, terlebih hal tersebut jarang terjadi.  

Jumat, 03 Oktober 2014

Talkshow Creative Writing bersama Raditya Dika

     Sebelumnya sorry nih bang Dika, untuk tulisan kali ini gue ngomongin lu boleh yo? *Semoga bang Dika gak tau. :p

     So.......... Selasa kemarin ada talkshow Creative Writing bersama Raditya Dika di fakultas dimana gue diguyur ilmu (karena menimba ilmu udah mainstream), yang diadain BEM bersama Alumi. ini talkshow ke dua gue yang pembicaranya bang Dika, dan sumpah gue selalu ngakak selama acara, gak peduli yang pertama maupun yang ke dua.

     Ceritanya kali ini gue pengen bersuara, bertanya aja biar eksis (gaya dikit :p), tapi boong, karena gue seriusan nanya nih, ya meski pertanyaan gue gak seajaib nan semembahana Dila, anak Farmasi yang kece badai karena bikin seantero balsid ngakak guling-guling, apalagi pas ditanggepin sama bang Dika dan Lopez brother. oh ya, di talkshow kali ini ada Lopez brother juga, mereka jadi moderatornya. tau kan Lopez brother? Lopez brothet itu sebutan gue sih, soalnya gue gak hapal nama youtubenya (sorry mas bro). intinya yang bikin youtube 'Modus' itu loh, gak tau? cari tau gih, itung-itung jadi bahan modus sama kecengan. :p

     Pertanyaannya simple, how to make us stay on the line when we write a story? (sok bahasa Inggris, padahal masih salah). Bagaimana cara untuk tetep fokus dengan jalan cerita yang sesuai, itu lah intinya. sebenernya udah tau jawabannya di talkshow sebelumnya, tapi pengen tau gimana jawaban kali ini, sama atau beda. selain itu pengen banget nanya terkait komik selain komik Kambing Jantan yang udah lama hadir, apakah ada niatan buat bikin komik-komik lainnya? tapi gak jadi nanya hal itu, soalnya tangan udah gemeter diliatin banyak orang. (I hate this feeling, so much...... setidaknya udah nanya -_-). sebelum kepertanyaan di Dovi kepo banget, pengen tau aja status orang (dibaca: punya pacar atau belum). gue penanya ke tiga. penanya pertama jawab terkait status, "adalah.......", yang berlanjut dengan pertanyaan yang berhasil ngocok perut, seakan lagi nonton stand up comedy secara live gitu, itulah Dila Farmasi yang lucu banget dan jadi artis di hari itu. terus penanya ke dua jawabnya, "double", si Dovi asal celetuk alay pula yang bikin ketawa lagi. sumpah, momen talkshow hari Selasa itu full wiht laught.  dan tibalah giliran gue, gue jawabnya sejelas mungkin dan sesingkat mungkin, "udah punya pacar", biar gak lama-lama (gaya). beberapa temen sedepartemen yang hadir dan duduk deket gue langsung bilang cie atau sekedar senyum-senyum nakal. hahahaha....... :p (sesekali aja gak papa kan!?)

     Gak ada bahasan lebih tentang hal itu, tapi itu seakan hari proklamasi gue menyatakan ke seantero balsid, yang kebanyakan anak satu fakultas, bahwa gue sudah punya pacar. setelah dari talkshow dan stay di departemen banyak deh yang cie cie-in. (cie...........). Malu? gak sih, sebenernya lebih ke arah takut, takut sama tanggapan orang karena gue pernah bilang gak mau pacaran. tapi nyatanya pacaran. tapi tetep seneng, karena banyak yang ciein, artinya banyak yang peduli (ke-PD-an, tapi ya sudahlah).

     Jaman jomblo sudah lewat, jaman punya pasangan telah tiba. mungkin gitu kali yo yang bang Dika maksud ketika sang Kambing Jantan dateng talkhsow membawa sesosok gadis cantik bersamanya (inget, bukan Kambing perempuan). bang Dika kan identik dengan stand up comedy yang selalu menggelisahkan masalah pacaran zaman sekarang yang norak bin ajaib seakan dunia milik berdua yang lainnya ngontrak, atau seakan-akan yang pacaran itu lagi jadi bintang utama di suatu film box office yang diputer di bioskop dan yang lain jadi penonton antusian sampe ngantri panjang beli tikek. GOD, soal norak itu gue setuju, meski kesannya iri atau sinis but terkadang itu lucu, lucu pake banget malah spesial pake telor. gue kira dengan adanya gadis nan cantik itu bang Dika bakal berhenti mempermasalahkan status jomblo, taunya kagak, tapi jadi lebih lucu men, kesannya norak tapi gokil badai, gak bosen deh buat dateng ke talkshow sejenis gini, apalagi yang ada bang Dikanya.

     ceritanya kan bang Dika udah gak jomblo lagi nih, terus bawa pasangannya ke talkshow kali ini, terus terus itermezo di talkshow kali ini beda gitu dengan intermezo di talkshow sebelumnya, yang sebelumna berisi berbagai 'koreksi' bagi mereka yang pacaran dan yang kali ini 'tips dan saran' (yang bikin patah arang duluan kalo dengernya) bagi mereka yang lagi PDKTan (kelamaan). tapi over all semua masih terasa sama, taste, feel, atau atmosfernya masih berkesan bang Dika banget. jujur kacang ijo nih, gue lebih seneng dengerin bang Dika secara live, karena feelnya nyampe ke gue, itu bagi gue yo, makanya gak kapok buat dateng. :D

     sebelum lupa, kalo kata bang Dika selalu ada fase ketika seseorang minta "doain aja". jadi penanya ke empat itu anak Fisip, spesial case karena dia anak Fisip sendiri di sana jadi dipersilahkan nanya tanpa rebutan nanya. lanjut nih, kan tetep tuh si Dovi kepo badai membahana, pengen tau aja status orang, padahal sudah dialihkan pembicaraannya, tapi terus diingetin. nah, yang anak Fisip ini bilang "Doakan saja", eh bang Dika bilang "lagi di PHP-in ya.......", kapret emang tuh orang, bukannya didoain malah diledekin, ditakut-takutin malah. hahahahaha..........

     fasenya gini, 1. ada saat dimana lu mulai deket sama seseorang dan jadi terbiasa, 2. terus lanjut ke fase dimana lu mulai gak percaya ucapan orang di sekitar lu yang ngejelekin si doi, 3. lalu ada fase dimana lu digantungin a.k.a di PHP-in dan minta didoain, 4. yang terakhir akan ada fase kecewa karena lu akhirnya ditinggalin. parah tuh, kan gak selalu gitu yo?! tapi entah mengapa itu jadi berkesan lucu dan bikin penghuni balsid ketawa lagi, termasuk si korban. hahahaha........ gokil dah emang gokil.

     so, inti dari post kali ini adalah kalo talkhsow bareng bang Dika itu seru (gak boong, tapi ngibul, tapi serius lucu loh), itu bukan intinya sih, tapi mayoritas nyeritain itu. jadi inti yang sebenarnya adalah mau kita punya atau gak punya pacar, kesenangan itu bisa tetep didapet. bahkan hal yang menyedihkan akan menjadi hal yang menyenangkan ketika kita memandangnya dengan positif dan dengan cara yang juga positif. selain itu, punya pacar gak akan selalu merubah diri kok, yang lebih banyak terjadi adalah mereka yang punya pacar akan lebih menjaga perasaan pasangannya, kayak yang dilakuin bang Dika dengan menyesuaikan materi intermezo-nya dengan topik yang agak beda tapi gak jauh-jauh banget. (sebenernya gak tau sih sang gadis pacar atau bukan, intinnya ada di sana dan bareng bang Dika. *jir gue ngegosip). tapi untuk pasangan norak akut casenya beda, karena syarat gak punya kontrakan berupa bumi gak terpenuhi. satu lagi, kalau ada sesuatu yang ingin dilakukan, maka lakukan. keberanian itu didapat bukan hanya dari dorongan orang sekitar, tapi juga dari diri sendiri. secere apapun rasa takut itu kalau kita gak pernah coba untuk berani, pastinya kita akan terus-terusan takut. memang ketakutan tiap orang beda-beda, tapi bukan berarti kita harus mengandalkan kalimat itu untuk tetap stay di ketakutan yang sama (takut dengan aturan Tuhan itu spesial case, karena itu sifatnya harus jika ingin masuk surga. hehehe...)