Sekian banyak kejadian yang ku
lalui bersama Lian, sekian banyak pula kenanganku bersama Bastian mencuat. Jujur
saja, akulah yang sangat salah dengan itu semua. Seakan aku menyandingkan Lian
dengan Bastian. Tak ada maksud untuk berbuat demikian, siapa yang bisa
menghalau memori untuk muncul? Entah siapa yang menjadi bayangan siapa. Jika
Bastian adalah bayangan Lian, itu tak mengapa karena memang Lianlah yang kini
bersamaku. Tapi jika sebaliknya? Itu masalah besar.
Sungguh, tak ada maksud untuk itu
semua. Ku harap Lian mengerti jika ia tahu tentang hal ini, tapi apakah bisa? Siapa
yang senang jika dijadikan bayangan? Tentu tak ada. Sejauh ini di mataku hanya
ada Lian, meski tak dipungkiri sekilas banyangan Bastian terbersit di kepalaku,
mendesak seakan tak ingin dilupakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar