Minggu, 19 Juli 2015

My Depressed (Dream in Dream) (1) (2)...

pernahkah kau merasa tertekan? rasanya tak ada yang bisa membantumu menyelesaikan masalah. semua terasa terbentur oleh kenyataan. rasanya air mata selalu mengalir karena tekanan yang dirasakan?
aku merasakannya. tak ada yang terbersit di kepala, hanya ingin tidur menghilangkan semua masalah. ya, tak terbersit apapun. termasuk tentangnya.
~!@#$%^&*()_+
     “apa yang kamu kerjain?”, tanyanya padaku.
     “kepo”
tak ada yang ia tanyakan lagi, ia hanya memperhatikanku, mengamati yang ku kerjakan.
     “oh, anime toh. aku juga bisa. liat nih Na”
dia tidak memperbolehkanku melihat apa yang ia gambar. menggambar dan memperhatikanku. jujur, rasa penasaranku memuncak. aku memaksanya memperlihatkan padaku.
     “sebentar lagi, sabar…..”
     “sekarang, mau liatnya sekarang!!!”, menarik narik baju putihnya.
     “bawel…..”
meskipun marah, ia tetap tidak memperlihatkannya padaku. aku kesal, sangat kesal dan aku pergi meninggalkannya menuju dapur, sekedar mencari minum untuk menenangkan emosi.
     “nih….”, berinya padaku yang tak ku gubris sama sekali. “jangan marah, liat dong. halaman ke 2″, lanjutnya dan tetap tak ku gubris.
dia membuka halaman ke dua dan memaksaku melihatnya, sungguh itu membuatku tersipu. itu gambar diriku yang sedang kesal, lucu sekali.
     “jelek”, ujarku sambil pergi.
     “hu….. masa?”, godanya yang tetap tak ku gubris. “lain kali aku buat yang lebih baik, tapi sabar dong”, tangannya menarikku yang membelakanginya untuk pergi dan memberikan gambar itu padaku.
aku memajangnya di binder sekolahku. ku jadikan cover, aku menyukainya. sangat menyukainya.
aku memeluknya saat tidur malam itu, ya malam itu.
~!@#$%^&*()_+
……(2)
Aku seperti melihat sebuah film yang memutarkan semua kenangan kami. Tiap kali terlelap, tiap kali itu pula scene berubah menuju cerita lainnya.
     “kenapa bajuku ada di lemari kamu?”, ujarnya menuduh
     “mana aku tau, aku hanya melipatnya bukan menaruhnya. Yang menaruhnya kan kamu sendiri. Lagi pula salah sendiri kenapa tidak mengeceknya dahulu”
     “tapikan kamu tau mana baju kamu dan bukan, lagi pula itu digantung setelah disetrika”
     “mana aku tau, mungkin ada yang menaruhnya di lemariku”, tatapanku tertuju pada Citra, keponakan terkecil yang paling centil dan sangat mengagumi dia.
     “kalian kenapa sih? Kenapa ribut?”, bibi datang mendengan keributan di kamarku.
     “dia ngumpetin baju aku bi, udah gitu gak mau ngaku lagi”, dia mencari pembelaan dengan ekspresi yang sok imut.
     “OMG, kenapa aku harus berurusan dengannya”
     “aku gak tau kenapa itu baju ada di lemariku. Abis ngelipet aku baca buku di kamar dan gak kemana mana”, pembelaan yang bercuat emosi. “iya kan, aku di sini dari tadi”, lanjutku mencari pembelaan pada yang lainnya, sepupu sepupuku.
Mereka hanya berpandangan dengan mengedipkan mata lalu menggeleng, tanda melepaskan semuanya padaku.
     “fine, mau kalian aku bantu kallian buat ngerjain dia kan. Oke. Aku ikut”, ujar dalam hati.
~!@#$%^&*()_+
     “Na, bantuin ngerjain dia dong. Dia kan dateng bareng kamu, yuk ayuk.”, pinta Amanda padaku.
     “iya dong Na, aku kan mau lebih deket sama kak Kemal”, Citra ikut menambahkan dan menacing reaksi yang lain menatapnya dengan heran.
     “gak mau, gak mau berurusan sama dia”
     “kenapa? Ayolah… dia kan ngeselin, sok cakep, sok gaul, senyumnya pengen banget minta kerjain”, Aninda seakan membela Amanda, saudara kembarnya.
     “karena itu, aku males. Nanti dia keGRan, makin sok cakep, makin tebar pesona”
     “kalau dia bikin masalah sama kak Nana gimana?”, Kinan melontarkan pertaanyaan dengan logat daerahnya.
     “buat apa dia bikin masalah sama aku? Dia terlalu sibuk mengurusi rambutnya”, jawabkku sambil membalik halaman buku.
     “Ada yang liat bajuku?, tiba tiba yang dibicarakan muncul bertelanjang dada.
     “warna apa kak?”, Kinan bertanya seakan tak tahu
     “warna biru yang tadi abis disertikan dan digantung deket jendela kamar seberang”
     “yang ada gambar kayak rusa gitu kak?”, Citra yang centil menambahkan.
dia mengagguk dengan sok imut pada Citra, membuatku mebuang muka dan kembali fokus pada bukuku.
     “tadi aku liat di lemari kak Nana kayaknya ada baju itu.”, ujar Citra dengan penuh keyakinan.
Mendengar hal itu aku langsung menutup buku, “masa? Gak mungkin”
     “ini bukan?”, Aninda memperlihatkan baju itu.
     “iya, kok bisa ada di lemari kamu”
Keributan terjadi, sebeneranya aku tau ini pasti kerjaan Kinan dan Citra untuk membujukku membantu mereka mengerjain Kemal. Sebenarnya aku tetap tidak mau, hanya saja gaya dia yang seakan aku ingin sekali menarik perhatiannya yang buatku gerah. Ingin mencabiknya. Tuhan………
~!@#$%^&*()_+
…..(3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar