Rabu, 09 Juli 2014

Blog Bara (2)

                “abis ngapain Ra?”, tanya Ake pada Bara yang baru saja duduk di sebelahnya.

                “kamar mandi”, jawabnya singkat.

                “lama banget, di lantai berapa? Satu?”

                “iyo………”

Bara memang ke kamar mandi dan benar di lantai satu, meski sebenarnya kelas mereka di lantai empat. Alasan yang cukup sederhana, Bara ingin tahu apa Lian ada di kelas atau tidak. Jika ada, ya sudah. Jika tidak, ya sudah. Kelas Lian di lantai tiga, dan ada jendela di dinding bagian atasnya yang membuat Bara bisa melihat isi kelas saat menuruni tangga. Kebiasaan yang baru saja ia biasakan. Sekedar melihat Lian dari jauh lalu tersenyum sendiri.

~!@#$%^&*()_+

Tumpukan buku terbenam di kolong meja Bara, menanti untuk di setor ke perpustakaan sekolah, tempat pelarian terbaik saat enggan ke kantin.

Hanya beberapa anak yang cocok dengan ibu-ibu penjaga perpustakaan, salah satunya Bara dan Bastian, anggota OSIS yang tidak banyak bicara.

Bara cukup beruntung bisa masuk SMP (yang katanya) terfavorit di kota. Ia masih seakan bermimpi masuk sekolah itu, begitu besar, megah, dan ramai. Cukup dapat dimaklumi karena SD tempat Bara bersekolah tak lebih dari sebesar lapangan futsal di SMP itu dengan jumlah siswa yang tidak begitu banyak.

Di sekolah ini terdapat anak-anak terkenal yang sangat dihindari olehnya. Selain malas, ia juga ingin tenang (arti sebenanrnya). Sudah cukup menguras emosi berurusan dengan anak-anak kelas, dan ia enggan menambahnya lagi.

Awalnya Bara dan Ani teman satu meja, tapi karena beberapa hal Ani megusirnya dan membuat Bara terkucilkan diantara beberapa ‘geng’ anak perempuan yang membuat Bara semakin tidak betah di kelas.

Meja yang dikuasai Ani adalah meja Bara, Anilah yang diundang tapi Anilah yang mengusir. Tapi Bara tak mau ambil pusing, toh ia masih bisa bekomunikasi dengan beberapa anak (dari meja terpojok di kelas).

                “anak jaman sekarang mengerikan”, gerutunya dalam hati.

Perpustakaan membuatnya semakin kenal dengan Bastian, salah satu anggota F5 yang banyak dikagumi anak-anak perempuan. Jujur sejujur-jujurnya Bara sangat amat malas terkait dengan Bastian, tapi karena diminta ibu perpustakaan jadilah Bara harus bekerja sama dengannya.

Keseluruhan anggota F5 adalah anak OSIS di tahun terakhir dan keseluruhan dari mereka adalah pejabat penting OSIS. Bastian dia sekretarius umum di OSIS, perawakannya item manis, tinggi, dengan wajah panjang dan poni yang menutupi jidatnya, baby face, kalem, bersih, rapih, dan tidak banyak bicara, cool (arti sebenarnya), serta misterius. Dia jarang terlihat, namun akhir-akhir ini menjelang 17 Agustus dia sering ke perpustakaan, sehingga mereka sering bertemu dan kembali dipertemukan oleh tugas dari ibu perpustakaan.

Bara dan Bastian juga sering bertemu di ekstrakulikuler teater yang mereka ikuti, di sanalah pertama kalinya Bara berkenalan dengan Bastian. Teater di SMP itu masih angkatan pertama, prediksi awal Bara sedikit yang berminat dan karena itulah Bara memilih teater sebagai kegiatan ekstranya. Tetapi karena beberapa anggota F5 ikut bergabung, jadilah ekskul teater menjadi ekskul yang paling banyak anggotanya (perempuannya di awal).

Perlahan tapi pasti, banyak kejadian yang membuat Bara seakan terbiasa dengan kehadiran Bastian, yang dulu sangat dihindarinya. Begitu pula sebaliknya, meski lebih banyak diam Bastian tidak pernah benar-benar diam. Mereka saling terbiasa meski tidak selalu bertemu tapi selalu ada kesempatan untuk sekedar melihat dari jauh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar