Tampilkan postingan dengan label Blog Bara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blog Bara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Januari 2015

Blog Bara (Bara)

Sekian banyak kejadian yang ku lalui bersama Lian, sekian banyak pula kenanganku bersama Bastian mencuat. Jujur saja, akulah yang sangat salah dengan itu semua. Seakan aku menyandingkan Lian dengan Bastian. Tak ada maksud untuk berbuat demikian, siapa yang bisa menghalau memori untuk muncul? Entah siapa yang menjadi bayangan siapa. Jika Bastian adalah bayangan Lian, itu tak mengapa karena memang Lianlah yang kini bersamaku. Tapi jika sebaliknya? Itu masalah besar.


Sungguh, tak ada maksud untuk itu semua. Ku harap Lian mengerti jika ia tahu tentang hal ini, tapi apakah bisa? Siapa yang senang jika dijadikan bayangan? Tentu tak ada. Sejauh ini di mataku hanya ada Lian, meski tak dipungkiri sekilas banyangan Bastian terbersit di kepalaku, mendesak seakan tak ingin dilupakan.

Blog Bara (4)

Besok Bara akan survei sekolah yang akan diawasnya Minggu nanti, sekitar di daerah Jakarta Pusat, dekat Pasar Senen. Sebelumnya Bara sudah cukup sering ke pasar Senen karena urusan kepaanitiaan, tapi hanya di sekitaran stasiun Pasar Senen saja.

Rencananya Bara akan survei sendiri, karena Ake sedang tidak enak badan. Kebetulan, besok Lian juga akan survei sekolah. Dan ternyata Lian mengajak Bara untuk survei bersama, tetapi karena lokasi sekolah yang cukup jauh akhirnya Bara menolaknya. Tak banyak alasan bagi Bara selain tidak enak karena selalu merepotkan Lian.

                “Kamu beneran sendiri, Ra? Gak apa?”, tanya Ake lewat telpon.
                “Gak papa, Ke. Besok pokoknya lancar jaya deh pas ke sana”, jawab Bara dengan tertawa.
                “Yakin? Minta temenin Lian gih, kan lagi deket tuh”, balas Ake dengan bercanda. “Kamu udah dimana, Ra?”
                “Ya kali Ke, siapa ane. Hu......", ujarnya yang kemudian tertawa lagi. "OTW pasar Senen”
                “Gak rame? Sekarang kan weekday?”
                “Kan udah siang Ke, jadi gak desek-desekan banget. Lagi pula kalo gitu aku gak akan bisa angkat telepon kamu”
                “Maaf ya, gak bisa nemenin. Hati-hati ya Ra”
                “Selow aja Ke, cepet sembuh yo”

Percakapan itu pun selesai. Sesaat Bara memikirkan apa yang diucap Ake, apa seharusnya dia menerima ajakan Lian kemarin? Tapi Bara menampik jauh-jauh pikiran itu, karena sangat jelas akan merepotkan Lian.

Bara memutuskan untuk transit dua kali, dari Pocin transit di Manggarai menuju Jatinegara lalu ke Pasar Senen. Dari stasiun Pasar Senen ia naik bus coklat yang tepat behenti di pintu stasiun Pasar Senen, sebelum naik Bara bertanya pada sang kenek alamat yang ia tuju, apakah dilalui atau tidak. Sesaat sebelum sampai tujuan, sang kenek mengingatkannya tentang alamat yang Bara sebutkan sebelum naik.

Tidak begitu jauh, tapi juga tidak dekat jika ditelusuri dengan berjalan kaki. Bara turun di suatu gang yang penuh dengan bapak ojek. Ia kembali menanyakan alamat sekolah yang ingin dituju pada seorang bapak ojek di sana. Bapak itu mengatakan sekolahnya hanya tinggal jalan saja ke dalam dan nanti di sebelah kanan akan ada plang bertuliskan nama sekolah. Sang bapak bilang lumayan jauh, tapi Bara memutuskan untuk berjalan kaki saja, sebab sedari tadi ia hanya stuck berdiri ataupun duduk saja. Sambil melihat-lihat daerah sekitar Bara putuskan untuk memeriksa handphone, sedikit berharap akan ada yang menghubinnginya. Dan benar aja ada pesan dari seseorang yang kini membuatnya tersenyum kecil, Lian. Dia bilang kalau dia sudah sampai sekolah yang ia tuju dan juga menanyakan apa Bara sudah sampai atau belum. 

Setelah dijalani, letak sekolahnya tidak begitu jauh dari pangkalan ojek . Meski untuk beberapa orang sepertinya itu cukup jauh, terlebih jika berjalan sendirian seperti yang Bara lakukan. Sekolahnya rapih dan bersih. Hari itu ada beberapa ekskul yang masih mengadakan kegiatan, seperti PMR atau Rohis. Karena waktu zuhur sudah tiba, Bara putuskan untuk beristirahat sebentar di musholah setelah sholat. Musholah itu berAC, membuat Bara seakan tidak mau pergi dan ingin tidur siang saja di sana. Tak lama, ada pesan masuk ke handphonenya.

                Lian: Gue udah di luar

Pesan yang buatnya terperanjat dan reflek melihat jendela musholah yang menghadap gerbang. Lian di sana, memakai kaos bergaris gradasi biru. Pemandangan itu membuatknya tersenyum, entah karena Lian di sana atau karena sesuatu yang lain.

Dengan bergegas Bara keluar musholah, tetapi sebelum menemui Lian, ia sempat bertanya pada salah seorang siswa terkait rute dan kendaraan umum menuju sekolahnya dari stassiun Pasar Senen, sekedar untuk memastikan kelancaran besok.

~!@#$%^&*()_+

Senin ini peringatan ulang tahun sekolah, jadi upacara berlangsung lebih lama karena pengumuman yang begitu panjang lantaran pengumuman juara lomba di minggu sebelumnya diumumkan, serta pemberian penghargaan kepada beberapa siswa teladan di beberapa katagori. Sorak sorai sekumpulan anak menghiasi lapangan saat perwakilan kelasnya menjadi pemenang. Sayangnya Bara yang sangat ingin merasakan momen tersebut tidak bisa ikut serta lantaran kondisi tubuhnya yang drop disaat pembacaan doa.

Karena hari ini hari ulang tahun sekolah, jadilah siswa-siswa diberi hadiah pulang lebih awal setelah upacara berakhir. Beberapa teman sekelas Bara menemuinya, sekedar menanyakan keadaannya dan membawakan tas yang tertinggal di kelas. Ani sempat mengatakan bahwa Bara memperoleh piagam penghargaan yang bisa diambil di perpustakaan karena tadi ia tidak maju untuk menerimanya langsung.

Alhasil ia pergi ke perpustakaan untuk mengambil piagam itu. Di tangga depan perpustakaan ada Bastian sedang duduk seakan menunggu seseorang. Bara yang melihatnya memberi senyum sekenanya, sebagai ungkapan hai yang tidak terucap.

Tak lama proses pengambilan piagam itu, karena Bara cukup dekat dengan sang ibu penjaga perpustakaan dan dengan singkat ia memperoleh piagamnya. Saat memakai sepatu Bara sempat melihat Bastian masih di sana, melihatnya dan tersenyum. Rasa risih mencuat dihati Bara, seakan memacunya untu cepat-cepat menghilang dari pandangan Bastian.

                “Ada apa?”, tanya Bara pada Bastian yang kini di sampingnya saat dia merapihkan rok ketika berdiri.
                “Mau pulang”, jawabnya singkat.

Mendengar hal itu membuat Bara jengkel, entah karena sikap atau jawaban Bastian yang tidak sesuai yang dia inginkan.

                “Mau kemana?”, Bastian sontak bertanya karena Bara tidak berbelok ke gerbang sekolah. “Mau pulang kan?”
                “Kenapa?”
                “Mau pulang bareng?”, tanya Bastian dengan agak canggung.

Seakan ada bunga yang bersemi saat itu di hati Bara, tapi ia sendiri masih tidak tahu kenapa. Jawaban sekaligus pertanyaan Bastian seakan menjawab harapannya.


                “Mau jemput Ikha, dia pasti masih nunggu di sana karena gak tahu aku tadi gak ikut upacara”

Kamis, 30 Oktober 2014

Blog Bara (3)

Jum'at sore, hari yang cukup menyebalkan sekaligus menyenangkan untuk Bara. Kuliah sore yang bahkan tidak jelas ada atau tidak. satu yang sedikit menghiburnya, bertemu dengan Lian. di mata kuliah itulah mereka bertemu, meski di mata kuliah lainnya mereka bisa bertemu namun tidak semenghibur hari Jum'at yang  penuh perjuangan (bagi Bara).

Jum'at ini Bara datang lebih awal dari biasanya. kelas masih sepi, hening. ia memutuskan untuk mempersiapkan perlengkapan kuliah, LCD dan spidol. cukup lama ia menunggu, sampai akhirnya ada kabar bahwa tidak adak kelas. beberapa saat Bara mengira ia telah mempersiapan hal yang sia-sia, tapi beberapa menit kemudian ia merasa beruntung, karena Lian bersedia membatu tanpa diminta.

Sentak Bara tersadar, mengapa ia harus senang? mengapa bertemu Lian menjadi hal yang membuatnya senang?

~!@#$%^&*()_+

hari pengumpulan buku sumbangan sudah ditutup, tumpukan buku di kolong Bara semakin tak terbendung. itu kesalahannya sendiri, sengaja mengumpulkan sekaligus di hari terakhir. Bara memegang buku sumbangan kelas 7, sedangkan Bastian kelas 9, untuk kelas 8 telah dikumpul ke perpustakaan langsung.

rasanya ia ingin mengeluh, mengapa bukunya begitu banyak. tapi ia tidak bisa berbuat demikian karena itu kesalahannya sendiri. dengan amat terpaksa ia menata buku dalam dua tumpukan, dan tinggi tumpukan itu mencapai lehernya. membuatnya berjalan perlahan untuk menuruni tangga. Hana, teman yang selalu memberi pinjaman catatan sejak ia duduk di pojok belakang menawarkan bantuan, tetapi Bara menolaknya karena bel masuk akan segera berbunyi, dan ia tidak ingin merepotkan Hana.

Sesampainya di depan perpustakaan Bara kaget, pepustakaan tutup karena ada study banding dengan sekolah lain. sebenarnya ia sudah diberitahu oleh ibu penjaga perpustakaan bahwa akan ada study banding, sialnya Bara tidak tahu kalau hal tersebut mengakibatkan perpustakaan tutup.

Alhasil dengan kesal ia duduk di samping rak sepatu, meregangkan otot tangan yang pegal karena tumpukan buku yang di bawanya tadi. soalah ingin mengalahkan bel yang tengah berbunyi, Bara berteriak sambil menempelkan pipi kirinya diatas sebagian buku di pangkuannya.

Bagaikan hantu yang tiba-tiba muncul, Bastian langsung mengangkat sebagian besar tumpukan buku di samping kiri Bara. membawanya tanpa mempedulikan Bara yang terdiam melihat sikapnya.

   "Mau dibawa kemana?", tanya Bara dengan heran.
   "ikut aku!", pintanya singkat

Bara yang bingung mengikuti Bastian dari belakang, membawa sebagian kecil tumpukan buku yang tadi dipangkuannya. Sesaat Bastian menengok ke belakang, seakan ingin memastikan apakah Bara mengikutinya atau tidak.

Langkah mereka terhenti di depan ruang OSIS yang tengah sepi. Bastian menoleh pada Bara dan meminta tolong pada Bara untuk membuka pintu sebab tanganya penuh dengan tumpukan buku, sedangkan Bara masih memiliki tangan yang bebas.

Bastian masuk, lalu menghilang dibalik lemari yang menjadi sekat di ruangan itu.

   "taruh bukunya di sana!", ujar Bastian dekat lemari.
   "di sana? di balik lemari itu?"

Seakan dapat membaca isi pikiran Bara, Bastian menjulurkan tanganya dengan senyum, meminta sisa tumpukan buku dari tangan Bara.
   
    "Untuk sementara bukunya dititip ke ruang OSIS, lusa nanti pas perpus buka kamu bisa ambil kemari"
    "oke", ujar Bara singkat di depan ruang OSIS yang tidak ia masuki. "kok sepi, bukannya akan ada 17 Agustusan?", lanjutnya sambil terus melihat-lihat isi ruangan yang penuh tumpukan dimana-mana.
    "Semua persiapan sudah hampir selesai, tinggal mencari beberapa alat saja", jelas Bastian yang kemudian tersenyum.

Senyum Bastian seakan membuat detik di kehidupan Bara menjadi terhenti sejenak, Bara bingung mengapa, tapi itulah yang terjadi, senyum Bastian begitu sulit untuk ditolak, terlebih hal tersebut jarang terjadi.  

Rabu, 09 Juli 2014

Blog Bara (2)

                “abis ngapain Ra?”, tanya Ake pada Bara yang baru saja duduk di sebelahnya.

                “kamar mandi”, jawabnya singkat.

                “lama banget, di lantai berapa? Satu?”

                “iyo………”

Bara memang ke kamar mandi dan benar di lantai satu, meski sebenarnya kelas mereka di lantai empat. Alasan yang cukup sederhana, Bara ingin tahu apa Lian ada di kelas atau tidak. Jika ada, ya sudah. Jika tidak, ya sudah. Kelas Lian di lantai tiga, dan ada jendela di dinding bagian atasnya yang membuat Bara bisa melihat isi kelas saat menuruni tangga. Kebiasaan yang baru saja ia biasakan. Sekedar melihat Lian dari jauh lalu tersenyum sendiri.

~!@#$%^&*()_+

Tumpukan buku terbenam di kolong meja Bara, menanti untuk di setor ke perpustakaan sekolah, tempat pelarian terbaik saat enggan ke kantin.

Hanya beberapa anak yang cocok dengan ibu-ibu penjaga perpustakaan, salah satunya Bara dan Bastian, anggota OSIS yang tidak banyak bicara.

Bara cukup beruntung bisa masuk SMP (yang katanya) terfavorit di kota. Ia masih seakan bermimpi masuk sekolah itu, begitu besar, megah, dan ramai. Cukup dapat dimaklumi karena SD tempat Bara bersekolah tak lebih dari sebesar lapangan futsal di SMP itu dengan jumlah siswa yang tidak begitu banyak.

Di sekolah ini terdapat anak-anak terkenal yang sangat dihindari olehnya. Selain malas, ia juga ingin tenang (arti sebenanrnya). Sudah cukup menguras emosi berurusan dengan anak-anak kelas, dan ia enggan menambahnya lagi.

Awalnya Bara dan Ani teman satu meja, tapi karena beberapa hal Ani megusirnya dan membuat Bara terkucilkan diantara beberapa ‘geng’ anak perempuan yang membuat Bara semakin tidak betah di kelas.

Meja yang dikuasai Ani adalah meja Bara, Anilah yang diundang tapi Anilah yang mengusir. Tapi Bara tak mau ambil pusing, toh ia masih bisa bekomunikasi dengan beberapa anak (dari meja terpojok di kelas).

                “anak jaman sekarang mengerikan”, gerutunya dalam hati.

Perpustakaan membuatnya semakin kenal dengan Bastian, salah satu anggota F5 yang banyak dikagumi anak-anak perempuan. Jujur sejujur-jujurnya Bara sangat amat malas terkait dengan Bastian, tapi karena diminta ibu perpustakaan jadilah Bara harus bekerja sama dengannya.

Keseluruhan anggota F5 adalah anak OSIS di tahun terakhir dan keseluruhan dari mereka adalah pejabat penting OSIS. Bastian dia sekretarius umum di OSIS, perawakannya item manis, tinggi, dengan wajah panjang dan poni yang menutupi jidatnya, baby face, kalem, bersih, rapih, dan tidak banyak bicara, cool (arti sebenarnya), serta misterius. Dia jarang terlihat, namun akhir-akhir ini menjelang 17 Agustus dia sering ke perpustakaan, sehingga mereka sering bertemu dan kembali dipertemukan oleh tugas dari ibu perpustakaan.

Bara dan Bastian juga sering bertemu di ekstrakulikuler teater yang mereka ikuti, di sanalah pertama kalinya Bara berkenalan dengan Bastian. Teater di SMP itu masih angkatan pertama, prediksi awal Bara sedikit yang berminat dan karena itulah Bara memilih teater sebagai kegiatan ekstranya. Tetapi karena beberapa anggota F5 ikut bergabung, jadilah ekskul teater menjadi ekskul yang paling banyak anggotanya (perempuannya di awal).

Perlahan tapi pasti, banyak kejadian yang membuat Bara seakan terbiasa dengan kehadiran Bastian, yang dulu sangat dihindarinya. Begitu pula sebaliknya, meski lebih banyak diam Bastian tidak pernah benar-benar diam. Mereka saling terbiasa meski tidak selalu bertemu tapi selalu ada kesempatan untuk sekedar melihat dari jauh.


Blog Bara (1)

Untuk kesekian kalinya Bara membuat akun blog,  meski sebenarnya dia tidak tahu kelak apakah blog ini akan digunakan atau hanya akan dilupakan.

Bara tak pernah benar-benar yakin bahwa isi blognya akan semenarik blog blog yang lain, tapi sering kali kelabilannya ini membuat dia malu atau bahkan risih dengan apa yang telah ia post.

Alasan yang sangat sederhana mungkin, Bara hanya ingin meminta pendapat tentang isi tulisannya. Apakah itu bagus atau tidak, pantas atau tidak, layak atau tidak, tapi satu hal yang pasti ia ingin belajar menulis.

Dalam benaknya banyak cerita yang ingin sekali ia tulis, tapi sering kali dia bingung memulainya dari mana.  Meski di tiap blog yang pernah ia buat, Bara selalu memulai dengan kisah seorang anak yang baru lulus SD yang percaya bahwa definisi teman itu seperti layaknya anime-anime Jepang, penuh kepercayaan, kepedulian, pengorbanan, dan lain sebagainya. Dia selalu menanamkan hal tersebut, meski pada kenyataanya kehidupan nyata tidak seperti anime kesukaannya, Digimon.

Tak jarang Bara menulis tentang kisah cinta, yang pada dasarnya masilah kisah cinta remeh temeh yang dia sendiri tak mengerti. Salah satu contohnya ketika ia menulis tentang pacar pertamanya, Pramu. Kisah yang dimulai akibat sumpahnya atas kejengkelan dan rasa penasaran tetang apa itu pacaran, meski baginya itu agak konyol karena Bara tak pernah menyangka bahwa itu akan terjadi.

Tak sedikit yang Bara tulis adalah hal yang nyata, meski sering kali ia tak mengakuinya secara gamblang. Bara layaknya gadis pada umumnya, selalu berusaha terlihat kuat meski sebenarnya tak sekuat itu. Terkadang ia terlihat seperti orang munafik, terlalu paranoid, sok, dan menjengkelkan dengan gaya tersendiri.

~!@#$%^&*()_+

Bara, tidak begitu menonjol, tidak istimewa, gadis biasa yang bersuara mengganggu (setidaknya itulah definisi singkat tentangnya). Ia berkuliah di salah satu universitas negeri di Jakarta yang cukup terkenal, meski sebenarnya ia tak benar-benar sadar bahwa kini ia berkuliah di sana.

Banyak hal yang ia suka, salah satunya menulis. Banyak tulisan yang ia buat, tapi tak satupun berani ia tunjukkan. Mungkin pernah ia menunjukkannya, lalu sesaat kemudia dihilangkan dari khalayak ramai.

Blog bukan hal baru baginya, setidaknya sudah 4 blog ia buat dan dinonaktifkan. Pekerjaan yang sia-sia, membuatnya lalu menghilangkannya.

Bara salah satu orang yang rumit, cukup rumit seperti benang kusut yang menjengkelkan, lebih baik digunting dari pada membuang waktu meleraikan kusutnya. Ia sadar jika ia rumit, ia sadar jika ia menjengkelkan. Setiap hari ia bercermin, memastikan bahwa semua akan baik-baik saja, berjalan lancar meski kadang membosankan.

Tak bisa sepenuhnya disalahkan padanya, semua pengalaman membuat dia sangat sulit untuk percaya. Percaya bahwa kepercayaan pada seseorang itu penting. Ia selalu berusaha memposisikan diri tak memihak siapapun dalam tulisannya, tapi yang terjadi sebaliknya. Ia jengkel pada tulisannya sendiri, yang seakan memposisikan diri sebagai yang benar, tersakiti, dan teraniaya. Ia benci ketika harus mengakui jika ia masih bersikap ‘tak layak’, rumit, dan membingungkan.

Bara, dia terkunci dalam ketakutannya sendiri dan ia sadari itu.

~!@#$%^&*()_+

Semester ini ada hal istimewa, seseorang mendekatinya dengan membawa keseriusan bersamanya. Hal yang sulit dipercaya namun nyata.

Tak pernah ia berfikir akan sedikit mempercayainya lebih dari seorang teman seperti saat ini. Setidaknya ia mau mulai belajar lagi untuk percaya bahwa ada seseorang yang bisa ia pegang.

Namanya Lian, teman satu angkatanya yang bahkan sempat tidak ia sadari kehadirannya. Banyak yang mengatakan ia baik, Bara pun mengakuinya. Tapi Lian masih terasa asing, dalam arti yang sebenarnya. Banyak pertanyaan dan keraguan tentang keseriusan yang dibawanya. Bukan salah Lian, tapi salah Bara sendiri. Dia takut, terlalu takut untuk keluar dari persembunyiannya. Meski telah banyak yang dia ungkap, tapi tak sedikit pula yang ia pendam.

Bara ingin mencoba percaya, tapi ia sendiri seakan menahan sesuatu untuk mepercayainya. Sering kali ia berbicara pada diri sendiri, apa maunya, apa yang terjadi, siapa dirinya, banyak pertanyaan yang ia tanyakan pada dirinya sendiri, tapi banyak pula yang tak terjawab.

Satu hal yang kini ia pertanyakan, apakah Lian akan bertahan atau bahkan seperti yang lain, menghilang.

~!@#$%^&*()_+

“Bara, Bara……… main yuk….!”, seru gadis kecil bersepedah berkeranjang merah yang disambut seruan dari dalam oleh anak kecil bernama Bara.

“ayuk, mau main apa Tiara?”, tanyanya riang.

“temenin aku main sepedah yuk”

“tapi aku gak punya sepedah Tiara”

“gak papa, kita bonceng-boncengan. Kita ganti-gantian”, senyum Tiara membuat Bara segera mengenakan sandalnya.

Seperti yang Tiara katakan, mereka saling beronceng mengelilingi perumnas sekitar rumah. Baru beberapa menit menerka bermain, Tiara menyuruh Bara turun dan memintanya pulang. Memang tidak jauh, tapi Bara cukup sedih karena ia merasa diusir sebab Tiara ingin meninggalkannya dan bermain dengan yang lain, anak-anak yang tak sengaja mereka temui dan tengah bermain sepeda juga.

“mau main kemana? Aku ikut ya! aku gak akan minta bonceng atau minjem sepedahnya, aku mau liat kamu main aja”, pinta Bara saat diturunkan.

“tidak usah, kamu pulang saja nanti kita jadi susah”, ujar gadis cilik yang tadi mengajaknya bermain.

“gak kok, gak akan menyusahkan. Janji!”, pinta Bara sekali lagi.

“aduh, kamu itu nyusahin. Aku cape, berat tau boncengin kamu. Udahlan, aku udah gak sendiri jadi aku gak butuh kamu lagi. Pulang sana!”, ujar Tiara sambil menggoes sepedahnya meninggalkan Bara.

Untuk sesaat Bara diam di tempat, menunduk lalu melihat Tiara menjauh bersama yang lain. ia ingin menangis, ingin menggerutu mengapa ia ditingalkan padahal Tiara yang mengajaknya keluar. Setidaknya ucapkan sesuatu yang membuat dirinya tenang, seperti “nanti kita main lagi, tapi untuk hari ini udahan dulu ya”. tapi pada kenyataannya malah sebaliknya.

Bara berbalik membelakangi arah temannya pergi, pulang sendiri dengan rasa sedih yang cukup untuk membuatnya diam seharian menyibukkan diri dengan manik-manik yang ia rangkain menjadi tas. Untuk sesaat dia marah, menyalahkan semuanya pada Tiara. Lalu sesaat kemudian dia mencoba sabar dan memaklumi sikap Tiara karena dia telah memaksa ikut bermain meski pada kenyataannya dia tidak bersepedah. Pernah terfikir ingin meminta sepedah pada orang tua, tapi untuk apa? dia sudah cukup senang dengan maink-manik yang dia rangkai di rumah, tidak melelahkan dan cukup berkonsentrasi saja.


Satu hal yang ingin Bara tunjukkan bahwa ia kuat dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Tidak ada.