Tampilkan postingan dengan label MD(DiD). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MD(DiD). Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juli 2015

My Depressed (Dream in Dream) (3)

layar menjadi gelap lalu kembali terang, memperlihatkan adegan lainnya dari kenangan masa silam.
~!@#$%^&*()_+
perlahan semua sepupu pulang ke rumah masing masing, tak banyak yang tersisa dari sepekan saling mengenal melalui kerja mengerjai. keakraban yang kini terasa terlambat, tapi membuat kami saling merindukan.
“waktu pertama kita ketemu, aku ngerasa kamu itu cewe ngeselin, nyebelin, anta, ga banyak omong, dingin, ga gaul, banyaklah”, ujarnya sambil tersenyum dan melihat ekspresiku yang mengkerut. “tapi sekarang beda, ternyata kamu itu menyenangkan, meski kadang masih tetap menyebalkan”
“sama aja, aku kira kamu itu cowo yang sok ganteng, suka tebar pesona, ngeselin, nyebelin, pengen banget minta tabok, dan lain sebagainya”, jawabku yang tarsenyum. “Dan ternyata emang kamu itu cowo yang sok kegantengan dan suka tebar pesona, dan sok imut”, tambahku menertawakan ekspresinya yang berharap untuk dipuji.
“yah, gimana dong. aku kan emang ganteng. senyum aja banyak yang terpesona, jadi gak perlu tebar pesona.” kalimatnya yang buatku melempar tumpukan bantal di kursi ruang tamu.
~!@#$%^&*()_+
semakin lama tiap bagian yang ku lihat memperlihatkan kedekatan kami, lalu kerenggangan yang mulai mencuat.
~!@#$%^&*()_+
0XXXXXXX123X: Sabtu nanti ada acara?
Me: maaf dengan siapa ini?
0XXXXXXX123X: ini aku, Kemal
Me: kenapa?
0XXXXXXX123X: mau nonton?
Me: boleh
~!@#$%^&*()_+
tak ada film yang bisa kami tonton bersama saat itu, tiketnya habis. alhasil kami pergi ke timezone, menghabiskan waktu dengan bermain basket. aku tidak suka basket, tapi entah mengapa tiap kali ke timezone permainan basket tak pernah terlewatkan olehku. lain cerita dengan DDR, aku sangat suka, tapi sangat jarang aku mainkan.
perjalanan pulang kami terjebak hujan. ya, seperti drama, FTV, dia meminjamkanku jaket, dan membawakanku mie dalam gelas untuk sekedar menghangatan diri. kami berteduh di deretan ruko yang tengah tutup, sebuah bank milik negara, sambil duduk bersebelahan berjarak 2 buah helm. tak banyak yang terucap, seakan masing masing tengah menikmati iringan melodi dari rintik hujan di depan mata.
“mungkin nanti aku akan bekerja di bank, dan bisa saja membeli mobil suatu hari nanti. sampai saat itu tiba, kita akan sering berteduh seperti ini”, suasana terpecah dengan ucapan yang buatku terpanah, ‘kita’.
“hah? kita? kamu aja sendiri. hu........ pegel tau gak bisa nyender, basah, polusi, dll”, godaku sambil tersenyum padanya.
“ralat, gak jadi kita tapi kamu dan aku” semeringah senyum kudanya buatku tersenyum lagi. “kalo pegel sini lah, kan pundakku terbuka lebar”
layar kembali meredup, menyisakan senyum kami yangberbincang sambil menanti hujan reda. aku merindukan itu. 
~!@#$%^&*()_+
part selanjutnya memperlihatkan aku yang menunggu di dekat statiun, lengkap menggunakan seragam sekolah yang masih terpakai rapih.
aku menunggu, melihat pintu keluar tiap kali kereta berhenti. sesekali melihat jam lalu memandang ponsel, apakah ada pesan? atau sebaiknya aku mengirikan pesan? entahlah.
kumandang adzan magrib menyadarkanku, bertapa aku berdiri lama di sana dan tak ada seorang pun yang datang. 
“cepat pulang, sudah jam segini. kamu dimana sih?”, suara ibu memaksaku untuk segera pergi tanpa bertemu dia.
apa terjadi sesuatu? atau mungkin dia lupa? pasti dia sudah datang dan mengerjaiku. pasti begitu, lihat saja nanti, akan ku hajar dia. 
tak ada sosok yang kutunggu di rumah, dan entah mengapa terasa sakit, sakit sekali. tapi aku tetap menganggap itu salahku yang tidak menghubunginya. tapi jujur aku marah, rasanya ingin memaki dirinya. ini bukan yang pertama dia ingkar janji padaku, ini kesekian kalinya.
sejak kerjasama bisnis keluarga kami putus, hubungan kami pun tak lagi seharmonis dulu. tapi mengapa berimbas padaku?
~!@#$%^&*()_+
Kemal: ayo kita bertemu
Me: ah, palingan kamu lupa lagi nanti
Kemal: janji, kali ini jadi.
Me: beneran?
Kemal: iya
Me: dimana?
~!@#$%^&*()_+
aku rasa dia tidak akan datang, seperti sebelum sebelumnya. sudah sering terjadi, tapi aku tetap datang. berturut turut terjadi, tapi tetap ku menyakini dia akan datang.
aku sudah menunggunya 4 jam, tapi tak ada kabar. bodoh, tetapi tetap ku jalani. entahlah.
Kemal: kamu dimana?
Me: kamu dimana?
Kemal: foodcourt dekat lift
Me: aku ke sana.
dia melihatku, melambaikan tangan dengan senyum yang ku rindukan. rasanya penantian itu begitu berbuah manis.
”udah lama ya?”, ujarnya
“lumanyan buat maraton Monas 10 kali”
“maaf deh”, pintanya dengan sok imut lalu melambaikan tangan lagi engan senyum ke arah dimana aku datang.
refleksku menoleh, seorang gadis cantik.
~!@#$%^&*()_+
.....(4)

Minggu, 19 Juli 2015

My Depressed (Dream in Dream) (1) (2)...

pernahkah kau merasa tertekan? rasanya tak ada yang bisa membantumu menyelesaikan masalah. semua terasa terbentur oleh kenyataan. rasanya air mata selalu mengalir karena tekanan yang dirasakan?
aku merasakannya. tak ada yang terbersit di kepala, hanya ingin tidur menghilangkan semua masalah. ya, tak terbersit apapun. termasuk tentangnya.
~!@#$%^&*()_+
     “apa yang kamu kerjain?”, tanyanya padaku.
     “kepo”
tak ada yang ia tanyakan lagi, ia hanya memperhatikanku, mengamati yang ku kerjakan.
     “oh, anime toh. aku juga bisa. liat nih Na”
dia tidak memperbolehkanku melihat apa yang ia gambar. menggambar dan memperhatikanku. jujur, rasa penasaranku memuncak. aku memaksanya memperlihatkan padaku.
     “sebentar lagi, sabar…..”
     “sekarang, mau liatnya sekarang!!!”, menarik narik baju putihnya.
     “bawel…..”
meskipun marah, ia tetap tidak memperlihatkannya padaku. aku kesal, sangat kesal dan aku pergi meninggalkannya menuju dapur, sekedar mencari minum untuk menenangkan emosi.
     “nih….”, berinya padaku yang tak ku gubris sama sekali. “jangan marah, liat dong. halaman ke 2″, lanjutnya dan tetap tak ku gubris.
dia membuka halaman ke dua dan memaksaku melihatnya, sungguh itu membuatku tersipu. itu gambar diriku yang sedang kesal, lucu sekali.
     “jelek”, ujarku sambil pergi.
     “hu….. masa?”, godanya yang tetap tak ku gubris. “lain kali aku buat yang lebih baik, tapi sabar dong”, tangannya menarikku yang membelakanginya untuk pergi dan memberikan gambar itu padaku.
aku memajangnya di binder sekolahku. ku jadikan cover, aku menyukainya. sangat menyukainya.
aku memeluknya saat tidur malam itu, ya malam itu.
~!@#$%^&*()_+
……(2)
Aku seperti melihat sebuah film yang memutarkan semua kenangan kami. Tiap kali terlelap, tiap kali itu pula scene berubah menuju cerita lainnya.
     “kenapa bajuku ada di lemari kamu?”, ujarnya menuduh
     “mana aku tau, aku hanya melipatnya bukan menaruhnya. Yang menaruhnya kan kamu sendiri. Lagi pula salah sendiri kenapa tidak mengeceknya dahulu”
     “tapikan kamu tau mana baju kamu dan bukan, lagi pula itu digantung setelah disetrika”
     “mana aku tau, mungkin ada yang menaruhnya di lemariku”, tatapanku tertuju pada Citra, keponakan terkecil yang paling centil dan sangat mengagumi dia.
     “kalian kenapa sih? Kenapa ribut?”, bibi datang mendengan keributan di kamarku.
     “dia ngumpetin baju aku bi, udah gitu gak mau ngaku lagi”, dia mencari pembelaan dengan ekspresi yang sok imut.
     “OMG, kenapa aku harus berurusan dengannya”
     “aku gak tau kenapa itu baju ada di lemariku. Abis ngelipet aku baca buku di kamar dan gak kemana mana”, pembelaan yang bercuat emosi. “iya kan, aku di sini dari tadi”, lanjutku mencari pembelaan pada yang lainnya, sepupu sepupuku.
Mereka hanya berpandangan dengan mengedipkan mata lalu menggeleng, tanda melepaskan semuanya padaku.
     “fine, mau kalian aku bantu kallian buat ngerjain dia kan. Oke. Aku ikut”, ujar dalam hati.
~!@#$%^&*()_+
     “Na, bantuin ngerjain dia dong. Dia kan dateng bareng kamu, yuk ayuk.”, pinta Amanda padaku.
     “iya dong Na, aku kan mau lebih deket sama kak Kemal”, Citra ikut menambahkan dan menacing reaksi yang lain menatapnya dengan heran.
     “gak mau, gak mau berurusan sama dia”
     “kenapa? Ayolah… dia kan ngeselin, sok cakep, sok gaul, senyumnya pengen banget minta kerjain”, Aninda seakan membela Amanda, saudara kembarnya.
     “karena itu, aku males. Nanti dia keGRan, makin sok cakep, makin tebar pesona”
     “kalau dia bikin masalah sama kak Nana gimana?”, Kinan melontarkan pertaanyaan dengan logat daerahnya.
     “buat apa dia bikin masalah sama aku? Dia terlalu sibuk mengurusi rambutnya”, jawabkku sambil membalik halaman buku.
     “Ada yang liat bajuku?, tiba tiba yang dibicarakan muncul bertelanjang dada.
     “warna apa kak?”, Kinan bertanya seakan tak tahu
     “warna biru yang tadi abis disertikan dan digantung deket jendela kamar seberang”
     “yang ada gambar kayak rusa gitu kak?”, Citra yang centil menambahkan.
dia mengagguk dengan sok imut pada Citra, membuatku mebuang muka dan kembali fokus pada bukuku.
     “tadi aku liat di lemari kak Nana kayaknya ada baju itu.”, ujar Citra dengan penuh keyakinan.
Mendengar hal itu aku langsung menutup buku, “masa? Gak mungkin”
     “ini bukan?”, Aninda memperlihatkan baju itu.
     “iya, kok bisa ada di lemari kamu”
Keributan terjadi, sebeneranya aku tau ini pasti kerjaan Kinan dan Citra untuk membujukku membantu mereka mengerjain Kemal. Sebenarnya aku tetap tidak mau, hanya saja gaya dia yang seakan aku ingin sekali menarik perhatiannya yang buatku gerah. Ingin mencabiknya. Tuhan………
~!@#$%^&*()_+
…..(3)