Untuk kesekian kalinya Bara
membuat akun blog, meski sebenarnya dia
tidak tahu kelak apakah blog ini akan digunakan atau hanya akan dilupakan.
Bara tak pernah benar-benar yakin
bahwa isi blognya akan semenarik blog blog yang lain, tapi sering kali
kelabilannya ini membuat dia malu atau bahkan risih dengan apa yang telah ia
post.
Alasan yang sangat sederhana
mungkin, Bara hanya ingin meminta pendapat tentang isi tulisannya. Apakah itu
bagus atau tidak, pantas atau tidak, layak atau tidak, tapi satu hal yang pasti
ia ingin belajar menulis.
Dalam benaknya banyak cerita yang
ingin sekali ia tulis, tapi sering kali dia bingung memulainya dari mana. Meski di tiap blog yang pernah ia buat, Bara
selalu memulai dengan kisah seorang anak yang baru lulus SD yang percaya bahwa
definisi teman itu seperti layaknya anime-anime Jepang, penuh kepercayaan,
kepedulian, pengorbanan, dan lain sebagainya. Dia selalu menanamkan hal
tersebut, meski pada kenyataanya kehidupan nyata tidak seperti anime
kesukaannya, Digimon.
Tak jarang Bara menulis tentang
kisah cinta, yang pada dasarnya masilah kisah cinta remeh temeh yang dia
sendiri tak mengerti. Salah satu contohnya ketika ia menulis tentang pacar
pertamanya, Pramu. Kisah yang dimulai akibat sumpahnya atas kejengkelan dan
rasa penasaran tetang apa itu pacaran, meski baginya itu agak konyol karena
Bara tak pernah menyangka bahwa itu akan terjadi.
Tak sedikit yang Bara tulis
adalah hal yang nyata, meski sering kali ia tak mengakuinya secara gamblang.
Bara layaknya gadis pada umumnya, selalu berusaha terlihat kuat meski sebenarnya
tak sekuat itu. Terkadang ia terlihat seperti orang munafik, terlalu paranoid,
sok, dan menjengkelkan dengan gaya tersendiri.
~!@#$%^&*()_+
Bara, tidak begitu menonjol,
tidak istimewa, gadis biasa yang bersuara mengganggu (setidaknya itulah
definisi singkat tentangnya). Ia berkuliah di salah satu universitas negeri di
Jakarta yang cukup terkenal, meski sebenarnya ia tak benar-benar sadar bahwa
kini ia berkuliah di sana.
Banyak hal yang ia suka, salah
satunya menulis. Banyak tulisan yang ia buat, tapi tak satupun berani ia
tunjukkan. Mungkin pernah ia menunjukkannya, lalu sesaat kemudia dihilangkan
dari khalayak ramai.
Blog bukan hal baru baginya,
setidaknya sudah 4 blog ia buat dan dinonaktifkan. Pekerjaan yang sia-sia, membuatnya
lalu menghilangkannya.
Bara salah satu orang yang rumit,
cukup rumit seperti benang kusut yang menjengkelkan, lebih baik digunting dari
pada membuang waktu meleraikan kusutnya. Ia sadar jika ia rumit, ia sadar jika
ia menjengkelkan. Setiap hari ia bercermin, memastikan bahwa semua akan
baik-baik saja, berjalan lancar meski kadang membosankan.
Tak bisa sepenuhnya disalahkan
padanya, semua pengalaman membuat dia sangat sulit untuk percaya. Percaya bahwa
kepercayaan pada seseorang itu penting. Ia selalu berusaha memposisikan diri
tak memihak siapapun dalam tulisannya, tapi yang terjadi sebaliknya. Ia jengkel
pada tulisannya sendiri, yang seakan memposisikan diri sebagai yang benar,
tersakiti, dan teraniaya. Ia benci ketika harus mengakui jika ia masih bersikap
‘tak layak’, rumit, dan membingungkan.
Bara, dia terkunci dalam
ketakutannya sendiri dan ia sadari itu.
~!@#$%^&*()_+
Semester ini ada hal istimewa,
seseorang mendekatinya dengan membawa keseriusan bersamanya. Hal yang sulit
dipercaya namun nyata.
Tak pernah ia berfikir akan
sedikit mempercayainya lebih dari seorang teman seperti saat ini. Setidaknya ia
mau mulai belajar lagi untuk percaya bahwa ada seseorang yang bisa ia pegang.
Namanya Lian, teman satu
angkatanya yang bahkan sempat tidak ia sadari kehadirannya. Banyak yang
mengatakan ia baik, Bara pun mengakuinya. Tapi Lian masih terasa asing, dalam
arti yang sebenarnya. Banyak pertanyaan dan keraguan tentang keseriusan yang
dibawanya. Bukan salah Lian, tapi salah Bara sendiri. Dia takut, terlalu takut
untuk keluar dari persembunyiannya. Meski telah banyak yang dia ungkap, tapi
tak sedikit pula yang ia pendam.
Bara ingin mencoba percaya, tapi
ia sendiri seakan menahan sesuatu untuk mepercayainya. Sering kali ia berbicara
pada diri sendiri, apa maunya, apa yang terjadi, siapa dirinya, banyak
pertanyaan yang ia tanyakan pada dirinya sendiri, tapi banyak pula yang tak
terjawab.
Satu hal yang kini ia
pertanyakan, apakah Lian akan bertahan atau bahkan seperti yang lain,
menghilang.
~!@#$%^&*()_+
“Bara, Bara……… main yuk….!”, seru
gadis kecil bersepedah berkeranjang merah yang disambut seruan dari dalam oleh
anak kecil bernama Bara.
“ayuk, mau main apa Tiara?”,
tanyanya riang.
“temenin aku main sepedah yuk”
“tapi aku gak punya sepedah Tiara”
“gak papa, kita
bonceng-boncengan. Kita ganti-gantian”, senyum Tiara membuat Bara segera
mengenakan sandalnya.
Seperti yang Tiara katakan,
mereka saling beronceng mengelilingi perumnas sekitar rumah. Baru beberapa
menit menerka bermain, Tiara menyuruh Bara turun dan memintanya pulang. Memang tidak
jauh, tapi Bara cukup sedih karena ia merasa diusir sebab Tiara ingin
meninggalkannya dan bermain dengan yang lain, anak-anak yang tak sengaja mereka
temui dan tengah bermain sepeda juga.
“mau main kemana? Aku ikut ya!
aku gak akan minta bonceng atau minjem sepedahnya, aku mau liat kamu main aja”,
pinta Bara saat diturunkan.
“tidak usah, kamu pulang saja
nanti kita jadi susah”, ujar gadis cilik yang tadi mengajaknya bermain.
“gak kok, gak akan menyusahkan. Janji!”,
pinta Bara sekali lagi.
“aduh, kamu itu nyusahin. Aku cape,
berat tau boncengin kamu. Udahlan, aku udah gak sendiri jadi aku gak butuh kamu
lagi. Pulang sana!”, ujar Tiara sambil menggoes sepedahnya meninggalkan Bara.
Untuk sesaat Bara diam di tempat,
menunduk lalu melihat Tiara menjauh bersama yang lain. ia ingin menangis, ingin
menggerutu mengapa ia ditingalkan padahal Tiara yang mengajaknya keluar. Setidaknya
ucapkan sesuatu yang membuat dirinya tenang, seperti “nanti kita main lagi,
tapi untuk hari ini udahan dulu ya”. tapi pada kenyataannya malah sebaliknya.
Bara berbalik membelakangi arah
temannya pergi, pulang sendiri dengan rasa sedih yang cukup untuk membuatnya
diam seharian menyibukkan diri dengan manik-manik yang ia rangkain menjadi tas.
Untuk sesaat dia marah, menyalahkan semuanya pada Tiara. Lalu sesaat kemudian
dia mencoba sabar dan memaklumi sikap Tiara karena dia telah memaksa ikut
bermain meski pada kenyataannya dia tidak bersepedah. Pernah terfikir ingin
meminta sepedah pada orang tua, tapi untuk apa? dia sudah cukup senang dengan
maink-manik yang dia rangkai di rumah, tidak melelahkan dan cukup
berkonsentrasi saja.
Satu hal yang ingin Bara tunjukkan
bahwa ia kuat dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Tidak ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar