Rabu, 09 Juli 2014

Detik (Prolog)

Cairan infuse terus menetes secara perlahan mengalir ke dalam tubuh yang tak sadarkan diri, penunjuk detak jantung yang berritme sengan stabil menandakan bahwa tubuh itu masih menghembuskan nafas. Sosok pria tua menatapnya penuh kasih dari balik jendela kaca yang berjarak dua meter dari raga yang masih menutup mata.

Perlahan tapi pasti suara langkah mendekati pria tua itu, jas lab nan putih rapih memberikan identitas yang tak perlu dipertanyakan lagi. Dokter muda itu meminta waktu si pria tua untuk membicarakan kondisi tubuh yang terbaring di sana.


          “Apa pihak keluarga sudah datang?”
         
            "Saya keluarganya, Dok."

~!@#$%^&*()_+

Blog Bara (2)

                “abis ngapain Ra?”, tanya Ake pada Bara yang baru saja duduk di sebelahnya.

                “kamar mandi”, jawabnya singkat.

                “lama banget, di lantai berapa? Satu?”

                “iyo………”

Bara memang ke kamar mandi dan benar di lantai satu, meski sebenarnya kelas mereka di lantai empat. Alasan yang cukup sederhana, Bara ingin tahu apa Lian ada di kelas atau tidak. Jika ada, ya sudah. Jika tidak, ya sudah. Kelas Lian di lantai tiga, dan ada jendela di dinding bagian atasnya yang membuat Bara bisa melihat isi kelas saat menuruni tangga. Kebiasaan yang baru saja ia biasakan. Sekedar melihat Lian dari jauh lalu tersenyum sendiri.

~!@#$%^&*()_+

Tumpukan buku terbenam di kolong meja Bara, menanti untuk di setor ke perpustakaan sekolah, tempat pelarian terbaik saat enggan ke kantin.

Hanya beberapa anak yang cocok dengan ibu-ibu penjaga perpustakaan, salah satunya Bara dan Bastian, anggota OSIS yang tidak banyak bicara.

Bara cukup beruntung bisa masuk SMP (yang katanya) terfavorit di kota. Ia masih seakan bermimpi masuk sekolah itu, begitu besar, megah, dan ramai. Cukup dapat dimaklumi karena SD tempat Bara bersekolah tak lebih dari sebesar lapangan futsal di SMP itu dengan jumlah siswa yang tidak begitu banyak.

Di sekolah ini terdapat anak-anak terkenal yang sangat dihindari olehnya. Selain malas, ia juga ingin tenang (arti sebenanrnya). Sudah cukup menguras emosi berurusan dengan anak-anak kelas, dan ia enggan menambahnya lagi.

Awalnya Bara dan Ani teman satu meja, tapi karena beberapa hal Ani megusirnya dan membuat Bara terkucilkan diantara beberapa ‘geng’ anak perempuan yang membuat Bara semakin tidak betah di kelas.

Meja yang dikuasai Ani adalah meja Bara, Anilah yang diundang tapi Anilah yang mengusir. Tapi Bara tak mau ambil pusing, toh ia masih bisa bekomunikasi dengan beberapa anak (dari meja terpojok di kelas).

                “anak jaman sekarang mengerikan”, gerutunya dalam hati.

Perpustakaan membuatnya semakin kenal dengan Bastian, salah satu anggota F5 yang banyak dikagumi anak-anak perempuan. Jujur sejujur-jujurnya Bara sangat amat malas terkait dengan Bastian, tapi karena diminta ibu perpustakaan jadilah Bara harus bekerja sama dengannya.

Keseluruhan anggota F5 adalah anak OSIS di tahun terakhir dan keseluruhan dari mereka adalah pejabat penting OSIS. Bastian dia sekretarius umum di OSIS, perawakannya item manis, tinggi, dengan wajah panjang dan poni yang menutupi jidatnya, baby face, kalem, bersih, rapih, dan tidak banyak bicara, cool (arti sebenarnya), serta misterius. Dia jarang terlihat, namun akhir-akhir ini menjelang 17 Agustus dia sering ke perpustakaan, sehingga mereka sering bertemu dan kembali dipertemukan oleh tugas dari ibu perpustakaan.

Bara dan Bastian juga sering bertemu di ekstrakulikuler teater yang mereka ikuti, di sanalah pertama kalinya Bara berkenalan dengan Bastian. Teater di SMP itu masih angkatan pertama, prediksi awal Bara sedikit yang berminat dan karena itulah Bara memilih teater sebagai kegiatan ekstranya. Tetapi karena beberapa anggota F5 ikut bergabung, jadilah ekskul teater menjadi ekskul yang paling banyak anggotanya (perempuannya di awal).

Perlahan tapi pasti, banyak kejadian yang membuat Bara seakan terbiasa dengan kehadiran Bastian, yang dulu sangat dihindarinya. Begitu pula sebaliknya, meski lebih banyak diam Bastian tidak pernah benar-benar diam. Mereka saling terbiasa meski tidak selalu bertemu tapi selalu ada kesempatan untuk sekedar melihat dari jauh.


Blog Bara (1)

Untuk kesekian kalinya Bara membuat akun blog,  meski sebenarnya dia tidak tahu kelak apakah blog ini akan digunakan atau hanya akan dilupakan.

Bara tak pernah benar-benar yakin bahwa isi blognya akan semenarik blog blog yang lain, tapi sering kali kelabilannya ini membuat dia malu atau bahkan risih dengan apa yang telah ia post.

Alasan yang sangat sederhana mungkin, Bara hanya ingin meminta pendapat tentang isi tulisannya. Apakah itu bagus atau tidak, pantas atau tidak, layak atau tidak, tapi satu hal yang pasti ia ingin belajar menulis.

Dalam benaknya banyak cerita yang ingin sekali ia tulis, tapi sering kali dia bingung memulainya dari mana.  Meski di tiap blog yang pernah ia buat, Bara selalu memulai dengan kisah seorang anak yang baru lulus SD yang percaya bahwa definisi teman itu seperti layaknya anime-anime Jepang, penuh kepercayaan, kepedulian, pengorbanan, dan lain sebagainya. Dia selalu menanamkan hal tersebut, meski pada kenyataanya kehidupan nyata tidak seperti anime kesukaannya, Digimon.

Tak jarang Bara menulis tentang kisah cinta, yang pada dasarnya masilah kisah cinta remeh temeh yang dia sendiri tak mengerti. Salah satu contohnya ketika ia menulis tentang pacar pertamanya, Pramu. Kisah yang dimulai akibat sumpahnya atas kejengkelan dan rasa penasaran tetang apa itu pacaran, meski baginya itu agak konyol karena Bara tak pernah menyangka bahwa itu akan terjadi.

Tak sedikit yang Bara tulis adalah hal yang nyata, meski sering kali ia tak mengakuinya secara gamblang. Bara layaknya gadis pada umumnya, selalu berusaha terlihat kuat meski sebenarnya tak sekuat itu. Terkadang ia terlihat seperti orang munafik, terlalu paranoid, sok, dan menjengkelkan dengan gaya tersendiri.

~!@#$%^&*()_+

Bara, tidak begitu menonjol, tidak istimewa, gadis biasa yang bersuara mengganggu (setidaknya itulah definisi singkat tentangnya). Ia berkuliah di salah satu universitas negeri di Jakarta yang cukup terkenal, meski sebenarnya ia tak benar-benar sadar bahwa kini ia berkuliah di sana.

Banyak hal yang ia suka, salah satunya menulis. Banyak tulisan yang ia buat, tapi tak satupun berani ia tunjukkan. Mungkin pernah ia menunjukkannya, lalu sesaat kemudia dihilangkan dari khalayak ramai.

Blog bukan hal baru baginya, setidaknya sudah 4 blog ia buat dan dinonaktifkan. Pekerjaan yang sia-sia, membuatnya lalu menghilangkannya.

Bara salah satu orang yang rumit, cukup rumit seperti benang kusut yang menjengkelkan, lebih baik digunting dari pada membuang waktu meleraikan kusutnya. Ia sadar jika ia rumit, ia sadar jika ia menjengkelkan. Setiap hari ia bercermin, memastikan bahwa semua akan baik-baik saja, berjalan lancar meski kadang membosankan.

Tak bisa sepenuhnya disalahkan padanya, semua pengalaman membuat dia sangat sulit untuk percaya. Percaya bahwa kepercayaan pada seseorang itu penting. Ia selalu berusaha memposisikan diri tak memihak siapapun dalam tulisannya, tapi yang terjadi sebaliknya. Ia jengkel pada tulisannya sendiri, yang seakan memposisikan diri sebagai yang benar, tersakiti, dan teraniaya. Ia benci ketika harus mengakui jika ia masih bersikap ‘tak layak’, rumit, dan membingungkan.

Bara, dia terkunci dalam ketakutannya sendiri dan ia sadari itu.

~!@#$%^&*()_+

Semester ini ada hal istimewa, seseorang mendekatinya dengan membawa keseriusan bersamanya. Hal yang sulit dipercaya namun nyata.

Tak pernah ia berfikir akan sedikit mempercayainya lebih dari seorang teman seperti saat ini. Setidaknya ia mau mulai belajar lagi untuk percaya bahwa ada seseorang yang bisa ia pegang.

Namanya Lian, teman satu angkatanya yang bahkan sempat tidak ia sadari kehadirannya. Banyak yang mengatakan ia baik, Bara pun mengakuinya. Tapi Lian masih terasa asing, dalam arti yang sebenarnya. Banyak pertanyaan dan keraguan tentang keseriusan yang dibawanya. Bukan salah Lian, tapi salah Bara sendiri. Dia takut, terlalu takut untuk keluar dari persembunyiannya. Meski telah banyak yang dia ungkap, tapi tak sedikit pula yang ia pendam.

Bara ingin mencoba percaya, tapi ia sendiri seakan menahan sesuatu untuk mepercayainya. Sering kali ia berbicara pada diri sendiri, apa maunya, apa yang terjadi, siapa dirinya, banyak pertanyaan yang ia tanyakan pada dirinya sendiri, tapi banyak pula yang tak terjawab.

Satu hal yang kini ia pertanyakan, apakah Lian akan bertahan atau bahkan seperti yang lain, menghilang.

~!@#$%^&*()_+

“Bara, Bara……… main yuk….!”, seru gadis kecil bersepedah berkeranjang merah yang disambut seruan dari dalam oleh anak kecil bernama Bara.

“ayuk, mau main apa Tiara?”, tanyanya riang.

“temenin aku main sepedah yuk”

“tapi aku gak punya sepedah Tiara”

“gak papa, kita bonceng-boncengan. Kita ganti-gantian”, senyum Tiara membuat Bara segera mengenakan sandalnya.

Seperti yang Tiara katakan, mereka saling beronceng mengelilingi perumnas sekitar rumah. Baru beberapa menit menerka bermain, Tiara menyuruh Bara turun dan memintanya pulang. Memang tidak jauh, tapi Bara cukup sedih karena ia merasa diusir sebab Tiara ingin meninggalkannya dan bermain dengan yang lain, anak-anak yang tak sengaja mereka temui dan tengah bermain sepeda juga.

“mau main kemana? Aku ikut ya! aku gak akan minta bonceng atau minjem sepedahnya, aku mau liat kamu main aja”, pinta Bara saat diturunkan.

“tidak usah, kamu pulang saja nanti kita jadi susah”, ujar gadis cilik yang tadi mengajaknya bermain.

“gak kok, gak akan menyusahkan. Janji!”, pinta Bara sekali lagi.

“aduh, kamu itu nyusahin. Aku cape, berat tau boncengin kamu. Udahlan, aku udah gak sendiri jadi aku gak butuh kamu lagi. Pulang sana!”, ujar Tiara sambil menggoes sepedahnya meninggalkan Bara.

Untuk sesaat Bara diam di tempat, menunduk lalu melihat Tiara menjauh bersama yang lain. ia ingin menangis, ingin menggerutu mengapa ia ditingalkan padahal Tiara yang mengajaknya keluar. Setidaknya ucapkan sesuatu yang membuat dirinya tenang, seperti “nanti kita main lagi, tapi untuk hari ini udahan dulu ya”. tapi pada kenyataannya malah sebaliknya.

Bara berbalik membelakangi arah temannya pergi, pulang sendiri dengan rasa sedih yang cukup untuk membuatnya diam seharian menyibukkan diri dengan manik-manik yang ia rangkain menjadi tas. Untuk sesaat dia marah, menyalahkan semuanya pada Tiara. Lalu sesaat kemudian dia mencoba sabar dan memaklumi sikap Tiara karena dia telah memaksa ikut bermain meski pada kenyataannya dia tidak bersepedah. Pernah terfikir ingin meminta sepedah pada orang tua, tapi untuk apa? dia sudah cukup senang dengan maink-manik yang dia rangkai di rumah, tidak melelahkan dan cukup berkonsentrasi saja.


Satu hal yang ingin Bara tunjukkan bahwa ia kuat dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Tidak ada.