Tampilkan postingan dengan label smartshare.blogspot.com. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label smartshare.blogspot.com. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Desember 2014

Hai Semua... Salam Kenal

Transfer Post by My Blog: smartshare.blogspot.com / 2011, dengan perubahan

Hai, salam kenal semua. Sepertinya perkenalan itu penting.
Seperti pepatah “Jika tak kenal maka tak sayang”. Tapi aku juga tidak terlalu berharap pembaca akan menyanyangiku seperti kata pepatah itu.

Ini blog pertamaku, My first blog. Pertama kalinya menulis panjang lebar dan mempublisnya di internet. Agak malu memang, tapi setiap hal pasti ada awal. Dan hampir setiap ‘awal’ itu membuat tegang, gugup, atau memalukan serta menakutkan.

Tujuan aku membuat blog ini adalah untuk membagi kisah, pikiran, rasa, dan apa saja yang bisa kita share. Yang ku harap mampu menghibur atau pun menginspirasi kita semua. Mengambil hal baik dan berguna, serta membuang hal buruk dan tidak berguna dari isi blog ini. Pembaca juga busa mengkritik langsung, tapi jangan menggunakan kata-kata kasar. Karna di sini kita berbagi, bukan berkelahi. (Okey)

Apakah perlu alasan mengapa aku ataupun pembaca perlu berbagi di blog ini?
Aku tidak bisa memberi jawaban yang jelas tentang hal itu, tapi mungkin kalimat ini akan mewakili jawaban yang diperlukan.

“Dalam hidup, jalur nyaris tanpa perlawanan adalah tutp mulut (tidak mengatakan apa yang kau rasa, kau pikir, kau alami, intinya tertutup dan memendam masalahmu sendiri lalu mengikuti arus tanpa perlawanan untuk mencari aman). Bila kau tidak mengekspresikan perasaan dan pikiran kepada orang lain, kau tidak perlu berurusan dengan reaksi mereka (orang-orang yang menentangmu). Kau tidak perlu merasa rentan, kau tidak mengambil resiko ditolak. Tapi jalur nyaris tanpa perlawanan itu pasti mengarah ke tujuan perjalanan, yakni tidak kemana-mana.” Crank, pada buku Life’s Golden Ticket.

Intinya, tak akan ada yang tahu persis apa yang kita mau jika kita tidak mengungkapkannya. Orang lain hanya akan menebak-nebak tentang kita. Dan kita hanya mengikuti arus tanpa melangkah maju untuk sampai tepi sungai karna enggan merasa lelah, yang membuat kita hanya berada pada garis yang sama. Hal ini akan membuat kita terjebak pada situasi yang mengarahkan kita, bukan kita yang mengarahkan situasi. Jadi, ungkapkan apa yang kamu mau. Sehingga orang-orang tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membuat kita senang.

Jujur, dulu aku juga tertutup dengan orang lain. Aku tetap bergaul, berbaur, dan berbagi kisah. Namun bukanlah hal yang penting untuk dibagi, malah terkesan seperti hal yang tidak penting namun ‘dipaksa’ menjadi sesuatu yang penting. Aku lebih sering mendengarkan kisah-kisah yang berarti bagi orang lain, namun aku sangat jarang berbagi hal yang berarti dari hidupku pada orang lain. Membenamkan diri dengan rasa ‘sok tahu’ mampu menyelesaikan masalah itu sendiri. Terus berusaha terlihat ceria, riang, seperti tanpa masalah. Tapi lelah sekali bersikap seperti itu. Mungkin aku bisa menipu orang lain, tapi aku tidak bisa menipu diri sendiri.

Sampai akhirnya aku mendapatkan buku berjudul “Life’s Golden Ticket” yang ku dapat dari bertukar kado sewaktu bukber bulan kemari bersama teman-teman sekelas di SMA. Pokoknya ini awal baru bagiku, fase yang kuharap nerguna bagi kita kelak. Semangat!

“Sabar yo, hidup itu memang butuh perjuangan. Semangat!”

~!@#$%^&*()_+

"Gile, post jaman baheula make bahasanya formal badai. Kaku beud. hehehe... " -me, now

Lautan Harapan Sang Sukses

Transfer Post by my blog: smartshare.blogspot.com / 2011

pagi ini aku baru sampai di Depok setelah perjalanan sehari semalam dari Palembang (mudik). melelahkan memang, tapi ku rasa banyak hal bisa ku dapat dari perjalanan itu. aku dan keluarga menyewa sebuah mobil untuk mengantar kami pulang, sebuah APV Arena hitam yang cukup nyaman, bahkan sangat nyaman untuk kami yang tidak memiliki mobil pribadi. hhe....

kami memulai perjalanan kami setelah makan siang usai. sekitar pukul setengah dua siang kami berangkat, setelah sebelumnya berpamitan dengan keluarga besar yang membuatku rindu ingin kembali. selama perjalanan aku mengisi waktu dengan membaca buku yang ku pinjam dari teman satu SMA dan kini satu fakultas denganku, Dummy, dengan diiringi musik Justin Bieber - Should be me aku asik dengan duniaku sendiri. sampai akhirnya hari sudah senja, jam di tanganku telah menunjukkan pukul setengah enam sore. dikejauhan nampak matahari yang telah memerah sambil terus meringkuk menuju ke bawah seakan ingin bersembunyi di balik pepohonan. segaris orange dan pink menyatu membentuk pemisah antara langit malam dan senja yang semakin pekat.

lampu dalam mobil sengaja tidak dihidupkan untuk menghindri kesan mencolok pada kami yang di dalam. dan secara otomatis kegiatan membacaku terhenti saat matahari benar-benar hilang dan digantikan oleh sang bulan yang terpotong setengah. aku pun kembali mencari kegiatan untuk membunuh rasa bosan. musik yang tadi mengiringi kegiatan membacaku pun ikut dimatikan, kemudian ku ubah dengan membuka facebook. sinyalnya sangat jelek, naik-turun, hilang-muncul, membuatku kesal dan menekan-nekan handphone itu dengan agak keras. hal itu sontak membuat adikku marah, karna dia tidak ingin handphonenya rusak karnaku. wajar saja karna handphone yang kupegang adalah handphonenya, sedangkan aku tidak memiliki handphone lantaran rusak hingga hanya putih yang terlihat di layarnya. aku memang ceroboh dalam hal demikian.

dengan reaksinya yang seperti itu aku langsung meminta maaf dengan nada menyesal, berharap ia masih mau meminjamkannya padaku. setelah sinyalnya sudah cukup bagus, kembali aku berusaha membuka facebook yang tadi sempat tertunda. yang pertama ku lihat adalah notification yang cukup banyak terpampang di atas beranda, isinya tentang hal-hal yang menyangkut tentang ospek yang akan ku jalani nanti bersama teman-teman sejurusan, matematika. setelah selesai dengan semua notification itu aku langsung beralih mencari nama seseorang, TS. ia kakak senior satu fakultasku, namun tidak satu jurusan, aku matematika dia biologi. ia memberi banyak inspirasi kepadaku, bukan dengan sikapnya tapi dengan tulisan-tulisannya. jujur aku tidak mengenal siapa dia, bahkan aku takut untuk tau siapa dia. aku melihat note-notenya, dan terdapat note terbaru judulnya "Hujan yang Mewangi". note itu baru bisa ku baca ketika kami di pelabuhan, mengantri untuk masuk kapal yang siap mengangkut kami kembali ke pulau Jawa.

dalam note itu terdapat hal yang tersirat, yang kemudian dia bold dan italic sebagai penekanan olehnya. ceritanya memang tidak panjang, namun sunggu mengispirasi bagiku. meskipun ada beberapa kata yang tidak sependapat dengaku, namun itu bukanlah masalah. ia berpendapat kalau kita harus bisa mengambil kesempatan yang ada, tapi aku berpendaat kitalah yang harus membuat kesempatan kita sendiri. kadang situasi membuat kita lupa apa sebenarnya yang kita tuju hanya karna kesempatan yang seringkali menggiurkan namun kita belum siap menerimanya. mungkin akan sangat sayang untuk dilepas, tapi akan lebih sayang lagi jika kita menanggalkan apa yang menjadi tujuan awal demi hal yang belum tentu dapat kita pikul. memang terdengar agak pesimis, tapi masih ada banyak kesempatan jika kita memberikan jalan untuk kesempatan itu menghampiri kita. seringkali hal baik tidak didapat secara instan bukan? jangan buat situasi mengontrol kita, tapi buatlah situasi yang mengikuti kita. tapi hal ini bukan berarti kita harus menjadi penentang yang ekstrim, ingat! setiap tindakan harus bertanggung jawab dan dapat dipertanggung jawabkan kelak. (okay)

"berbicara memang lebih mudah dari pada melakukan, tetapi hal yang tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. mungkin saja, meski butuh pengorbanan ektra untuk mewujudkannya. semangat...!"

kembali ke topik,setelah membaca note itu aku menjadi lebih, lebih, dan lebih mensyukuri apa yang ku dapatkan kini. membuatku lebih sering membuat mimpi yang terus ku kejar agar tidak sekedar menjadi mimpi-mimpi belaka dan membuatku menunduk untuk terus bersyukur dengan apa yang telah diberikan Tuhan.

selang beberapa menit berlalu, mobil kami mulai berjalan memasuki kapal. mobil kami di lantai dua, membuat kami nyaman tanpa harus pergi ke atas kapal. angin sepoi-sepoi membuatku menendangkan lagu yang cukup memadai untuk suaraku yang sedang serak karna batuk. dua jam telah berlalu, pelabuhan merak telah terlihat. lampu-lampu di tepi selat terlihat berwarna-warni, berkelap-kelip seakan menjadi bintang di daratan yang gelap. tetapi kapal kami masih saja belum melabuh hingga tiga jam pun berlalu dengan kami terus mengapung tanpa ke tepi. ternyata kapal yang kami tumpangi sedang menunggu gilirannya karna banyak kapal yang juga ingin menepi.

selang satu jam itu aku sempat berbincang-bincang dengan seorang bapak-bapak yang usiannya (sepertinya) tidak jauh dari bapakku. namanya pak David, beliau dari Padang dan hendak menuju Bekasi. beliaulah yang pertamakali mengajakku berbincang-bicang, mungki karna melihatku bosan dan terus menyanyikan lagu yang sama berkali-kali, Demi Lovato - Cacth. awalnya pak David menanyakan asalku dan hendak kemana, lalu berlanjut dengan menceritakan tentangku, tentangnya dan tentang keluarganya. untuk sesaat aku terdiam sejenak, bertanya-tanya mengapa beliau menceritakan hal itu padaku. tentang keluarganya yang sudah tidak utuh, tentang anak pertamanya yang telah tiada dan tentangnya yang kini sedang cuti bekerja di Bangka. awalnya aku sangat canggung, karna aku tidak pandai dalam hal mengungkapkan. kadang apa yang ku ucap tidak seperti apa yang ada di otakku. hal ini membuatku takut kalau-kalau salah bicara pada beliau. tapi lama-kelamaan aku seperti melihat curahan di setiap kata-kata pak David yang membuatku fokus mendengarkannya. fikirku, mendengarkan akan lebih baik ketimbang aku berkata-kata yang tidak sesuai nantinya.

beliau menceritakan tentang istrinya yang kini bekerja sebagai guru SMP di Padang, yang telah berpisah lama dengannya. aku tidak berani menanyakan mengapa mereka berpisah. beliau juga menceritakan tentang anak pertamanya yang kini telah tiada, dengan kata andai di depannya beliau bilang kalau anaknya masih hidup mungkin dia akan duduk di bangku SMA kelas 3. seperti sebelumnya, aku tidak berani menanyakan karna apa anaknya meninggal. selama pak David bercerita yang kulakukan hanya diam dan mendengarkan. terlihat raut sedih di wajahnya yang telah menua dimakan usia, lalu setelah selesai bercerita beliau langsung tersenyum. seakan sedikit banyak ada hal yang dapat membuatnya lega dan tanpa kendala menghadapi semua masalah itu. aku pun ikut tersenyum. lalu beliau bertanya padaku tentang cita-cita yang ingin ku capai.

baliau mencetuskan kata Dosen, aku menjawab iya, aku mau menjadi dosen. tapi aku juga mau menjadi seorang aktuaris sukses. beliau memberi pendapatnya padaku tentang kedua pekerjaan itu. beliau bilang Dosen itu lebih memiliki wibawa, selain berbagi ilmu dosen juga memberikan banyak waktu untuk keluarga. sedangkan aktuaris memiliki sedikit kendala dalam hal pendapatan jika aku tidak pandai menarik nasabah. aku pun memberikan argumentku, kalau aku akan berusaha mencari nasabah sebanyak-banyaknya, kalau perlu aku menjadi dosen sekaligus agent asuransi. meski sekarang ini aku agak-agak bodoh dalam hal mengungkapakan tapi nanti insya Allah akan terbiasa. pak David tertawa, lalu tersenyum beliau bilang aku harus ikut satu jurusan lagi, yaitu jurusan "R". aku berucap dengan spontan menerka tentang jurusan "R" itu, "jurusan rajin pak", pekikku dengan semangat. "itu mah semua fakultas harus punya", tambahku dengan santai namun berusaha sesopan mungkin. pak David tersenyum lagi lalu menyetujui apa yang ku ucap dan berkata kalau aku sudah cukup baik dalam hal komunikasi.

sejenak ku lihat beliau seperti berharap, lalu berkata seakan memberi wejangan pada anaknya. "kamu harus rajin belajar, tamatkan kuliahmu, bekerja lalu menikah. jangan terfokus untuk karir saja lalu melupakan keluarga.", wejangannya yang memberikan kesan bahwa beliau merindukan keluarganya. aku agak canggung menerima wejangan itu, karna aku tidak tahu harus berkata apa selain kata "iya, insya Allah pak" sambil tersenyum.

tak berapa lama kapal kami menepi ke dermaga, membuat percakapan kami selesai. sebelum aku pergi memasuki mobil aku bertemikasih, berpamitan, salim, lalu mengucapkan salam dan kemudian mendur beberapa langkah lalu berbalik menuju mobil yang tak jauh dari sana. melihat, mendengar dan merasakan sikap pak David tadi membuatku teringat akan note yang ada di facebook kak Tirta, "Hujan yang Mewangi". topiknya tidak jauh berlainan, membicarakan tentang kesempatan, hanya saja ada sedikit perbedaan di sana. dalam kisah kak Tirta sang bapak penjual minyak wangi itu kesempatannya terlepas  karna terlalu hanyut dengan kepandaian yang dimiliki beliau namun dapat melihat anaknya sukses meneruskan cita-cita beliau yang sempat tertunda. sedangkan pak David, beliau mendapatkan kesempatannya untuk menjadi sukses namun terlalu hanyut dalam kesuksesannya yang membuat sisi lain kehidupannya gagal.

kesimpulan yang kudapat, menurutku.
kesempatan akan memberimu sebuat pilihan dengan banyak kemungkinan, entah engkau gagal lalu kemudian sukses, entah sukses lalu kemudian gagal, entah gagal lalu terus terpuruk dengan kegagaglannya, atau mungkin sukses dan terus sukses di sisi keidupan lainnya karna keseimbangan yang dijaga. entah, tapi semua itu hanya akan terus menjadi kemungkinan yang mengarahkan kita ke salah satunya atau mungkin kitalah yang mengarahkan diri ke salah satunya. semua tergantung pada apa yang kita pilih dan kita lakukan. ketika kita memilih sesuatu, kita akan mendapat keuntungan sekaligus resiko atas apa yang telah kita jalani. jadi bertanggung jawablah, dan tetap berpegang teguh pada Tuhan agar kita terus mendapatkan rahmat-Nya atas apa yang kita lakukan. (Aamiin..)

dan syukur alhamdulillah kami sampai di Depok dengan utuh pukul setengah enam pagi tadi dan dapat berbagi apa yang ku alami selama perjalanan menuju kemari. meski tidak detil, tapi ku harap hal itu cukup berharga.

"Inspirasi tidak hanya datang dari orang-orang berdasi tapi bisa dari mana saja, bahkan mungkin dari seseorang yang sering kali terabaikan. jangan lihat siapa yang berbicara, tapi lihat apa yang ia bicarakan." -Bril