Minggu, 18 Januari 2015

Blog Bara (4)

Besok Bara akan survei sekolah yang akan diawasnya Minggu nanti, sekitar di daerah Jakarta Pusat, dekat Pasar Senen. Sebelumnya Bara sudah cukup sering ke pasar Senen karena urusan kepaanitiaan, tapi hanya di sekitaran stasiun Pasar Senen saja.

Rencananya Bara akan survei sendiri, karena Ake sedang tidak enak badan. Kebetulan, besok Lian juga akan survei sekolah. Dan ternyata Lian mengajak Bara untuk survei bersama, tetapi karena lokasi sekolah yang cukup jauh akhirnya Bara menolaknya. Tak banyak alasan bagi Bara selain tidak enak karena selalu merepotkan Lian.

                “Kamu beneran sendiri, Ra? Gak apa?”, tanya Ake lewat telpon.
                “Gak papa, Ke. Besok pokoknya lancar jaya deh pas ke sana”, jawab Bara dengan tertawa.
                “Yakin? Minta temenin Lian gih, kan lagi deket tuh”, balas Ake dengan bercanda. “Kamu udah dimana, Ra?”
                “Ya kali Ke, siapa ane. Hu......", ujarnya yang kemudian tertawa lagi. "OTW pasar Senen”
                “Gak rame? Sekarang kan weekday?”
                “Kan udah siang Ke, jadi gak desek-desekan banget. Lagi pula kalo gitu aku gak akan bisa angkat telepon kamu”
                “Maaf ya, gak bisa nemenin. Hati-hati ya Ra”
                “Selow aja Ke, cepet sembuh yo”

Percakapan itu pun selesai. Sesaat Bara memikirkan apa yang diucap Ake, apa seharusnya dia menerima ajakan Lian kemarin? Tapi Bara menampik jauh-jauh pikiran itu, karena sangat jelas akan merepotkan Lian.

Bara memutuskan untuk transit dua kali, dari Pocin transit di Manggarai menuju Jatinegara lalu ke Pasar Senen. Dari stasiun Pasar Senen ia naik bus coklat yang tepat behenti di pintu stasiun Pasar Senen, sebelum naik Bara bertanya pada sang kenek alamat yang ia tuju, apakah dilalui atau tidak. Sesaat sebelum sampai tujuan, sang kenek mengingatkannya tentang alamat yang Bara sebutkan sebelum naik.

Tidak begitu jauh, tapi juga tidak dekat jika ditelusuri dengan berjalan kaki. Bara turun di suatu gang yang penuh dengan bapak ojek. Ia kembali menanyakan alamat sekolah yang ingin dituju pada seorang bapak ojek di sana. Bapak itu mengatakan sekolahnya hanya tinggal jalan saja ke dalam dan nanti di sebelah kanan akan ada plang bertuliskan nama sekolah. Sang bapak bilang lumayan jauh, tapi Bara memutuskan untuk berjalan kaki saja, sebab sedari tadi ia hanya stuck berdiri ataupun duduk saja. Sambil melihat-lihat daerah sekitar Bara putuskan untuk memeriksa handphone, sedikit berharap akan ada yang menghubinnginya. Dan benar aja ada pesan dari seseorang yang kini membuatnya tersenyum kecil, Lian. Dia bilang kalau dia sudah sampai sekolah yang ia tuju dan juga menanyakan apa Bara sudah sampai atau belum. 

Setelah dijalani, letak sekolahnya tidak begitu jauh dari pangkalan ojek . Meski untuk beberapa orang sepertinya itu cukup jauh, terlebih jika berjalan sendirian seperti yang Bara lakukan. Sekolahnya rapih dan bersih. Hari itu ada beberapa ekskul yang masih mengadakan kegiatan, seperti PMR atau Rohis. Karena waktu zuhur sudah tiba, Bara putuskan untuk beristirahat sebentar di musholah setelah sholat. Musholah itu berAC, membuat Bara seakan tidak mau pergi dan ingin tidur siang saja di sana. Tak lama, ada pesan masuk ke handphonenya.

                Lian: Gue udah di luar

Pesan yang buatnya terperanjat dan reflek melihat jendela musholah yang menghadap gerbang. Lian di sana, memakai kaos bergaris gradasi biru. Pemandangan itu membuatknya tersenyum, entah karena Lian di sana atau karena sesuatu yang lain.

Dengan bergegas Bara keluar musholah, tetapi sebelum menemui Lian, ia sempat bertanya pada salah seorang siswa terkait rute dan kendaraan umum menuju sekolahnya dari stassiun Pasar Senen, sekedar untuk memastikan kelancaran besok.

~!@#$%^&*()_+

Senin ini peringatan ulang tahun sekolah, jadi upacara berlangsung lebih lama karena pengumuman yang begitu panjang lantaran pengumuman juara lomba di minggu sebelumnya diumumkan, serta pemberian penghargaan kepada beberapa siswa teladan di beberapa katagori. Sorak sorai sekumpulan anak menghiasi lapangan saat perwakilan kelasnya menjadi pemenang. Sayangnya Bara yang sangat ingin merasakan momen tersebut tidak bisa ikut serta lantaran kondisi tubuhnya yang drop disaat pembacaan doa.

Karena hari ini hari ulang tahun sekolah, jadilah siswa-siswa diberi hadiah pulang lebih awal setelah upacara berakhir. Beberapa teman sekelas Bara menemuinya, sekedar menanyakan keadaannya dan membawakan tas yang tertinggal di kelas. Ani sempat mengatakan bahwa Bara memperoleh piagam penghargaan yang bisa diambil di perpustakaan karena tadi ia tidak maju untuk menerimanya langsung.

Alhasil ia pergi ke perpustakaan untuk mengambil piagam itu. Di tangga depan perpustakaan ada Bastian sedang duduk seakan menunggu seseorang. Bara yang melihatnya memberi senyum sekenanya, sebagai ungkapan hai yang tidak terucap.

Tak lama proses pengambilan piagam itu, karena Bara cukup dekat dengan sang ibu penjaga perpustakaan dan dengan singkat ia memperoleh piagamnya. Saat memakai sepatu Bara sempat melihat Bastian masih di sana, melihatnya dan tersenyum. Rasa risih mencuat dihati Bara, seakan memacunya untu cepat-cepat menghilang dari pandangan Bastian.

                “Ada apa?”, tanya Bara pada Bastian yang kini di sampingnya saat dia merapihkan rok ketika berdiri.
                “Mau pulang”, jawabnya singkat.

Mendengar hal itu membuat Bara jengkel, entah karena sikap atau jawaban Bastian yang tidak sesuai yang dia inginkan.

                “Mau kemana?”, Bastian sontak bertanya karena Bara tidak berbelok ke gerbang sekolah. “Mau pulang kan?”
                “Kenapa?”
                “Mau pulang bareng?”, tanya Bastian dengan agak canggung.

Seakan ada bunga yang bersemi saat itu di hati Bara, tapi ia sendiri masih tidak tahu kenapa. Jawaban sekaligus pertanyaan Bastian seakan menjawab harapannya.


                “Mau jemput Ikha, dia pasti masih nunggu di sana karena gak tahu aku tadi gak ikut upacara”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar