Besok Bara akan survei sekolah
yang akan diawasnya Minggu nanti, sekitar di daerah Jakarta Pusat, dekat Pasar
Senen. Sebelumnya Bara sudah cukup sering ke pasar Senen karena urusan
kepaanitiaan, tapi hanya di sekitaran stasiun Pasar Senen saja.
Rencananya Bara akan survei
sendiri, karena Ake sedang tidak enak badan. Kebetulan, besok Lian juga akan
survei sekolah. Dan ternyata Lian mengajak Bara untuk survei bersama, tetapi karena lokasi
sekolah yang cukup jauh akhirnya Bara menolaknya. Tak banyak alasan bagi Bara selain tidak enak karena selalu merepotkan Lian.
“Kamu
beneran sendiri, Ra? Gak apa?”, tanya Ake lewat telpon.
“Gak
papa, Ke. Besok pokoknya lancar jaya deh pas ke sana”, jawab Bara dengan tertawa.
“Yakin?
Minta temenin Lian gih, kan lagi deket tuh”, balas Ake dengan bercanda. “Kamu
udah dimana, Ra?”
“Ya kali Ke, siapa ane. Hu......", ujarnya yang kemudian tertawa lagi. "OTW
pasar Senen”
“Gak
rame? Sekarang kan weekday?”
“Kan
udah siang Ke, jadi gak desek-desekan banget. Lagi pula kalo gitu aku gak akan bisa
angkat telepon kamu”
“Maaf
ya, gak bisa nemenin. Hati-hati ya Ra”
“Selow
aja Ke, cepet sembuh yo”
Percakapan itu pun selesai. Sesaat Bara memikirkan apa yang diucap Ake, apa seharusnya dia menerima ajakan Lian
kemarin? Tapi Bara menampik jauh-jauh pikiran itu, karena sangat jelas akan
merepotkan Lian.
Bara memutuskan untuk transit dua
kali, dari Pocin transit di Manggarai menuju Jatinegara lalu ke Pasar Senen. Dari
stasiun Pasar Senen ia naik bus coklat yang tepat behenti di pintu stasiun
Pasar Senen, sebelum naik Bara bertanya pada sang kenek alamat yang ia tuju, apakah dilalui atau tidak. Sesaat sebelum sampai tujuan, sang kenek mengingatkannya tentang
alamat yang Bara sebutkan sebelum naik.
Tidak begitu jauh, tapi juga
tidak dekat jika ditelusuri dengan berjalan kaki. Bara turun di suatu gang yang
penuh dengan bapak ojek. Ia kembali menanyakan alamat sekolah yang ingin dituju pada seorang bapak ojek di sana. Bapak itu mengatakan sekolahnya hanya tinggal jalan saja ke dalam dan nanti di sebelah kanan akan ada plang bertuliskan
nama sekolah. Sang bapak bilang lumayan jauh, tapi Bara memutuskan untuk berjalan
kaki saja, sebab sedari tadi ia hanya stuck berdiri ataupun duduk saja. Sambil melihat-lihat
daerah sekitar Bara putuskan untuk memeriksa handphone, sedikit berharap akan ada yang menghubinnginya.
Dan benar aja ada pesan dari seseorang yang kini membuatnya tersenyum kecil, Lian. Dia bilang kalau dia sudah sampai sekolah yang ia tuju dan juga menanyakan apa Bara sudah sampai atau belum.
Setelah dijalani, letak sekolahnya tidak
begitu jauh dari pangkalan ojek . Meski untuk beberapa orang sepertinya itu cukup jauh, terlebih jika berjalan sendirian seperti yang Bara lakukan. Sekolahnya rapih
dan bersih. Hari itu ada beberapa ekskul yang masih mengadakan
kegiatan, seperti PMR atau Rohis. Karena waktu zuhur sudah tiba, Bara putuskan untuk beristirahat sebentar di musholah setelah sholat. Musholah itu berAC, membuat Bara seakan tidak mau
pergi dan ingin tidur siang saja di sana. Tak lama, ada pesan masuk ke handphonenya.
Lian: Gue udah di luar
Pesan yang buatnya terperanjat dan
reflek melihat jendela musholah yang menghadap gerbang. Lian di sana, memakai
kaos bergaris gradasi biru. Pemandangan itu membuatknya tersenyum, entah
karena Lian di sana atau karena sesuatu yang lain.
Dengan bergegas Bara keluar musholah,
tetapi sebelum menemui Lian, ia sempat bertanya pada salah seorang siswa
terkait rute dan kendaraan umum menuju sekolahnya dari stassiun Pasar Senen, sekedar untuk
memastikan kelancaran besok.
~!@#$%^&*()_+
Senin ini peringatan ulang tahun
sekolah, jadi upacara berlangsung lebih lama karena pengumuman yang begitu
panjang lantaran pengumuman juara lomba di minggu sebelumnya diumumkan, serta
pemberian penghargaan kepada beberapa siswa teladan di beberapa katagori. Sorak sorai sekumpulan anak menghiasi lapangan saat perwakilan kelasnya menjadi pemenang. Sayangnya Bara yang sangat ingin merasakan momen tersebut tidak bisa ikut serta lantaran kondisi tubuhnya yang drop disaat pembacaan doa.
Karena hari ini hari ulang tahun
sekolah, jadilah siswa-siswa diberi hadiah pulang lebih awal setelah upacara berakhir.
Beberapa teman sekelas Bara menemuinya, sekedar menanyakan keadaannya dan membawakan tas yang
tertinggal di kelas. Ani sempat mengatakan bahwa Bara memperoleh piagam penghargaan yang bisa diambil di perpustakaan karena tadi ia tidak maju untuk menerimanya langsung.
Alhasil ia pergi ke perpustakaan untuk mengambil piagam itu. Di tangga depan perpustakaan ada Bastian sedang duduk seakan menunggu seseorang. Bara yang melihatnya memberi senyum sekenanya, sebagai ungkapan hai yang tidak terucap.
Alhasil ia pergi ke perpustakaan untuk mengambil piagam itu. Di tangga depan perpustakaan ada Bastian sedang duduk seakan menunggu seseorang. Bara yang melihatnya memberi senyum sekenanya, sebagai ungkapan hai yang tidak terucap.
Tak lama proses pengambilan
piagam itu, karena Bara cukup dekat dengan sang ibu penjaga perpustakaan dan
dengan singkat ia memperoleh piagamnya. Saat memakai sepatu Bara sempat melihat
Bastian masih di sana, melihatnya dan tersenyum. Rasa risih mencuat dihati Bara, seakan memacunya untu cepat-cepat menghilang dari pandangan Bastian.
“Ada
apa?”, tanya Bara pada Bastian yang kini di sampingnya saat dia merapihkan rok ketika berdiri.
“Mau
pulang”, jawabnya singkat.
Mendengar hal itu membuat Bara jengkel, entah karena sikap atau jawaban Bastian yang tidak sesuai yang dia inginkan.
“Mau
kemana?”, Bastian sontak bertanya karena Bara tidak berbelok ke gerbang sekolah. “Mau
pulang kan?”
“Kenapa?”
“Mau
pulang bareng?”, tanya Bastian dengan agak canggung.
Seakan ada bunga yang bersemi saat itu di hati Bara, tapi ia sendiri masih tidak tahu kenapa. Jawaban sekaligus pertanyaan Bastian seakan menjawab harapannya.
“Mau
jemput Ikha, dia pasti masih nunggu di sana karena gak tahu aku tadi gak ikut
upacara”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar