Tampilkan postingan dengan label Popular. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Popular. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Februari 2015

Popular (1)

                “Ra, temenin gue ke premier filmnya Andri dong”, pinta Nina

                “Ampun Na, lu kan lagi sakit. Ya kali nonton film di bioskop”

                “Ini beda, Andrinya dateng, lagi pula sakitnya gak parah-parah amat kok Cuma flu”

                “Pret flu...”

                “Dari pada gue penasaran dan makin sakiK gimana? Ayo dong Ra, please.....”, ujar Nina dengan manja.

                “Lebeh lu cin. Lagi pula gue bukan dokter mbak e, tanya you punya dokter lah”, Rara menghindar untuk mengiyakan.

~!@#$%^&*()_+

Rara dan Nina, dua orang gadis yang bersahabat sejak SMP. Meski kini mereka beraDa di SMA yang sama, sayangnya mereka tidak sekelas, but itu bukan masalah besar untuk keduanya.

Nina salah satu penggemar Andri Hermawan, seorang artis baru yang namanya meroket tajam berkat tampang dan talent yang menumpuk, baik di dunia seni peran, musik maupun dance. Paket lengkap untuk remaja ababil yang haus pengen punya pacar super, tak terkecuali Nina.

Meskipun Nina dan Rara bersahabat, dan meskipun Nina amat sangat menyukai Andri. Rara yang sangat bertolak belakang dengan Nina, sangat enggan dengan Andri yang baginya bodoh, tampan, berakat, tapi tidak mau sekolah.

~!@#$%^&*()_+

Bioskop Mall Pondok Indah ini sangat sesak, lantaran priemier film yang diintangi Andri akan diputar kurang dari satu jam. Di keramaian itu terdapat dua sosok gadis bersama seorang lelaki yang lebih dewasa. Sang pria hanya diam mengawasi tingkah laku para gadis di depannya yang sangat bertolak belakang. Seorang gadis memakai jins, sepatu kets, kaos, dan terlihat headset  putih tercantol di telinganya. Gadis yang satunya lagi begitu feminim, dengan kaos berenda, rok selutut, flat shoes dan tas manis yang senada dengan sepatunya, yang begitu antusias ketika Andri muncul di sudut keramaian.

                “Ra, itu Andri..... Ra. Ayo ke sana Ra. Kak, ayo ke sana kak”, teriak Nina histeris sambil menarik-narik tangan Rara serta Bima.

                “Iya iya, sabar neng sabar”, ujar Rara yang kini berdesakan menuju Andri.

Bima yang khawatir dengan Nina mencoba menjaganya agar tidak terjepit begitu sesak dengan yang lain. Selain rasa sayanganya pada Nina, juga karena tugasnya menjaga Nina agar tetap terjaga.

                “Hai semua......”, pembuka dari Andri yang membuat fansnya memekik menjawab serentak.

                “Waw, kalian bersemangat sekali, saya juga jadi bersemangat berkat kalian”, senyumnya menebar laksana aroma mawar di pagi hari bagi fansnya. “Sebelumnya terimakasih sudah hadir di sini untuk bersama-sama menonton premier film ‘Kekasih Hati’, dan sungguh saya sangat amat senang karena antusias teman-teman sekarang ini. Jadi gak sabar untuk menonton bersama. Andri’s Power gimana?”

Sekali lagi pekikan para gadis ababil memecah kesunyian sesaat setelah Andri bertanya.

                “Na, lu gak papa? Lu udah pucet tuh”, tanya Rara di tengah kerumunan yang makin menjadi.

                “Gue sehat banget, lu liat dong. Bahagia gini masa pucet”

                “Kamu beneran gak papa?”, kini Bima yang turut memastikan

                “Aduh, kalian nih tenang aja keles. Aku gak papa, nanti kalo gak kuat pasti bilang kok”, protes Nina yang keras kepala.

Tak lama, mereka semua masuk dan menonton film. Kebetulan, kursi Nina, Rara, dan Bima tepat berada di belakang para pemain serta kru film, yang membuat Nina menjerit kegirangan tanpa suara.

Di tengah film berlangsung, Bima menerima telepon dari ayah Nina, dan dengan terpaksa menuju pintu masuk untuk mencari kesunyian tanpa keluar ruangan. Saat Bima pergi, tak lama Anri dan managernya keluar dari ruangan tanpa banyak yang sadar kecuali Nina yang tepat dibelakangnya. Dengan sigap Nina mengikuti jejak Andri, Rara yang tak banyak pilihan memutuskan untuk mengikutin Nina sebagai pengganti Bima menjaga Nina.

                “Andri, boleh minta foto bareng?”, pinta Nina dengan penuh harap pada Andri.

                “Tentu”, jawabnya dengan tebaran senyum. “Kak tolong fotoin kami”, lanjutnya memberi kamera pada sang manager.

                “Kamu gak ikut?”, tanya sang manager pada Rara.

                “Gak kak, makasih. Biar Nina dan Andi aja”

                “Andri, Ra. Namanya Andri”, protes Nina karena Rara salah menyebut nama.

                “Terserah”, bisik Rara yang terdengar oleh semua karena lorong yang sepi.

                “1, 2, 3. Lagi... 1, 2, 3”, intruksi sang manager. “Kamu beneran gak ikut?”, tanyanya lagi pada Rara.

                “Gak kak, makasih”

                “Ayo dong Ra, ikut”, pinta Nina yang diiringi Andri.

                “Gak mau”, kekeh Rara

Tanpa basa basi Nina menarik Rara dengan paksa, “Ayo kak tolong difoto”.

                “Makasih, maaf merepotkan”, Nina mengucap degan senyum yang sumeringah.

                “Sama-sama, terimakasih sudah hadir”, balas Andri yang juga tersenyum. “Kamu sakit? Ehm....”

                “Nina, namaku Nina”, perkenalan yang terjadi dengan tak sengaja. “Aku gak papa kok”

                “Beneran? Kalau begitu saya duluan”

Baru beberapa langkah Andri dan sang manager membelakangi Nina dan Rara, terdengan suara Rara yang panik memanggil nama Nina.

                “Na, Nina bangun Na!”, pangil Rara pada Nina yang tergeletak pucat dipangkuannya.

Dengan panik Rara mencari handphone di kantongnya, mencoba menelpon Bima, tetapi nadanya sibuk. Andri dan sang manager yang kini kembali menghampiri mereka turut panik dan berinisiatif membawa Nina ke rumah sakit.

Dengan menggunakan mobil Andri mereka bergegas pergi ke rumah sakit terdekat. Rara yang tidak bisa berbuat banyak terus berusaha menelpon Bima yang masih saja pada nada sibuk.

                “Nina kenapa?”, tanya Andri.

Tak ada jawaban dari Rara, dia masih sibuk dengan handphonenya. “Bim, Nina pingsan. Sekarang kita lagi menuju rumah sakit Pondok Indah”

Suasana mobil hening, kurang dari 20 menit mereka sampai di rumah sakit tujuan. Nina dibawa ke UGD, Rara, Andri, dan manager menunggu di depan pintu.

                “Dri, kita harus pergi”, sang manager mengingatkan

                “Bisa kita batalin pertemuannya? Gue pengen tetep di sini”

                “Tidak bisa, hari ini casting terakhir”, sang manager mengingatkan.

Seperti arus tsunami, wartawan yang tadi memergoki Andri menggendong Nina menyerbu seakan tak melihat kondisi, bahwa sekarang berada di depan UGD. Blits kamera, perekam, microfone, dan berbagai pertanyaan menyeru tak kenal ampun.

                “Maaf, ini rumah sakit. Bisakah kalian pergi dari sini?”, pinta Rara menahan geram.

                “Teman-teman wartawan, bisa tunggu di luar. Nanti kita bicara di luar. OK?!”, intruksi Andri dengan lebut dan menebar pesonanya.

Wartawan yang cukup mengerti perlahan melangkah pergi, menunggu Andri di luar. Sang manager yang terus saja mengingatkan Andri terkait casting film terbaru tak kunjung membuat emosi Rara makin menukik naik.

                “Mending lu juga pergi deh, hadirin casting itu dan berhenti untuk berisik”

                “OK, sorry berisik. Titip salam buat Nina”, Andri dan sang manager pun pergi menuju tepat cashting dengan terlebih dahulu menemui para wartawan di depan rumah sakit, sekedar menepati janji untuk menjaga image.

~!@#$%^&*()_+

                “Dia itu artis baru, tapi sudah berani tidak meghargai waktu. Bagaimana sih. Cashting sudah ditutup”, pak Hendro memarahi kak Yuan, sang manager Andri.

Andri telat hampir satu jam, waktu yang tidak sebentar untuk menunggu sang kandidat utama pemegang peran. Sebenarnya cashting hanyalah formalitas baginya, jika saja dia datang tepat waktu. Karena secara talent dia memang berbakat, dan sang penulis sangat ingin mengajaknya bekerja sama.

                “Maaf, tapi tadi kami mengantar salah seorang fans yang tiba-tiba sakit”

                “Maaf, tapi saya tidak punya banyak waktu untuk alasan yang tidak masuk akal”, pak Hendro keluar dan mengakhiri kesempatannya.

Di ruang tunggu terdapat sebuah televisi yang sedang menyiarkan infotaiment terkini, tapat saat pak Hendro lewat tepat pula di saat berita Andri yang mengantar Nina ke rumah sakit. Melihat hal tersebut pak Hendro sempat memalingkan wajah pada Andri yang terngah berdiri di dekatnnya.

                “Siapa yang sakit?”

                “Namanya Nina pak”

~!@#$%^&*()_+