Natan
Sore ini aku berencana ke rumah Nina. berbekal bunga dan coklat serta keberanian aku datang menemuinya, gadis yang sangat aku suka, sangat ku nanti untuk dapat bertemu dengannya lagi. Dari balik jendel kamarnya aku melihat Nina seakan tengah bersiap-siap pergi. Dari jauh aku melihatnya, ya, dari jauh, tapi rasanya begitu bahagia.
Belum sempat ku pencet bel rumahnya, Nina keluar.
"Hai, cari siapa?", ujarnya sambil seakan meneliti tentang ku. "Natan? Kamu Natan kan?", lanjutnya yang melihatku terdiam saja.
"Hai Nina, aku kira kamu lupa", balasku agak gugup sambil tersenyum.
"Aku gak lupa, cuma pangling. Kamu berubah banget, makin ganteng. Itu buatku?", Nina berucap penuh riang, dan menanyakan bunga serta coklat yang ku bawa.
"Hampir lupa sangking terpesonanya sama kamu, iya ini buat kamu"
"Bisa aja kamu, Tan. Makasih ya"
Nina tersipu mendengar ucapanku yang seakan menggombal, tapi itu jujur ku katakan padanya. Kami berpandangan sesaat, lalu terbuyarkan oleh suara mobil yang kini terparkir di depan rumah Nina. Mobil Honda Jazz merah mengkilap, pengendaranya keluar dan melambaikan tangan pada kami, yang kemudian dibalas oleh Nina dengan riang.
"Natan, maaf kayaknya kita gak bisa ngobrol lama. Dilanjut lagi nanti gimana? Soalnya aku udah janjian sama Kiki atau mau ikut kita aja, biar sekalian aku kenalin sama Kiki. Yuk!"
Nina menarik tanganku, menghampiri laki-laki yang ia panggil Kiki. Sedikit khawatir tentang siapa Kiki yang membuat Nina begitu riang.
"Kiki kenalin ini Natan, sahabatku dari kecil dan kita baru ketemu lagi loh seteah sekian lama gak ketemu karena aku pindah ke Bandung", Nina menjelaskan posisiku pada Kiki. terasa menggantung bagiku karena Nina hanya menganggapku sahabatnya.
"Hai", ujarku yang juga dibalas hai oleh Kiki.
"Dan Natan kenalin, Kiki pacarku. Kiki senior aku di sekolah, kita sempet LDRan satu tahun karena Kiki balik ke Jakarta karena ikut mamanya", perjelas Nina yang terasa menusuk jantungku begitu telak, hingga sulit bagiku bernafas saat itu. "Hari ini kita mau nonton, kamu mau ikut? Ikut yuk Tan, kan udah lama juga kita gak ketemu. Kiki, Natan boleh ikut ya?", ajak Nina sambil merengek padaku dan Kiki agar mengizinkan.
Kiki hanya tersenyum sambil mengguk pada Nina, tak berucap kata. melihat itu Nina sangat riang, tapi terlihat bahwa Kiki tas seriang Nina. Jujur aku ingin merebut Nina darinya, mengambil kesempatan untuk memperlihatkan siapa aku sebenarnya, aku yang tahu segalanya tentang Nina. Tapi rasanya masih begitu sesak, sakitnya seakan merambat ke tubuhku yang seakan ngilu pada tulang.
"Nanti aku jadi kambing conge lagi. Gak ah"
"Yah Natan, kan seru kalo makin rame. Gak akan jadi kambing conge kok. Filmnya juga bagus, bukan romace", rengek Nina padaku.
"Iya buka romace, tapi action. Lagi pula Nina kan bawel jadi gak akan jadi kambing conge", Kiki yang membuka kata yang dibalas pukulan oleh Nina yang tidak terima dikatakan cerewet. "Kamu kan memang cerewet. Hu..."
Mereka bertengkar kecil di depanku, meskipun begitu aku melihat raut bahagia di wajah Nina ketika bersama Kiki, rasanya sakit.
"Emang bener kok kata Kiki, kamu itu bawel"
"Ih, Natan kok belain Kiki sih"
"Bener kan tuh, kamu bawel, cerewet!", Kiki kembali berucap dengan canda.
"Udah dulu ya, kebetulan aku ada janji sama akan-anak buat main futsal", potongku pada mereka yang masih bertengkar kecil.
"Jadi gak ikut nih?", Nina seakan tak rela.
"Menurut situ?", balasku sambil tertawa. "Bro, mungkin kapan-kapan kita bisa main futsal bareng. Suka futsal kan?", ajaku pada Kiki, agar terkesan tidak canggung.
"Sip......"
Percakapan singkat antara kami bertiga berakhir. Aku pergi setelah mobil mereka menjauh dari pandangan. Rasanya begitu sesak, ku kira kami bisa lebih dari sekedar sahabat. Lebih.
~!@#$%^&*()_+
Terry
"Bagaimana laporan minggu ini, Terry?", kepala UKS menanyakan padaku terkait perkembangan klientku.
"Sejauh ini baik bu, klien jadi lebih terbuka dengan yang lain dan tidak begitu memikirkan perihal putus seperti minggu kemarin"
"Dimas, kalau yang kamu tangani bagaimana?", lanjut kepala UKS menanyakan kami, para psikolog remaja, satu persatu.
Selain sebagai siswa, kami perwakilan dari beberapa kelas ditunjuk oleh kepala UKS untuk menjadi psikolog kecil. Kami diberi pelatihan khusus oleh kabupaten kota untuk menangani kasus psikologis remaja. Kami juga memiliki link ke beberapa puskesmas yang tersebar di kota, selain itu kami juga digaji sehingga kami harus bersikap profesional. Tidak membocorkan identitas klien dan bersikap terbuka untuk semua kasus teman sebaya di sekolah, meskipun kasus tersenub merupakan kasus remeh temeh, atau sekedar cerita yang ingin didengarkan. Tugas kami mendengarkan dan berbagi serta memantau beberapa klien yang harus ditanggapi khusus. Pertemuan tiap Rabu dilakukan sebagai upaya sekolah memantau kinerja kami sebagai psikolog, meski tak jarang tak banyak laporan yang bisa kami berikan.
"Lama ya Nes? Sorry, tadi lumayan banyak yang diomongin soalnya", pintaku yang membuat teman baikku menungguku pulang, Agnes.
"santai aja kali, Ry. Kayak ke siapa aja deh."
Aku dan Agnes dikenalkan secara tidak sengaja oleh Puji, teman TKku, dan teman SDnya Agnes. Kami semua kini bersekolah di SMP yang sama, membuat kami secara tidak langsung sering bertemu. Mungkin awalnya aku dan Agnes diperantarai oleh Puji, tetapi karena rumahku dan rumah Agnes berdekatan akhirnya aku dan Agnes semakin dekat, selain itu Agnes juga merupakan salah satu klienku, sehingga bisa dibilang aku cukup mengenal Agnes.
Meskipun demikian, aku tidak pernah bercerita tentang sesuatu yang penting pada Agnes, pada siapapun. Aku lebih banyak mendengarkan, dan enggan untuk menceritakan. Karena tak ada masalah besar menyangkut kehidupan remaja, seperti pacaran. Aku tidak punya pacar, meskipun sering kali aku menerima klien yang membicarakan hal itu. Lucu memang tapi tidak masalah, malah bagus. Jadi aku bisa berbagi pendapat dengan menggunakan logika, bukan emosi seperti gadis remaja pada umumnya.
Selama ini semua berjalan baik, semua klienku tidak banyak mengeluh karena pendapat yang ku bagi salah atau berakibat buruk. Klienku seluruhnya wanita, karena klien laki-laki akan segera dialihkan ke temanku yang laki-laki. Kami melayani berdasarkan gender. Salah satu hal yang cukup dihindari adalah teriat emosi lebih dari pada sekedar rasa empati pada klien, karena akan mengganggu kinerja kami.
~!@#$%^&*()_+
Natan
Emosiku tak terbendung, seakan pecah hingga akhirnya tak bersisa. Aku tidak menangis, tidak. Hanya termenung menatap kosong langit-langit kamar yanng putih polos. Minggu ini bi Dian tidak datang ke rumah, renacananya aku dan papa akan berkunjung ke rumah om Ali Sabtu nanti, berkunjung dan memperkenalkanku dengan keluarga papa. Dan aku bisa bercerita banyak dengan bi Dian tentang hari ini.
Bi Dian mungkin cerewet, bawel, tapi dia perhatian dan cukup memahami kondisiku. Bukan tidak terbuka pada papa ataupun mama, hanya saja aku tidak ingin membuat mereka khawatir tentangku. Mungkin ini masalah sepele, kisah kasih remaja yang kandas seperti pada umumnya kisah. Tapi yang membautku tidak bisa melepaskan Nina adalah perasaan yang terendap begitu lama, membuatku tidak bisa terima mengapa Nina memilih Kiki seniornya yang baru ia kenal saat sekolah, bukan aku.
Emosi seakan tak mau lari, meski ekspresi untuk mengungkapkannya telah membeku. Memperlihatkan wajah datar yang tak peduli. Aku sangat menyukainya, aku menyukai Nina. Tapi apalah aku, jika memang Nina bersamaku kini apa mungkin Nina akan seriang ketika bersama Kiki tadi? Dengan apa aku akan menjemputnya pergi? Jangankan mobil, motor saja kini aku tidak ada. Mungkin lebih baik saat ini Nina bersama Kiki, tapi nanti ketika aku mampu Nina akan lebih baik bersamaku. Karena aku yang paling mengerti Nina, itu pasti.
~!@#$%^&*()_+
Terry
Dari banyak kasus yang ku tangani, banyak mereka yang berpacaran hanya menganggap itu hanyalah hubungan selingan, penyemangat untuk ke sekolah, atau teman bermain ketika ingin pergi berdua. Atau bahkan status gengsi ketika teman-teman klien sudah punya pacar. Rasanya begitu sederhana alasan yang dibuat, tapi itulah adanya. Aku tidak menyalahkan, tetapi tidak juga membenarkan. Jarang diantara mereka berpasangan menggunakan hati, kebanyakan hanya lebih menggunakan emosi.
Tidak sedikit pula yang terjebak dengan obsesi, menyamakan status pacar dengan hak untuk memiliki lebih. Protektif seakan sang pacar adalah hewan yang terkekang lehernya. Semua serba salah ketika mereka berjauhan, curiga menjadi bom waktu yang menanti untuk meledak. Aku heran, banyak diantara mereka mengatas namankan cinta, tapi banyak pula diantara mereka bahkan tidak tahu definisi cinta itu apa. Aku sendiripun tidak banyak tahu cinta itu apa, yang aku tahu cinta itu perasaan yang bukan hanya terucap, tetapi dilakukan untuk melidungi bukan untuk merusak yang dicintai. Jadi bagiku, jika sang pacar mencintaimu maka ia akan melindungimu hingga dirimu menjadi haknya dan begitu sebaliknya. Jika sang pacar hanya bermain denganmu, maka ia akan melakukan sesukanya padamu hingga akhirnya dia bosan atau dirimu rusak dan tidak bisa dimainkan lagi.
Mulut sering kali berdalih, berdusta seakan salah menjadi benar. Mata sering kali buta, saat kata cinta beralun dalam melodi yang menyejukkan hati meski hanya sekedar ilusi. Menebar kasih boleh, tapi menebar mantan tidak selalu berarti sama ddengan hal demikian. Banyak mantan bukan berarti hebat. sering kali 'laris' selalu beriringan dengan 'murah'.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar