“abis
ngapain Ra?”, tanya Ake pada Bara yang baru saja duduk di sebelahnya.
“kamar
mandi”, jawabnya singkat.
“lama
banget, di lantai berapa? Satu?”
“iyo………”
Bara memang ke kamar mandi dan
benar di lantai satu, meski sebenarnya kelas mereka di lantai empat. Alasan
yang cukup sederhana, Bara ingin tahu apa Lian ada di kelas atau tidak. Jika
ada, ya sudah. Jika tidak, ya sudah. Kelas Lian di lantai tiga, dan ada jendela
di dinding bagian atasnya yang membuat Bara bisa melihat isi kelas saat
menuruni tangga. Kebiasaan yang baru saja ia biasakan. Sekedar melihat Lian dari jauh lalu tersenyum sendiri.
~!@#$%^&*()_+
Tumpukan buku terbenam di kolong
meja Bara, menanti untuk di setor ke perpustakaan sekolah, tempat pelarian
terbaik saat enggan ke kantin.
Hanya beberapa anak yang cocok
dengan ibu-ibu penjaga perpustakaan, salah satunya Bara dan Bastian, anggota
OSIS yang tidak banyak bicara.
Bara cukup beruntung bisa masuk
SMP (yang katanya) terfavorit di kota. Ia masih seakan bermimpi masuk sekolah itu,
begitu besar, megah, dan ramai. Cukup dapat dimaklumi karena SD tempat Bara
bersekolah tak lebih dari sebesar lapangan futsal di SMP itu dengan jumlah
siswa yang tidak begitu banyak.
Di sekolah ini terdapat anak-anak
terkenal yang sangat dihindari olehnya. Selain malas, ia juga ingin tenang
(arti sebenanrnya). Sudah cukup menguras emosi berurusan dengan anak-anak kelas,
dan ia enggan menambahnya lagi.
Awalnya Bara dan Ani teman satu
meja, tapi karena beberapa hal Ani megusirnya dan membuat Bara terkucilkan
diantara beberapa ‘geng’ anak perempuan yang membuat Bara semakin tidak betah
di kelas.
Meja yang dikuasai Ani adalah
meja Bara, Anilah yang diundang tapi Anilah yang mengusir. Tapi Bara tak mau
ambil pusing, toh ia masih bisa bekomunikasi dengan beberapa anak (dari meja
terpojok di kelas).
“anak
jaman sekarang mengerikan”, gerutunya dalam hati.
Perpustakaan membuatnya semakin kenal dengan Bastian, salah satu anggota F5 yang banyak dikagumi anak-anak perempuan.
Jujur sejujur-jujurnya Bara sangat amat malas terkait dengan Bastian, tapi
karena diminta ibu perpustakaan jadilah Bara harus bekerja sama dengannya.
Keseluruhan anggota F5 adalah
anak OSIS di tahun terakhir dan keseluruhan dari mereka adalah pejabat penting
OSIS. Bastian dia sekretarius umum di OSIS, perawakannya item manis, tinggi,
dengan wajah panjang dan poni yang menutupi jidatnya, baby face, kalem, bersih, rapih, dan tidak banyak bicara, cool (arti sebenarnya), serta misterius. Dia jarang terlihat,
namun akhir-akhir ini menjelang 17 Agustus dia sering ke perpustakaan, sehingga
mereka sering bertemu dan kembali dipertemukan oleh tugas dari ibu
perpustakaan.
Bara dan Bastian juga sering bertemu di ekstrakulikuler teater yang mereka ikuti, di sanalah pertama kalinya Bara berkenalan dengan Bastian. Teater di SMP itu masih angkatan pertama, prediksi awal Bara sedikit yang berminat dan karena itulah Bara memilih teater sebagai kegiatan ekstranya. Tetapi karena beberapa anggota F5 ikut bergabung, jadilah ekskul teater menjadi ekskul yang paling banyak anggotanya (perempuannya di awal).
Perlahan tapi pasti, banyak kejadian yang membuat Bara seakan terbiasa dengan kehadiran Bastian, yang dulu sangat dihindarinya. Begitu pula sebaliknya, meski lebih banyak diam Bastian tidak pernah benar-benar diam. Mereka saling terbiasa meski tidak selalu bertemu tapi selalu ada kesempatan untuk sekedar melihat dari jauh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar