“Ra,
temenin gue ke premier filmnya Andri dong”, pinta Nina
“Ampun
Na, lu kan lagi sakit. Ya kali nonton film di bioskop”
“Ini
beda, Andrinya dateng, lagi pula sakitnya gak parah-parah amat kok Cuma flu”
“Pret
flu...”
“Dari
pada gue penasaran dan makin sakiK gimana? Ayo dong Ra, please.....”, ujar Nina
dengan manja.
“Lebeh
lu cin. Lagi pula gue bukan dokter mbak e, tanya you punya dokter lah”, Rara
menghindar untuk mengiyakan.
~!@#$%^&*()_+
Rara dan Nina, dua orang gadis
yang bersahabat sejak SMP. Meski kini mereka beraDa di SMA yang sama, sayangnya
mereka tidak sekelas, but itu bukan
masalah besar untuk keduanya.
Nina salah satu penggemar Andri
Hermawan, seorang artis baru yang namanya meroket tajam berkat tampang dan talent yang menumpuk, baik di dunia seni
peran, musik maupun dance. Paket lengkap
untuk remaja ababil yang haus pengen punya pacar super, tak terkecuali Nina.
Meskipun Nina dan Rara
bersahabat, dan meskipun Nina amat sangat menyukai Andri. Rara yang sangat
bertolak belakang dengan Nina, sangat enggan dengan Andri yang baginya bodoh,
tampan, berakat, tapi tidak mau sekolah.
~!@#$%^&*()_+
Bioskop Mall Pondok Indah ini sangat
sesak, lantaran priemier film yang diintangi Andri akan diputar kurang dari
satu jam. Di keramaian itu terdapat dua sosok gadis bersama seorang lelaki yang
lebih dewasa. Sang pria hanya diam mengawasi tingkah laku para gadis di
depannya yang sangat bertolak belakang. Seorang gadis memakai jins, sepatu
kets, kaos, dan terlihat headset putih tercantol di telinganya. Gadis yang
satunya lagi begitu feminim, dengan kaos berenda, rok selutut, flat shoes dan tas manis yang senada
dengan sepatunya, yang begitu antusias ketika Andri muncul di sudut keramaian.
“Ra,
itu Andri..... Ra. Ayo ke sana Ra. Kak, ayo ke sana kak”, teriak Nina
histeris sambil menarik-narik tangan Rara serta Bima.
“Iya
iya, sabar neng sabar”, ujar Rara yang kini berdesakan menuju Andri.
Bima yang khawatir dengan
Nina mencoba menjaganya agar tidak terjepit begitu sesak dengan yang lain. Selain
rasa sayanganya pada Nina, juga karena tugasnya menjaga Nina agar tetap
terjaga.
“Hai
semua......”, pembuka dari Andri yang membuat fansnya memekik menjawab
serentak.
“Waw,
kalian bersemangat sekali, saya juga jadi bersemangat berkat kalian”, senyumnya
menebar laksana aroma mawar di pagi hari bagi fansnya. “Sebelumnya terimakasih
sudah hadir di sini untuk bersama-sama menonton premier film ‘Kekasih Hati’,
dan sungguh saya sangat amat senang karena antusias teman-teman sekarang ini. Jadi
gak sabar untuk menonton bersama. Andri’s Power gimana?”
Sekali lagi pekikan para gadis ababil
memecah kesunyian sesaat setelah Andri bertanya.
“Na,
lu gak papa? Lu udah pucet tuh”, tanya Rara di tengah kerumunan yang makin
menjadi.
“Gue
sehat banget, lu liat dong. Bahagia gini masa pucet”
“Kamu
beneran gak papa?”, kini Bima yang turut memastikan
“Aduh,
kalian nih tenang aja keles. Aku gak papa, nanti kalo gak kuat pasti bilang kok”,
protes Nina yang keras kepala.
Tak lama, mereka semua masuk dan
menonton film. Kebetulan, kursi Nina, Rara, dan Bima tepat berada di belakang
para pemain serta kru film, yang membuat Nina menjerit kegirangan tanpa suara.
Di tengah film berlangsung, Bima
menerima telepon dari ayah Nina, dan dengan terpaksa menuju pintu masuk untuk
mencari kesunyian tanpa keluar ruangan. Saat Bima pergi, tak lama Anri
dan managernya keluar dari ruangan tanpa banyak yang sadar kecuali Nina yang
tepat dibelakangnya. Dengan sigap Nina mengikuti jejak Andri, Rara yang tak
banyak pilihan memutuskan untuk mengikutin Nina sebagai pengganti Bima menjaga
Nina.
“Andri,
boleh minta foto bareng?”, pinta Nina dengan penuh harap pada Andri.
“Tentu”,
jawabnya dengan tebaran senyum. “Kak tolong fotoin kami”, lanjutnya memberi
kamera pada sang manager.
“Kamu
gak ikut?”, tanya sang manager pada Rara.
“Gak kak, makasih. Biar Nina dan Andi aja”
“Andri,
Ra. Namanya Andri”, protes Nina karena Rara salah menyebut nama.
“Terserah”,
bisik Rara yang terdengar oleh semua karena lorong yang sepi.
“1,
2, 3. Lagi... 1, 2, 3”, intruksi sang manager. “Kamu beneran gak ikut?”,
tanyanya lagi pada Rara.
“Gak
kak, makasih”
“Ayo
dong Ra, ikut”, pinta Nina yang diiringi Andri.
“Gak
mau”, kekeh Rara
Tanpa basa basi Nina menarik Rara
dengan paksa, “Ayo kak tolong difoto”.
“Makasih,
maaf merepotkan”, Nina mengucap degan senyum yang sumeringah.
“Sama-sama,
terimakasih sudah hadir”, balas Andri yang juga tersenyum. “Kamu sakit? Ehm....”
“Nina,
namaku Nina”, perkenalan yang terjadi dengan tak sengaja. “Aku gak papa kok”
“Beneran?
Kalau begitu saya duluan”
Baru beberapa langkah Andri dan
sang manager membelakangi Nina dan Rara, terdengan suara Rara yang panik
memanggil nama Nina.
“Na,
Nina bangun Na!”, pangil Rara pada Nina yang tergeletak pucat dipangkuannya.
Dengan panik Rara mencari handphone di kantongnya, mencoba
menelpon Bima, tetapi nadanya sibuk. Andri dan sang manager yang kini kembali
menghampiri mereka turut panik dan berinisiatif membawa Nina ke rumah sakit.
Dengan menggunakan mobil Andri
mereka bergegas pergi ke rumah sakit terdekat. Rara yang tidak bisa berbuat
banyak terus berusaha menelpon Bima yang masih saja pada nada sibuk.
“Nina
kenapa?”, tanya Andri.
Tak ada jawaban dari Rara, dia
masih sibuk dengan handphonenya. “Bim,
Nina pingsan. Sekarang kita lagi menuju rumah sakit Pondok Indah”
Suasana mobil hening, kurang dari
20 menit mereka sampai di rumah sakit tujuan. Nina dibawa ke UGD, Rara, Andri,
dan manager menunggu di depan pintu.
“Dri,
kita harus pergi”, sang manager mengingatkan
“Bisa
kita batalin pertemuannya? Gue pengen tetep di sini”
“Tidak
bisa, hari ini casting terakhir”,
sang manager mengingatkan.
Seperti arus tsunami, wartawan
yang tadi memergoki Andri menggendong Nina menyerbu seakan tak melihat kondisi, bahwa sekarang berada di depan UGD. Blits kamera, perekam, microfone, dan berbagai
pertanyaan menyeru tak kenal ampun.
“Maaf,
ini rumah sakit. Bisakah kalian pergi dari sini?”, pinta Rara menahan geram.
“Teman-teman
wartawan, bisa tunggu di luar. Nanti kita bicara di luar. OK?!”, intruksi Andri
dengan lebut dan menebar pesonanya.
Wartawan yang cukup mengerti
perlahan melangkah pergi, menunggu Andri di luar. Sang manager yang terus saja
mengingatkan Andri terkait casting film
terbaru tak kunjung membuat emosi Rara makin menukik naik.
“Mending
lu juga pergi deh, hadirin casting itu
dan berhenti untuk berisik”
“OK,
sorry berisik. Titip salam buat Nina”, Andri dan sang manager pun pergi menuju tepat
cashting dengan terlebih dahulu
menemui para wartawan di depan rumah sakit, sekedar menepati janji untuk
menjaga image.
~!@#$%^&*()_+
“Dia
itu artis baru, tapi sudah berani tidak meghargai waktu. Bagaimana sih. Cashting sudah ditutup”, pak Hendro
memarahi kak Yuan, sang manager Andri.
Andri telat hampir satu jam, waktu
yang tidak sebentar untuk menunggu sang kandidat utama pemegang peran.
Sebenarnya cashting hanyalah
formalitas baginya, jika saja dia datang tepat waktu. Karena secara talent dia memang berbakat, dan sang
penulis sangat ingin mengajaknya bekerja sama.
“Maaf,
tapi tadi kami mengantar salah seorang fans yang tiba-tiba sakit”
“Maaf,
tapi saya tidak punya banyak waktu untuk alasan yang tidak masuk akal”, pak
Hendro keluar dan mengakhiri kesempatannya.
Di ruang tunggu terdapat sebuah
televisi yang sedang menyiarkan infotaiment terkini, tapat saat pak Hendro
lewat tepat pula di saat berita Andri yang mengantar Nina ke rumah sakit. Melihat
hal tersebut pak Hendro sempat memalingkan wajah pada Andri yang terngah
berdiri di dekatnnya.
“Siapa
yang sakit?”
“Namanya
Nina pak”
~!@#$%^&*()_+
Tidak ada komentar:
Posting Komentar